Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Olahraga Pagi


__ADS_3

"Ngapain ikut sih? Takut aku ilang ya!"


Alana berdecak kesal saat berlari disamping Alan. Pria itu akhirnya menemaninya mengelilingi komplek perumahan. Walaupun enggan, Alana hanya bersungut-sungut disepanjang olahraga mereka. Ia juga tidak nyaman bersama Alan. Pria itu terlalu menjadi pusat perhatian orang terutama gadis-gadis cabe-cabean yang tak sengaja mereka temui disepanjang jalan.


"Bisa jadi kamu kabur."


"Buat apa aku kabur!"


"Lupa kejadian kemarin? Perlu kuingatkan?"


Ahh, Alana hampir lupa. Baru beberapa hari lalu ia sengaja melarikan diri agar bisa terhindar dari aturan ketat Alan.


"Ya itu kan kemarin, kalo sekarang kan beda." kilah Alana.


"Sama. Orang yang melakukan juga sama kan." balas Alan.


Ingin rasanya Alana merobek mulut pedas pria itu! Selalu bisa membalas perkataannya. Memang menyebalkan atau dasarnya pria itu suka buat masalah? Ah, sungguh membuat Alana gila memikirkannya.


"Aku capek. Istirahat dulu."


Alana menghentikan langkahnya di bawah pohon palem. Udara serta sinar Mentari pagi menerpa wajah cantiknya yang penuh dengan keringat. Alana menyelonjorkan kaki dengan kedua tangan menahan tubuh dibelakang. Kepala menghadap keatas dengan mata terpejam. Sisa-sisa nafasnya terdengar tak beraturan. Melepas semua rasa lelah akibat berlari.


"Nih minum. Gitu aja capek."


Pria itu menyodorkan botol minuman dingin pada Alana. Dan duduk disampingnya. Kedua kakinya ditekuk seraya meminum minumannya sendiri. Mata berkeliling kekanan kekiri, melihat jalanan komplek. Ia seolah menemani sang istri seperti bodyguard 24 jam non stop. Alana heran sendiri, melihat perubahan sikap Alan yang perhatian seperti itu.


"Tidak kerja?"


"Siapa? Aku?"


"Siapa lagi." ketus Alana.


"Kamu lupa ini hari apa."

__ADS_1


"Sabtu?"


"Aku bukan bos jahat yang membiarkan pegawainya bekerja di hari weekend seperti ini. Ingat itu!" ucap Alan mengalihkan pandangannya ke jalan.


"Oh ya? Lalu siapa kemarin yang mau pecat pelayan seenaknya siapa saja? Yakin nih gak jahat?" goda Alana menyindir telak pria itu.


"Itu karena salah mereka."


"Mereka tidak salah. Aku yang salah karena pergi tanpa ijin."


"Jadi sekarang merasa mengakui kesalahan?" Alan melirikku dengan satu alis terangkat. Seolah dialah yang memenangkan perdebatan ini.


"Hishh! Iya iya aku salah! Menyebalkan!!" Alana memalingkan wajahnya tak mau menatap Alan.


"Banyak-banyaklah intropeksi diri. Kabur seperti itu bukan hal yang baik. Ingat, kamu masih punya orang tua yang setiap waktu mengkhawatirkanmu."


"Kenapa Tuan menyebalkan ini jadi sok bijaksana? Sejak kapan?" Walaupun ucapan Alan terkesan sok tahu, Alana akui jika ucapannya benar.


"Jadi kamu lebih suka aku galak?" balas Alan.


"Lalu apa yang kamu sukai?"


"Eh?" Pandangan mereka bertemu. Alana terkesiap saat ditatap Alan dengan sorot mata dalam. Begitupun dengan Alana, wanita itu tak mampu memalingkan wajah ditatap sedemikian rupa. Alana merasakan sebuah kenyamanan untuk pertama kali bersama Alan. Pandangan pria itu sungguh amat berbeda ketika pertama mereka bertemu. Sendu dan penuh kehangatan didalamnya. Ia suka tatapan itu tapi tak kuasa jika terus memandangnya.


"Hai Al."


Seorang pria bertubuh jakung tiba-tiba menghampiri mereka. Alana mendongak keatas. Ia melihat pria itu tengah berdiri didepannya. Berpakaian santai seperti Alan, rambutnya sedikit acakan. Memakai celana training pendek selutut, serta sepatu sport warna abu-abu putih. Wajahnya penuh peluh keringat dan sedang tersenyum pada Alana dengan lesung pipit dipipinya.


"Abhi?"


"Aku pikir salah orang. Ternyata ini memang kamu." ucap pria itu tanpa melepas senyum khasnya.


"Ngapain disini?" tanya Alana berdiri cepat.

__ADS_1


"Sama kayak kamu. Aku sedang olahraga."


"Tumben."


"Haha, kamu saja yang gak pernah lihat aku harus olahraga. Aku rutin melakukan ini setiap pagi Al." Abhi tertawa lucu ia hampir meletakkan tangannya di kepala Alana saat ekor matanya melihat gerakan disampingnya. Ia langsung menarik tangan itu cepat.


"Ehem! Sudah selesai obrolannya?" Alan sudah berdiri saling berhadapan dengan Abhi. Mereka saling pandang. Tatapan keduanya menajam, suasana berubah hening. Alana merasa udara sekitar berubah makin panas. Cuara cerah kini menjadi mendung diatas mereka. Ya hanya mereka saja.


"Tuan Alan disini juga ya. Maaf jika saya tidak melihat Anda." ujar Abhi menepiskan senyum miring.


"Tidak masalah. Saya memakluminya. Toh kita akan bertemu lagi, saya yakin anda  secara jelas melihat saya." balas Alan penuh makna.


"Maaf?" Abhi menatap bingung.


"Saya dan ayah Anda telah melakukan kerja sama, belum final memang tapi kurasa kita bisa memulai kerja sama itu dengan atau tanpa beliau. Anda akan melanjutkan apa yang telah ayah Anda sepakati dengan saya. Apalagi kita bertetangga sekarang. Sebuah kebetulan yang luar biasa. Ini akan menjadi permulaan yang bagus dalam hubungan bisnis ini." jelas Alan memaksakan sedikit senyum kecil disudut bibirnya. Ia melangkah mendekati Alana dan menyampirkan tangannya dipundak wanita itu. Ia tarik tubuh Alana agar makin menempel padanya. Tersenyum tanpa memperdulikan reaksi wanita disampingnya.


Tubuh Abhi tampak menegang. Ia palingkan wajah ke samping menolak melihat gadis itu dipeluk oleh pria yang ia tak sukai. Alan memang sengaja melakukannya. Abhi yakin, pria itu ingin membuatnya menerima kenyataan hubungan harmonis mereka. Mata tajam pria itu seolah berbicara 'Jangan berani dekati wanitaku, karena dia hanya milikku!' penuh dengan tatapan arogansi dan tak ingin dilawan.


"Apaan sih, lepas!" bisik Alana tak nyaman, ia berusaha beringsut dari pelukan Alan, namun pria itu justru mengetatkan tangannya dilengan atas tanpa membiarkan Alana lepas begitu saja.


"Ah, cuaca hari ini bagus. Sangat disayangkan jika disia-siakan begitu saja kan. Bagaimana kalau kita berlomba?" Ujar Abhi sengaja mengalihkan suasana canggung yang dibuat Alan. Ya, Abhi merasa tertantang untuk berlomba dengan pria itu. Mungkin ini pemikiran kekanakan, tapi rasanya Abhi ingin mengadu kemampuannya dengan pria didepannya ini. Siapa yang lebih unggul tentunya.


"Lomba seperti apa yang Anda mau." balas Alan seolah tak mau diremehkan.


"Haha... Jangan begitu formal padaku. Kita tidak sedang bekerja. Panggil namaku saja." ucap Abhi santai, ya dia ingin terlihat sebagai pria humble dan ramah didepan Alana. Suasana panas mereka hanya akan membuat wanita itu tak nyaman bukan. Lihat saja bagaimana Alana melihat mereka seolah sedang melihat orang sedang bersiap tawuran? Ckck. Wanita itu memang lucu kadang, pikir Abhi gemas.


"Kita lomba lari. Mulai dari sini sampai ujung pos ronda. Selanjutnya kembali kesini mencapai garis finish. Siapa paling cepat, dia pemenangnya." ujar Abhi.


"Oke. Aku setuju." jawab Alan mantap.


"Eh, tunggu! Kenapa kalian seenaknya mengadakan lomba dadakan begini?" protes Alana pada mereka.


"Al, kamu mau gak jadi wasit kita. Nanti aku traktir es krim deh." bujuk Abhi.

__ADS_1


Alan yang mendengar itu sontak maju selangkah mendekati Abhi. Kentara sekali tak senang atas kebaikan Abhi pada istrinya. Mereka berdua berdiri sejajar dan sama-sama menatap Alana. "Istriku tidak suka pemberian es krim dari orang luar." Kata-kata Alan terdengar dingin.


__ADS_2