
Suara Susan sedang memanggil Alana terdengar sampai ruangan kerja Alan. Pria itu bangkit dari kursi dan berjalan ke pintu. Sejak pagi, ia memutuskan bekerja di rumah. Alan terus memikirkan kejadian kemarin antara dirinya dan Alana. Tindakannya yang benar-benar diluar akal pikirnya sendiri, membuatnya tak fokus bekerja. Apalagi ditambah laporan Felix yang telah berhasil menyelidiki putra dari Pak Jonathan.
Alan diberikan pilihan sulit. Ternyata Pria bernama Abhigantara itu adalah orang yang memiliki kepintaran diatas rata-rata. Pria itu akan segera mewarisi kekayaan ayahnya dalam waktu dekat ini. Abhi telah dilatih dan di didik dalam menjalankan bisnis orang tuanya. Dia anak tunggal, dan sangat mudah baginya meminta haknya dalam menguasai seluruh gurita bisnis ayahnya.
Andai saja kerjasama Alan dengan Pak Jonathan berhasil, sebagai penerusnya, Alan akan bertemu dengan Abhi dalam menjalankan kerja sama mereka.
Kesan pertama dirinya dengan pria itu tidaklah Bagus. Ia dengan emosinya waktu itu telah menyulut kebencian Abhi. Sedangkan ia saat ini sangat menginginkan Mega proyek kerjasama dengan perusahan Pak Jonathan. Berbulan-bulan Alan merencanakan proyek besar itu. Bukankah tak adil, jika ia kalah setelah bekerja begitu keras hanya karena perselisihan waktu itu. Alan dilema, jika ia ingin tujuannya tercapai, ia harus meminta maaf pada Abhi.
"Ada apa?" Alan berdiri didepan pintu sambil bersedekap tangan, memotong langkah Susan yang tengah mengejar Alana.
Pengawal istrinya itu diam, dari wajahnya ada ketakutan kepadanya. Mungkin dia takut jika Alan akan berbuat sesuatu yang bisa memperbesar masalah. Atau mungkin kembali menghukum Nona mudanya dan dirinya?
"I-itu pak.. Nona...d-dia..."
"Mau kemana dia, kenapa berlari seperti itu?" sela Alan.
"I-itu sepertinya Nona mau keluar rumah P-pak." suara Susan bergetar tak berani menatap langsung mata Alan.
Alan segera berjalan ke pintu. Namun saat ia hampir sampai, niatnya terurung dan berjalan ke arah jendela. Alan menyibak tirai dan melihat keluar.
Kedua matanya memincing ketika mengetahui bahwa putra dari Pak Jonathan datang ke rumahnya. Ia heran bagaimana pria itu bisa tahu rumahnya? Ah, mungkinkah dari Alana?
"Susan!"
"I-iya P-pak?" balas Susan, mendekat dengan cepat. Nada suara wanita itu bergetar. Ia seolah takut akan dimarahi.
"Kamu tahu pria itu?"
"Eh, emb.... Tahu pak."
"Kamu tahu rumahnya?"
"Di-dia tetangga sebelah pak. Rumahnya selisih 3 rumah dari sini." jawab Susan.
"Tetangga? Rumahnya sekitar sini?" tanya Alan tak percaya.
__ADS_1
"I-iya pak."
Alan tertawa kecut, jadi Pria bernama Abhi itu tinggal disekitar sini. Bahkan tetangganya sendiri! Kalau begitu, Alana kenal Abhi saat wanita itu keluar rumah? Apa disaat itu mereka bertemu dan saling mengenal? Saling bekerjasama untuk melarikan diri. Ck
"Sejak kapan mereka bertemu?" tanya Alan memastikan.
"3 hari yang lalu pak. Saat Nona keliling komplek."
Benar dugaannya! Jadi istrinya bertemu Abhi saat itu! Alan tidak menyangka, hari itu adalah pertama kali istrinya keluar rumah, tapi sudah satu kucing garong yang terpikat padanya. Bayangkan saja jika istrinya keluar rumah setiap hari? Shitt! Memikirkan itu, otak Alan terasa panas!
Kenapa dengan dirinya?! Kenapa ia tak rela melihat Alana dekat dengan pria lain? Bukankah wanita itu hanya syarat untuk dirinya mendapatkan warisan? Apa yang sedang ia pikirkan pada wanita itu! Seharusnya ia tidak perlu berpikir keras dengan siapa Alana dekat. Harusnya ia membiarkannya saja!
"Kamu bisa pergi." perintah Alan pada Susan.
"Tapi pak. Nona Alana tidak akan di-di hukum kan?" tanya Susan was was. Ia tahu Alan bisa berbuat apa saja.
"Itu urusan saya dengan istri saya. Kamu bisa pergi." usir Alan tak suka masalahnya diikut campuri orang lain.
"Baik pak. Saya permisi." Susan pergi dengan perasaan khawatir.
^^
Alana merasa sikap Alan berbeda dari kemarin. Setelah Alan mengucapkan bahwa urusan mereka belum selesai, pria itu juga tengah menginginkan sesuatu padanya, menjadikan Alana semakin khawatir. Sorot mata Alan menunjukkan ada tujuan terselubung yang saat ini pria itu inginkan. Sikapnya kemarin dengan hari ini benar-benar berbeda. Alan jauh lebih tenang dari biasanya.
Tanpa ia duga, Alan memberikan kartu kredit tanpa batas kepadanya. Memintanya untuk membelanjakan sesuatu sesuka hatinya. Lalu mengijinkan dirinya memelihara Jilo dirumah. Tanpa curiga sedikitpun bagaimana ia mendapatkan anjing itu. Padahal ia sudah berbohong mengenai Jilo. Alana mengatakan jika ia membeli anjing itu dengan uangnya sendiri, padahal Abhi-lah yang memberikannya.
"Nanti malam kita makan malam diluar."
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Kenapa? Kamu tidak mau?"
"Emb, bukan begitu. Aku pikir kita makan malam dirumah saja. Toh disini makanannya enak-enak." balas Alana beralasan. Jujur saja, Alana tak mau pergi berdua dengan Alan. Pria itu masih membuatnya kesal. Tak semudah itu Alana melupakan sikap buruknya kemarin.
"Temanku buka Resto baru. Aku diundang kesana. Sekalian saja." ucap Alan mengatakan alasannya.
__ADS_1
"Oh, begitu ya." Alana bingung harus beralasan apa lagi. "Baiklah. Aku akan siap-siap." putusnya.
"Oke. Jam 7 aku tunggu dibawah." Selepas mengatakan itu, Alan kembali ke ruang kerjanya. Meninggalkan Alana yang termenung ditempatnya.
"Dia tidak salah makan kan? Ada apa dengannya?!"
^
Pukul 7 kurang 15 menit, Alan sudah bersiap di lantai bawah. Ia terlihat lebih muda dengan pakaian casualnya. Ia memakai celana jins hitam, kaos panjang krem polos pas di tubuh kekarnya. Otot-otot liat tampak menyembul dibalik kaos panjang miliknya. Penampilannya berbeda dari biasanya yang selalu formal dan rapi. Rambut hitam Alan juga disisir asal, namun tetap terlihat tampan maksimal.
Alana turun dari lantai 2, gadis itu berpakaian biasa. Memakai rok selutut dan kemeja kotak-kotak sepanjang siku. Ia menenteng tas kecil dan diselempangkan di bahunya. Ketika melihat Alan berdiri di ujung tangga, Alana hampir terjungkal saking kagetnya.
Penampilan Pria itu jauh berbeda dari sekian banyak pertemuan dengannya. Alan yang selalu tampil berwibawa, tegas dan menyeramkan, kini yang terlihat justru sebaliknya. Alan terlihat jauh lebih muda dari usianya. Alana terpana sesaat dengan penampilan Alan yang menurutnya keren. Pria itu seperti pemuda yang tengah menjemput kekasihnya yang menghabiskan malam minggu bersama.
"Apa maksutnya ini? Pakaianmu agak ...." ucap Alana asal. Mengamati Alan dari atas sampai bawah.
"Kenapa, kamu tidak suka?" tanyanya balik. Dari wajah Alan seperti mengatakan 'salahkah penampilannya saat ini?'
'Aneh! Kamu aneh! Sadar gak sih, kalo penampilanmu itu keren! Gak cocok dengan usiamu yang sudah tua!' batin Alana kesal menolak isi hatinya yang terus mengagumi Alan.
"Ti-tidak kok, a-aku suka. Hehe." Alana tersenyum kikuk. Puji saja biar dia tidak marah-marah terus. Pikirnya.
"Senyummu seperti mengejekku."
'Sial! Aku lupa dia juga bisa baca ekpresi orang yang julit padanya. Dasar pria sinting!'
"Siapa yang mengejek. Kamu memang sedikit berbeda dari biasanya. Itu saja." jawab Alana cepat. Bahaya jika Alan tersinggung dengan ucapannya.
"Kamu benar. Lebih baik aku ganti."
"Eh, tidak usah! Pakai itu saja. Nanti kita telat lho." ucap Alana menahan Alan agar tidak kembali ke kamar. Jujur saja, Alana sudah sangat lapar.
"Jangan membingungkanku. Suka sekali membuatku bingung. Ayo pergi." Alan mengomel tidak jelas.
"Eh, kok jadi aku yang salah sih?" Alana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1