Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Hampir Hilang Kendali


__ADS_3

"Apa yang kamu rencanakan? Katakan yang sebenarnya padaku. Apa alasanmu menikahiku!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu tahu dengan jelas alasanku menikahimu. Tentu karena orang tua kita!" balas Alan.


"Oh ya? Bukannya kamu orang yang berkuasa, kenapa tidak tolak saja pernikahan ini? Kamu bisa menikahi wanita yang bersamamu tadi,..."


"Jaga bicaramu! Sofia hanya sekretarisku!"


"Hanya sekretaris ya? Tapi kenapa aku melihat pandanga suka terhadapmu? Aku yakin kalian pasti memiliki hubungan spesial dimasa lalu. Sialnya kenapa aku yang harus menikah denganmu!!"


Grep!


Alan meraih tubuh Alana membawanya dalam pelukan. Alan semakin merapatkan tubuh mereka, hembusan nafas keduanya saling bersahutan. Alan menatap tajam Alana begitupun sebaliknya. Mereka diliputi emosi yang kapan saja bisa meluap.


"Jaga bicaramu sebelum aku hilang kesabaran." bisik Alan dengan nada mengancam. Rahangnya mengeras dengan gigi gemelatuk.


"Lepaskan aku! Aku tidak takut denganmu. Mau membunuhku, silakan! Ayo lakukan!" balas Alana dengan mata berkilat tajam. Tidak merasa takut pada Alan. Ia sudah memasrahkan diri dengan apapun yang pria itu akan lakukan. Jika ia mati sekarang, ia tidak peduli lagi. Mati karena membela diri baginya lebih terhormat dibanding harus merendahkan harga dirinya.


"Baiklah. Kamu yang minta."


Usai mengatakan itu, Alan langsung mendekatkan wajahnya ke Alana. Matanya tertuju pada bibir gadis itu.


"A-apa yang kamu lakukan?" Kedua mata Alana membola, ketika melihat Alan berusaha mencium dirinya. Ia langsung palingkan wajahnya sesaat sebelum bibir Alan menyentuh bibirnya.


"Kenapa? Kamu takut kucium?" kata Alan sembari tersenyum smirk. Senyuman yang membuat bulu kuduk Alana merinding.


"Jangan macam-macam ya! Lepaskan aku!" Alana memberontak, mendorong tubuh besar Alan. Namun pria itu tetap berdiri kokoh, tenaganya tak sekuat rengkuhan Alan padanya. Tangan Alan bagai gurita yang membelit kuat.


"Aku bilang lepaskan aku!"


Alana berusaha menyingkirkan tangan Alan di pinggangnya, namun pria itu tak mau melepaskan. Sejak tadi, mata Alan tertuju pada bibir ranum Alana. Bibir tipis dengan polesan lipstik nude terlihat menggiurkan untuk segera ia nikmati. Ia perlahan mendekatkan tubuh mereka hingga Alan merasakan kehangatan yang memacu adrenalinnya. Alana memiliki badan kecil, namun suhu tubuhnya mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Alan yang mencoba mendesak keluar.


"Lepas!" pinta Alana lagi. Gadis itu merasa tak nyaman.


Alana terus memberontak, menjauhkan wajahnya dari Alan. Berusaha tak disentuh pria itu. Tapi berbeda dengan Alan, pria itu terus memaksa mendekat, mengincar bibir Indah yang terus menggoda nafsunya.


"Lepaskan aku brengsek!"


Plak!!

__ADS_1


Tamparan keras mendarat sempurna diwajah pria itu.  Alana mulai kehilangan kesabaran. Ia melihat Alan lengah, kesempatan itu, ia gunakan untuk melepaskan diri.


'Apa dia marah? Kenapa wajahnya seperti itu?' Batin Alana menggeliat, wajahnya berubah panik, khawatir jika Alan marah atas perbuatannya. Ia melirik tangannya yang menampar wajah pria itu. Ia merasa bodoh telah melakukannya.


Namun, Hal yang ditakutkan tak kunjung terjadi, Reaksi Alan hanya diam mematung. Pria itu memegang wajahnya akibat tamparan keras darinya. Alana tak bisa melihat jelas ekpresi pria itu.


Sesaat Alana melihat tubuh Alan bergetar setelahnya. Tubuhnya tampak menegang. Alan mulai menguasai diri. Mungkinkah ia telah memancing kemarahan sang singa tidur? Ia merasa takut.


Tok tok!


"Pak Alan, apa anda didalam? Ini saya Felix."


Alan membalikkan tubuhnya. Ia perlahan mendekati pintu kamar dan membukanya. Sayup-sayup Alana bisa mendengar percakapan mereka.


"Ada apa kemari, aku tidak memanggilmu." ucap Alan.


"Saya dengar Anda ingin memecat para pelayan. Ada apa?"


"Kita bicarakan diruanganku."


Alan menoleh ke belakang, melihat kearah Alana yang masih berdiri.


"Tetap disini." perintahnya kemudian. Setelah mengatakan itu, Alan keluar dari kamar itu dan menutup pintu.


Alana tak mengira akan mendapat pelecehan dari suaminya. Ia hampir dicium olehnya. Kenapa pria itu melakukan itu? Apa Alan mulai menggila?


Ah, pria itu sungguh berbahaya. Kebanyakan pria jika diliputi hawa nafsu pasti melakukannya tanpa perasaan. Alan hanya ingin menyalurkan nafsunya saja. Sekaligus menghukumnya! Ya! Pria kejam tak punya hati seperti dirinya tidak akan punya perasaan Cinta pada siapapun!


Ceklek!


"Nona?" Susan melongokkan sedikit kepalanya di pintu.


"Susan! Kemarilah!" Alana berteriak dari dalam. Susan langsung masuk dan terkejut melihat Alana terduduk di lantai.


"Nona tidak apa-apa? Apa Pak Alan menyakiti Nona?" tanya Susan khawatir. Ia ikut duduk disamping Alana.


"Huuuu... Susan, peluk aku!"


Tangis Alana pecah. Ia memeluk Susan tanpa ragu. Menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Saya segera menelfon Pak Felix ketika tahu para pelayan dipecat Nona. Saya juga khawatir kalau Nona dihukum Pak Alan." ucap Susan.


"Huu, aku tidak apa-apa. Untung ada kamu Susi. Aku tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan padaku. Kamu tahu tidak!" Alana mendongakkan kepala, "Aku hampir dicium olehnya! Dia jahat Sus, dia jahat padaku! Huuuu..." Alana menumpahkan kesedihan dan ketakutannya pada Susan.


"Astaga Nona. Kalau Pak Alan melakukan itu, bukankah wajar ya. Dia suami Nona, yang gak wajar itu kalau Pak Alan melakukan KDRT. Justru itu yang saya takuti."


"Sama saja Sus! Aku tidak sudi disentuh pria itu! Aku benci dia! Benciiiii!!!"


Alana menangis tersedu-sedu. Susan mencoba menghiburnya. Setelah beberapa saat, Alana mulai lelah dan tertidur sendiri.


^


"Jadi Nona Alana kabur dengan seorang pria?"


Felix memastikan pendengarannya tidak salah. Alan menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini.


"Hem. Dan sialnya pria itu adalah anak dari klienku. Padahal kurang sedikit lagi aku akan mendapat tender darinya! Shiit!" kesal Alan hingga menggebrak meja didepannya.


"Cari siapa pria itu. Lalu Laporkan padaku." Alan menyerahkan berkas berisi file identitas kliennya. Ia yakin pria kemarin sore itu bukan orang sembarangan. Ayahnya saja memiliki bisnis diberbagai sektor industri. Pasti suatu saat bisnis itu akan dipegang oleh anaknya. Ia ingin tahu semuanya.


"Anda ingin saya mencari informasi tentang pria itu dan hubungannya dengan Nona?" tanya Felix.


"Ya! Aku tidak mau pria itu mendekati Alana. Bisa saja dia akan merusak pernikahanku. Kamu tahu bukan, warisan itu akan menjadi milikku jika pernikahanku sudah berjalan satu bulan. Dasar Tomi! Dia selalu telat mengatakan syarat tambahan!" gerutu Alan kesal pada pengacara almarhum ayahnya itu.


"Saya akan urus segera." Felix mengambil data klien bernama Jonathan. "Lalu, apa Anda jadi memecat para pelayan?"


"Menurutmu?"


"Saya pikir, tidak ada gunanya melakukannya. Itu bukan semata salah mereka, -"


"Bukan salah mereka katamu?!" potong Alan cepat. Merasa tak senang. "Tentu mereka turut andil dalam pelarian itu! Jika saja mereka pintar, mereka tidak akan membiarkan Alana pergi begitu saja! Bahkan pengawal yang kamu pilih malah dikunci didalam kamar mandi! Memalukan!" ujar Alan kesal.


"Saya akui, Nona Alana memang cerdik." ucap Felix mengagumi kepintaran istri atasannya. "Tapi saya pikir, tidak perlu kita memecat mereka. Anggap saja ini teguran, jika hal ini terjadi lagi, Anda bisa memecatnya. Setiap orang memiliki kesalahan masing-masing  dan berhak mendapat kesempatan." usul Felix bijak.


"Terserah kamu. Kepalaku pusing. Pergilah." ucap Alan sami memijat keningnya.


Felix undur diri, keluar dari ruangan. Menyisakan Alan yang kembali berpikir.


"Kenapa aku bisa memikirkan hal gila itu? Bagaimana  bisa aku ingin menciumnya?" Pikir Alan heran, terbayang adegan dikamar Alana. Ia sama sekali tak menyangka akan sejauh itu bertindak. Alan sejak awal mengenal Alana, tak sedikitpun ada perasaan ingin menyentuh gadis itu. Alan selalu menganggapnya anak kecil. Usia mereka terpaut sangat jauh. Lalu kenapa tiba-tiba ia ingin menyentuh bibir ranum Alana yang seolah menggoda jiwa kelelakiannya?

__ADS_1


Bibir itu sangat menggiurkan. Merekah seperti buah cerry segar di taman. Ingin ia makan dan merasakan nikmatnya. Jika saja... Jika saja bibir itu jadi miliknya... Mungkin setiap hari ia akan....


"Oh shitt!! Aku sudah gila!" umpat Alan frustasi.


__ADS_2