
Alan memutuskan menyetir mobil sendiri. Menuju Resto yang sudah disiapkan untuk mereka. Selama perjalanan mereka terdiam tanpa berbicara satu sama lain.
Tak berselang lama, Alan membelokkan mobilnya disebuah Resto baru.
"Ayo turun."
"Tunggu. Kamu yakin kita makan disini?" tanya Alana menatap bingung kedalam Resto. Banyak sekali pelanggan memenuhi Resto yang berdinding kaca transparan yang dapat dilihat dari luar.
"Kenapa memangnya?"
"Lihatlah, orang-orang didalam sana." Alana menatap kedepan. "Lihat pakaianku." Menunjuk diri sendiri. "Sama sekali tidak pantas dengan mereka. Kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan pergi ke tempat ini?!" keluh Alana berdecak resah.
Alan tidak menjawab, ia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Ia turun dan mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk Alana.
"Turun."
"Tapi...."
"Aku yang berhak menganggapmu pantas atau tidak didalam sana. Turun." Alan berkata tegas. Membuat Alana terpaksa menuruti perintahnya.
"Kamu akan malu membawaku kesana. Eh?"
Alana terkesiap saat tangannya tiba-tiba ditarik Alan. Pria itu membungkam perkataan Alana dengan cara membawa gadis itu masuk. Tak mengijinkannya bicara sekecap pun.
"Selamat datang..." Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri.
"Saya sudah reservasi tempat dengan nama Martin." ujar Alan.
"Baik. Mari Silahkan masuk" pelayan mengantar mereka kedalam.
Alana berusaha melepaskan tangan Alan. Ia merasa ditelanjangi banyak pasang mata yang tertuju padanya saat memasuki Resto. Pandangan yang menurut Alana tengah mencibirnya.
"Jangan tundukkan kepalamu." ucap Alan yang memperhatikan sikap Alana.
"Jangan pedulikan aku. Jalan yang cepat!" gerutu Alana sesekali bersembunyi dibalik tubuh besar suaminya.
"Dasar pemalu!"
"Bukan pemalu, tapi karena aku salah kostum!" jawab Alana bersungut-sungut.
"Kamu pikir kita akan makan dikaki lima dipinggir jalan? Sudah kukatakan kita akan makan di resto temanku." balas Alan tak kalah menyebalkan untuk Alana. Masih bisa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Jangan marahi aku. Dimana tempat duduk kita. Kenapa lama sekali sih!"
Alan menatapnya dengan gemas. Istri kecilnya benar-benar cerewet. "Kemari."
Grep!
Tanpa ijin, Alan menarik Alana dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. Tanpa persetujuannya.
"Eh, lepasin!" bisik Alana tak nyaman. Berusaha melepas tangan Alan di pinggangnya sebelum ia menjadi pusat perhatian orang. Matanya tak berani menatap sekitar. Sikap Alan semakin membuatnya tak punya muka.
"Bisa diam?!"
Alana mendapat tatapan tajam dari Alan. Menyuruhnya agar tak membantah ucapannya. Hal itu berhasil membungkam bibir mungil wanita itu. Alana diam. Melihat wanita itu menurut, Alan kembali melanjutkan langkahnya.
"Silahkan masuk."
Mereka diantar ke ruangan bersekat kaca namun kedap suara dari luar. Dalam ruangan itu tak terlihat dari luar, namun tampak dari dalam apapun yang berada disekitarnya. Ada sofa yang mengelilingi meja bulat ditengah. Disudut ruangan ada ornamen khas eropa, beserta bunga-bunga tulip cantik.
"Ini menunya. Silahkan memesan lebih dulu. Saya akan kembali nanti. Permisi." Pelayan itu pergi.
Alan duduk di sofa yang berada didalam ruangan tersebut. Kemudian ia melirik Alana yang masih mematung ditempat.
"Iya-iya bawel sekali..." Alana mendaratkan bokongnya di sofa samping Alan.
"Bawel, karena kamu susah diatur." tukas Alan.
Alan memesan beberapa menu makanan. Tak lama kemudian pelayan kembali datang bersama seseorang.
"Halo Pak Bos, senang bertemu denganmu. Apa kabar?!" seru Pria berwajah bule mendekati Alan. Alan berdiri dan menyambut pria itu. Mereka berpelukan sebentar.
"Baik. Bagaimana denganmu Martin?"
"Selalu luar biasa Bro. Eh, who is?" Martin melirik penasaran pada Alana yang duduk diam disamping Alan. Penampilannya seperti anak kecil, wajahnya manis dan tubuhnya mungil. Jika orang tak tahu, Alana dikira adik Alan. Martin penasaran dengan sosok gadis itu. Jarang sekali temannya datang bersama seorang wanita.
"My Wife. Kenalkan dia Alana. Kami baru menikah beberapa hari yang lalu."
"Istrimu?! Astaga! Kenapa baru memberitahuku? Kau juga tidak mengundangku!" ucap Martin dengan mata melotot tak percaya. Ia berkacak pinggang kesal karena baru mengetahui hal sebesar ini.
"Acaranya mendesak jadi tidak mengundang semua orang. Lagipula kau berada di Spanyol bukan?"
"Ah iya. Aku baru pulang dari sana. Tapi setidaknya kau memberitahu dasar berandal!" Martin menonjok dada Alan pelan lalu beralih pada Alana.
__ADS_1
"Halo Alana, my name is Martin, Alan's soulmate." ucap Martin seraya menjabat tangan kepada Alana. Sikapnya berubah manis, tersenyum menawan dengan bulu-bulu brewok tipis di sekitar bibirnya. Mirip orang turkey.
"Halo, aku Alana. Senang bertemu denganmu." balas Alana sedikit kikuk.
"Tak kusangka, Alan seorang kulkas dua pintu ini bisa menikahi gadis secantik dan semanis dirimu. Bagaimana kalian bisa berkenalan, dan memutuskan meni-"
"Cukup perbincangannya! Cepat buatkan makanan untuk kami." Alan menyela keingintahuan Martin. Temannya itu akan membahayakan untuknya jika dibiarkan mengoceh. Tak akan berhenti bicara semalam suntuk.
"Ah ya. Makanannya ya. Hei, tolong buatkan pesanan Tuan Alan ya! Siapkan dengan cepat!" Martin mulai memerintah pegawainya. Ia ikut keluar ruangan untuk menyiapkan semuanya. Tidak setiap hari, ia bisa melihat Alan datang ke tempatnya mengingat sibuknya pria itu. Apalagi ia membawa istri imutnya. Jiwa penasarannya mulai meronta. Saatnya mengorek berita terhangat, lebih hangat dari panci penggorengannya....Ckk
^
"Temanmu itu aneh ya. Seperti kam...ups!" Alana menutup mulutnya dengan tangan. Hampir keceplosan bicara. "Maksutku dia sangat aktif."
'Aktif menanyaiku ini itu! Kepoan dan suka mencubiti pipiku! Dia hanya melakukannya saat kamu pergi ke toilet saja. Memangnya aku anak kecil apa dicubiti seperti itu?!' batin Alana kesal.
"Aktif kenapa? Dia bertanya sesuatu padamu?" Alan melirik sekilas ke Alana, lalu kembali melanjutkan menyetir.
"Ya begitulah. Dia sangat penasaran dengan hubungan kita sebelum menikah."
"Lalu kamu jawab apa."
"Emb, aku pura-pura batuk-batuk saja tadi. Mau jawab apa, kita saja menikah karena dijodohkan. Kamu sendiri yang tidak mau hal ini diungkapkan." ujar Alana.
"Pintar. Belum waktunya kita memberitahu semua orang. Bersikaplah seperti kita sudah saling mengenal satu sama lain." ucap Alan.
"Mengenal satu sama lain? Mana mungkin! Aku tidak bisa melakukannya. Terus berbohong pada orang lain seperti ini." tolak Alana. Ia tak mau mengenal lebih jauh tentang Alan. Belum jauh saja, ia sudah tahu bagaimana sifat dan tabiatnya! Sangat buruk dan tidak punya perasaan! Ogah sekali berpura-pura seakan mereka pasangan serasi.
"Kita lakukan saat diluar saja. Jika itu sulit, aku akan memberitahumu semua tentang diriku." ujar Alan.
'Tunggu, mengetahui semua tentang dirinya?" Alana sejenak berpikir. 'Mungkin ini kesempatanku untuk tahu kelemahannya. Bagus!' Alana menarik salah satu sudut bibirnya.
"Memangnya apa yang harus kuketahui?" Alana melirik Alan dengan ekor matanya. Berpura-pura tak tertarik dengan jawaban Alan. Berharap mampu membuat pria itu mengungkapkan semua rahasia besarnya. Dengan begitu ia bisa menemukan kelemahannya.
"Tunggu dirumah."
"Eh?"
"Kamu mau tahu tentang diriku bukan, akan kuberitahu saat kita dikamar." Alan menarik sudut bibirnya samar dan kembali memusatkan pikiran kedepan. Melajukan mobil ditengah padatnya jalan Raya. Membiarkan Alana yang tengah bertanya-tanya dalam hati.
'Dikamar? Apa yang mau diberitahunya sampai-sampai mereka harus berada dikamar?' Otak kecil Alana ngelag (loading) seketika.
__ADS_1