
"Tidak ada aturan semacam itu. Kamu yang harus menuruti aturanku." ucap Alan menolak keinginan Alana.
"Jika semua sesuai aturanmu, apa aku hanya jadi anjing peliharaan saja?" sarkas Alana. Menyindir Alan.
Alan berjalan mendekati Alana, mendekatkan wajahnya disisi gadis itu. Berbisik ditelinga, "Lebih baik kamu menuruti keinginan calon suamimu ini. Apa kamu mau kukembalikan orang tuamu ke desa? Meninggalkanmu sendiri disini?" seringai kecil menghiasi wajah Alan yang dingin.
Alana susah payah menelan ludah. Ia merasa Alan tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu sangat berbahaya. Kilatan tajam di matanya menyakinkan setiap ucapan yang diberikan. Alana diam, menundukkan kepala.
"Akan segera kupercepat pernikahan ini. Jangan khawatir. Belajar saja jadi istri yang patuh. Mengerti?" Alan tersenyum smirk, lalu berbalik masuk kedalam mobil. Felix menghadap Alana dan membungkukkan tubuhnya. Berpamitan. Lalu ikut masuk dan duduk disamping sopir.
Setelah mobil berjalan meninggalkan rumah, Alana masuk kedalam dengan perasaan dongkol.
^^
"Sudah cari sekretaris baru?" Alan bertanya pada Felix tentang pencarian Sekretaris barunya.
"Besok datang, Anda bisa mewawancarainya secara langsung." jawab Felix.
"Baiklah. Siapkan pernikahanku dalam waktu singkat ini. Urus surat-suratnya agar setelah aku menikah, warisan Ayah kembali sepenuhnya padaku." titah Alan.
"Baik." Felix keluar ruangan. Alan menyandarkan punggung ke kursi. Ia merasa lelah setelah pulang dari tempat tinggal Alana. Tak mengira jika ia melakukan semua sendiri. Ah, kalau bukan dia yang kesana pasti gadis itu sulit dibujuk.
'Aturan pernikahan?' Alan kembali terngiang ucapan Alana yang ingin mengajukan perjanjian pra-nikah. Haruskah ia mengabulkannya? Memang apa yang ingin gadis itu negosiasikan dengannya? Alan begitu penasaran.
Drtt Drtt...
Ponsel Alan berbunyi, ada notif pesan ibunya.
Mama: Alan, nanti malam ke rumah ya. Mama ingin adakan makan malam bersama mertuamu. Cepatlah pulang. Mama tunggu dirumah.
Alan menghembuskan nafas, ia sebenarnya tak mau melakukan hal-hal kecil seperti ini. Pekerjaannya begitu banyak.
__ADS_1
Karena Ibunya sendiri yang meminta, bagaimana dirinya menolak jika sejak dulu keinginan sang ibu selalu ia prioritaskan? Ia mulai mengetik, membalas pesan.
Alan: Baik Ma.
^^
Sebelum menghadiri makan malam yang diadakan ibunya, Alan kembali ke Apartemen lebih dulu. Membersihkan tubuh dan mengganti pakaian. Ia tidak memakai setelan formal seperti ia pakai sehari-hari. Ia hanya menggunakan kaos hitam berlengan panjang, serta celana jins biru tua. Di pergelangan tangan, melingkar jam Rol*x keluaran terbaru. Ia sisir rapi rambut hitam legamnya dan memoleskan pomade. Alan melihat pantulan dirinya untuk terakhir kali. Ia siap untuk pergi.
^
Dirumah besar, Mama telah menyiapkan hidangan makan malam. Hanya dihadiri keluarga Ellyasvega dan Giovano. Makan malam yang diharapkan bisa menjalin hubungan dua keluarga menjadi lebih akrab.
"Dimana Alan?" Mama menanyakan keberadaan putranya kepada Adiknya. Paman Gudono.
"Sebentar lagi datang." balas Paman Gudono memberi pengertian.
"Jangan sampai dia telat ya. Keluarga Alana sudah siap. Tidak enak membuat mereka menunggu lama." tutur Mama. Kening berkerut menandakan kekhawatirannya.
"Panjang umur juga anak itu. Lihatlah dia sudah datang." ucap Paman Gudono.
"Malam Paman. Kenapa disini? Apa acaranya belum mulai?" Alan bertanya seraya memandangi Ibu dan Pamannya bergantian.
"Semua sudah siap! Tinggal kamu saja Alan. Kebiasaanmu datang telat gak bisa ya diilangin. Heran Mama!" gerutu sang Mama. "Ayo cepat masuk! Keluarga Alana sudah menunggu."
Ketiganya bergegas masuk kedalam rumah. Mama sudah tidak mengomel saat mereka tiba di ruang makan. Disana Alana beserta orang tuanya telah duduk menunggu.
Ketika Alan datang, Alana melirik sekilas pria itu. Begitupun dengan Alan. Mereka saling pandang sejenak. Lalu Alana memalingkan wajah menampilkan kembali ekpresi datarnya. Sebenarnya ia masih kesal dengan perkataan Alan tadi sore. Bersikap seperti ini akan ia lakukan sebagai balasan atas sikap lelaki itu. Ia harus acuh padanya.
Makan malam berlangsung berisi pembicaraan kedua keluarga membahas tentang pernikahan serta pengenalan kepribadian anak mereka masing-masing. Dari sekian orang disana, Mama Alan terlihat lebih antusias. Banyak membicarakan tentang masa kecil Alan. Hingga pria itu tertunduk saking malunya.
"Iya lho Jeng, dari sekian anak dikelas itu, Alan paling kecil. Dulu anak ini suka makan es krim sampai belepota, ditertawain dong sama temen-temennya. Mulutnya pada celemongan. Haduh. Kalo inget pingin ketawa." Mama tertawa keras mengingat Alan semasa kecil.
__ADS_1
Alana terkikik pelan, hingga mendapat lirikan tajam Alan. Alana menutup mulutnya rapat-rapat. Tak mau melihat kearah singa didepannya. Tapi tetap saja, cerita Ibu Alan sungguh berbanding terbalik dengan kepribadian pria itu sekarang. Calon suaminya itu lebih lucu saat kecil dibanding pria yang sekarang ada didepannya. Begitu angkuh, berwajah seram dan juga suka mengancam orang. Benar-benar kepribadian yang buruk. Gak ada imut-imutnya.
"Alana juga sejak kecil suka berbuat usil. Anak ini selalu telat berangkat sekolah. Dikelas suka tidur eh, sampe suatu hari gurunya nelpon, bilang kalau Alana ngompol dikelas. Duh, bener-bener bikin gemes Jeng." balas Ibu Alana ikut-ikutan tertawa.
"Puftt!" Alan menahan diri untuk tidak tertawa. Reaksi Pria itu diketahui Alana. Gadis itu mendengus kesal. Apa ini balasan untuknya. Ckk, Dasar pria menyebalkan, dia tak jauh beda darinya, gerutu Alana dalam hati.
"Kalau dipikir-pikir, anak kita punya kesamaan ya Jeng. Dari kecil emang udah jodoh kali ya? Ckck." ucap Mama geli, dan dibalas anggukan oleh Ibu Alana.
"Ibu, kenapa dicritain sih. Malu tauk." rajuk Alana dengan bibir mengerucut kedepan.
"Nah, Alan kalau marah juga begitu. Bukan cuma tingkah laku dan nama kalian yang mirip, tapi sifat kalian juga. Ckck. " Mama tertawa. "Duh, udah cocok kalo kalian dinikahkan. Pingin deh cepet dapat cucu dari kalian. Ckck." timpal Mama bergurau. Penuh canda tawa. Suka sekal menggoda kedua calon pengantin.
Mendengar Mama menginginkan Cucu, Alan maupun Alana tertunduk. Bergumam tak jelas dalam hati masing-masing.
'Mustahil! Tongkatnya saja pasti tidak bisa berdiri. Kebanyakan ngacem orang sih!' gerutu Alana.
'Dunia segila ini. Mana mungkin aku melakukannya dengan anak kecil ini?' dengkus Alan.
Tanpa disadari, mereka berdua mendesah bersama.
^
"Jadi kapan kalian menikah?"
Mama bertanya pada Alan. Saat semua orang telah berpindah tempat di ruang keluarga.
"Minggu ini, setelah Felix menyelesaikan semua berkasnya." jawab Alan seraya menyeruput kopi hitam tanpa gula kesukaannya.
"Minggu ini? Kenapa cepat sekali..." keluh Alana kecewa. Alan meliriknya, kesal mendengar Alana ingin membantah.
"Sayang, ada baiknya pernikahan kalian dipercepat. Terlalu lama ditunda takutnya muncul masalah baru sayang. Alan selalu sibuk dengan berbagai pekerjaan kantor. Entah kapan dia bisa meluangkan waktu seperti sekarang. Kamu juga Alana sayang, lebih cepat menikahlah dengan Alan, akan semakin memupuk perasaan kalian nanti. Cinta akan tumbuh seiring kalian bersama." tutur Mama.
__ADS_1
"I-iya, tapi tetap saja aku merasa masa mudaku akan berakhir dalam waktu kurang dari seminggu ini. Itu ak..empphh-" gumaman Alana terhenti.
Ayah Heri segera menutup mulut Alana. Anak gadis satu-satunya ini membuatnya pusinv sampai geleng-geleng kepala. "Pernikahan akan dilakukan secepatnya. Putriku pasti menuruti rencana pernikahan ini." Ayah Heri tertawa kikuk, matanya melotot pada Alana seolah berkata, 'Berhenti bicara berlebihan Alana!'