
Semalam Alan tidak kembali ke kamar. Hal itu sama sekali tak membuat Alana risau. Justru gadis itu terus memikirkan cara bagaimana ia bisa lepas dari pernikahannya dengan pria kejam itu. Namun sebanyak apapun ia berpikir, Alana tetap tidak bisa menemukan cara apapun. Mungkin, selama ia tinggal dengan Alan, Alana akan tahu kelemahan pria itu.
Alana turun dari lantai 2 menuju lantai 1. Ia ingin menemui orang tuanya. Saat di ujung tangga, ia tak sengaja berpapasan dengan pria yang sedari semalam mengganggu pikirannya, dan juga mengancamnya. Mengingat hal itu, ia ingin sekali mencakar wajah pria itu.
"Selamat pagi." ucap Alana. Bukannya melakukan apa yang ada didalam otaknya, Alana justru menyapa Alan dengan wajah tersenyum ceria. Lebih tepatnya terpaksa.
"Obatmu habis? Kenapa senyum selebar itu, kamu sedang mengejekku?" balas Alan seakan tahu jika Alana hanya berpura-pura baik padanya. Andai gadis itu tahu, Alan sudah sangat hafal ekpresi kepura-puraan seseorang yang tertuju padanya. Alan tahu betul, Alana hanya tak ingin ancamannya semalam terjadi. Bermulut manis didepannya adalah cara agar Alan bisa memaafkan perilakunya. Sungguh cara murahan. Sama seperti orang-orang yang telah kalah melawannya.
Alana menghela nafas. Menutup mulut rapat-rapat agar umpatan tak keluar begitu saja dibibirnya yang suci. Ckck. Percuma bukan, membantah orang yang tidak punya otak.
"Mau kubuatkan sarapan? Masakanku enak lho." mulai menawarkan diri membuatkannya makanan. Mungkin saja, mulut pedas pria itu bisa terkatup rapat saat merasakan makanan buatannya. Andai saja ada racun, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menuangkannya sebanyak mungkin!
"Cara paling mudah melenyapkanku adalah memberiku makanan. Berpikirlah lebih keras lagi." ucap Alan menyeringai jahat, selalu tahu apa isi hati Alana. Pria itu berjalan melewatinya untuk naik keatas. Menuju kamarnya.
"Argghh! Awas kamu ya! Lihat saja aku pasti segera tahu kelemahanmu!" Alana gemas sendiri, menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.
^
"Al, kamu jadi pindah?"
"Jadi Ma."
"Kapan?"
"Besok."
__ADS_1
"Tidak bisakah ditunda Al. Mama mau bersama menantu Mama. Nanti mama antar Alana ke rumah deh. Boleh ya." Mama mencoba membujuk Alan. Baru sehari menikah, dan besok mereka akan meninggalkan rumah ini.
"Kan sudah ada Paman. Mama tidak akan kesepian."
"Mama bosan Al. Alana biar tinggal disini ya Al. Kamu juga. Jangan pindah rumah Al." rengek Mama. Alan menghela nafas, Mama selalu saja punya cara untuk membujuknya.
"Ma, Alan sudah menikah. Apa kata orang jika Alan dan istri Alan masih tinggal dirumah orang tuanya. Toh selama ini Mama tinggal bersama Paman tanpa ada masalah apapun." ujar Alan.
"Mama senang karena ada Alana, Al. Dia itu gadis yang ceria dan bisa buat mama senang. Untung saja kamu nikah sama dia ya Al. Mama gak tahu lagi dimana cari wanita baik buat kamu. Papamu memang tidak salah pilih Al." Mama begitu gembira, seolah menceritakan tentang Alana tidak akan ada habisnya. Gadis itu sepertinya telah mendapatkan tempat spesial dihati ibunya.
"Terserah Mama. Besok kami akan tetap pindah. Sabtu dan minggu akan kubawa Alana menginap disini. Cukup kan Ma."
"Beneran Al? Duh Mama seneng deh." Mama tampak puas.
^^
"Katamu mereka akan tinggal bersamaku?! Kenapa kamu mengingkari janji?" Protes Alana tak terima keputusan itu.
"Tinggal bersama kita disaat kita sudah menikah, itu bukan keputusan yang Bagus. Toh, mereka setuju. Sebelumnya aku sudah memberitahu mereka." jelas Alan saat Alana ingin membantahnya.
"Tapi kamu sudah janji, mau membawa mereka bersamaku." ucap Alana kecewa.
"Aku sudah menepati janji. Aku membawa mereka kemari. Bukan untuk tinggal bersama. Jadi terima keputusanku. Mengertilah." Alan menutup pembicaraan dan pergi meninggalkan Alana.
Alana ingin menangis, tapi ia coba untuk menahannya. Seharusnya ia tahu hal ini akan terjadi padanya. Seorang pria seperti Alan, yang memiliki kekuasaan lebih tidak akan bisa diatur siapapun. Mencari kelemahan pria itu seolah mencari jarum dalam jerami. Ia tidak punya pilihan lain. Untuk saat ini Alana harus bersabar. Sampai datangnya waktu yang tepat.
__ADS_1
^^
Esok hari, Alan dan Alana berpamitan untuk mengantar orang tua Alana dirumah barunya. Setelah itu mereka pergi ke rumah yang akan mereka tinggali. Orang tua Alana berpesan banyak pada putrinya. Memintanya untuk patuh pada suami dan menjadi istri yang baik bagi Alan. Alana hanya mengangguk lemah, karena hati dan pikirannya menolak semua itu. Alan tidak pantas dihormati. Pria itu telah berlabel penjahat di dalam isi kepalanya. Sampai kapanpun, Alana tidak akan tulus mematuhi perintahnya.
"Ini kamarmu. Panggil pelayan jika butuh sesuatu."
Alan meletakkan koper Alana di depan pintu. Ia berbalik menghadap Alana. "Alana, dengarkan aku baik-baik. Apapun yang terjadi dirumah ini, hubungan kita, jangan ada siapapun yang tahu. Ingatlah satu hal, pernikahan ini hanya semata perjodohan. Tidak ada arti apapun didalamnya. Kamu mengerti?"
Alana mengangguk. Karena memang, tidak ada Cinta diantara mereka. Pernikahan ini hanya status. Dimana Alana harus menuruti perjanjian orang tuanya dengan sahabatnya. Sedangkan Alan, entah apa yang sedang pria itu inginkan. Yang pasti, pernikahan ini akan berdampak menguntungkan pada pria itu. Lihat saja sikapnya, tidak ada penolakan darinya sejak awal rencana pernikahan dibuat. Justru pria itu mendukungnya. Mempercepat semua proses pernikahan.
"kalau begitu aku tinggal."
"Tunggu..."
Alan berhenti melangkah, ia kembali menghadap Alana. "Apa?"
"Apa boleh aku keluar rumah? Aku tidak ada pekerjaan, akan sangat bosan jika aku tetap disini." ujar Alana.
Alan sejenak diam, ia tengah berpikir serta menimbang permintaan Alana. Jika terlalu banyak kebebasan yang diberikan pada gadis itu, ia rasa bukan hal baik. Alana harus diawasi.
"Boleh, dengan syarat ada satu pelayan bersamamu. Akan kucarikan nanti." Alana ingin membantah, bersiap membuka mulut. "Aku belum selesai bicara. Kamu baru pertama kali ke kota ini, jadi harus ada yang mendampingimu. Itu jadi alasan utama."
"Terserah kamu saja. Toh disini aku hanya alatmu, tidak boleh membantahmu!" seru Alana seraya menarik koper dan masuk kedalam kamar. Membanting pintu tepat didepan Alan.
"Gadis ini!" Alan memejamkan mata berusaha menahan diri. Alana masih saja mendebatnya.
__ADS_1
"Carikan aku pelayan yang bisa dipercaya. Apa? Tentu saja untuk mengawasinya. Aku butuh siang ini." Alan menyuruh Felix mencarikan pelayan untuk Alana via telepon. Setelah ini ia harus kembali bekerja. Alan ingin kembali ke kantor tapi melihat sikap Alana seperti sekarang, ia memilih bekerja di ruang kerjanya. Felix akan datang sebentar lagi, mungkin ia harus menyuruh asistennya membawa beberapa dokumen juga.