
Alana tak habis pikir dengan mereka berdua. Seperti anak kecil yang ingin membuktikan diri siapa yang paling hebat diantara mereka. Lomba lari ini memang sedikit konyol. Alana sudah ingin kembali ke rumah dan mengistirahatkan diri, tapi akibat ulah mereka, ia menundanya. Alana tahu kedua pria itu tengah berseteru. Cara bicara mereka mungkin terkesan tanpa emosi apapun, tapi dari tatapannya sudah menunjukkan jika keduanya tengah mengadu kekuatan. Hah! Sekarang ia harus menjadi wasit di pengaduan kekuatan itu.
"Bersedia...." Alana berdiri didepan mereka, tepat ditengah jalan. Memegang handuk kecil ditangan yang ia pakai untuk mengelap keringat habis olahraga dan kini dijadikan bendera untuk permulaan lomba ini. Memulai lomba diantara mereka. Tak peduli ada orang yang memperhatikan apa yang mereka lakukan, Alana hanya perlu segera menyelesaikan kegiatan konyol ini bukan?
Pinggang kedua pria itu terangkat dengan tubuh berjongkok. Mata tajam kedepan. "Siap....." Alana kembali menginstruksi. Wajah kedua pria itu makin tegang. Fokus pada titik masing-masing.
"MULAI!!"
Wush!
Alan dan Abhi melesat layaknya jet tempur. Mereka berlari kencang menuju pos pertama. Saling menyusul satu sama lain, melirik masing-masing saling mengukur kemampuan mereka.
Tak butuh waktu lama keduanya telah sampai di pos pertama dan langsung berputar berbalik arah. Menuju tempat Alana berada.
Bagaikan melihat oasis ditengah gurun pasir, mereka ingin segera menggapai gadis itu. Menjadi yang pertama dan memenangkan perlombaan ini.
Alana berdiri dengan wajah tegang. Tidak tahu siapa yang akan menang. Keduanya berlari dengan sekuat tenaga, langkah keduanya berimbang. Namun, entah kekuatan darimana, Abhi melesat kedepan lebih cepat. Entah karena umur mereka yang cukup berbeda, Abhi tampak lebih bertenaga. Wajahnya sumringah ketika hampir sampai garis finish. Sejenak Alana tertegun, ketika Abhi semakin mendekat kearahnya. Kedua mata Alana melebar seketika.
"Eh?"
Bruk!
Tubuh Alana hampir jatuh ke belakang ketika Abhi menabraknya. Pria itu memeluk tubuh Alana, nafasnya tersengal-sengal hebat. Alana terkejut dengan tindakan Abhi.
"Bhi? Bi-bisa lepasin?!" pinta Alana berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Abhi. Apalagi kini Alan telah sampai disamping mereka. Wajah pria itu menegang dengan rahang mengeras. Kedua tangan terkepal kuat dikedua sisi tubuh. Matanya tajam bagaikan ingin melenyapkan seseorang.
"Ah, maaf Al. Aku refleks tadi. Saking senangnya." ucap Abhi baru saja melepaskan Alana. Wajahnya masih sumringah seolah tanpa dosa. Bahkan pria itu tidak peduli pada Alan yang tengah menahan gejolak dalam dirinya.
"I-iya." Alana menjauhkan diri. Ia sekilas melirik ekpresi Alan. Pria itu tetap pada reaksi awal, pandangan menghunus tajam kepada Abhi. Tak melepaskan sedikit pun.
"Aku sudah menang. Jadi, bolehkah aku mentraktirmu es krim?"
"A-apa?"
__ADS_1
"Alana, tadi aku sudah janji akan membelikanmu es krim. Kamu lupa?" ucap Abhi.
"Emb, ituuu... A-akuu..."
"Ayo kita makan es krim. Tuan Abhi ingin mentraktir kita." potong Alan sudah berdiri disamping Alana. Ia tampak tersenyum dingin menanggapi keinginan Pria puber didepannya.
"Maaf, tapi aku hanya mengajak Alana..."
"Mengajaknya sama saja mengajakku. Apa Anda lupa siapa saya?" ujar Alan menaikkan satu alis. Tidak memperdulikan ucapan Abhi.
Abhi terdiam. Ia tahu betul arti ucapan itu. Alan telah menegaskan jika dirinya adalah suami Alana. Orang paling berhak atas diri gadis itu. Entah kenapa hal itu selalu mengusik pikiran Abhi. Ia merasa tak rela, jika Alana telah menikah. Apalagi dengan pria temperamen itu.
"Baiklah. Kita beli disana." Kata Abhi mengalah. Abhi berjalan lebih dulu. Menahan diri agar tidak memukul pria didepannya ini, Alana tidak boleh melihat dirinya sebagai pria pengejar wanita bersuami. Hah! Kenapa rasanya sulit sekali menghilangkan perasaan aneh itu?! Sesal Abhi dalam hati.
^^
Setelah mentraktir Alana es krim. Abhi memutuskan kembali ke rumahnya. Ia masuk kedalam setelah mengganti sepatu olahraganya dengan sandal santai berwarna putih. Ia berjalan ke ruang makan dan membuka kulkas. Ia mengambil air dingin di dalamnya dan meneguk air itu hampir separuh botol. Rasa dahaga sekaligus kesal hilang dari tenggorokannya. Ia masih ingat jelas, senyuman ejekan yang dilontarkan Alan kepadanya sesaat sebelum mereka berpisah. Pria itu mungkin berperilaku sopan dengan ucapannya tapi tidak dengan mata dan gerak tubuhnya. Alan seolah mengibarkan bendera permusuhan diantara mereka secara diam-diam.
Abhi kembali menegak habis air putih itu. Rasa marah yang ia rasakan seolah larut kedalam tubuhnya. Ia mulai menguasai diri.
"Ah, kenapa aku jadi berpikiran seperti itu? Kenapa semua tentang Alana mengusik pikiranku? Perasaan ini benar-benar membutakan mata hatiku! Aku harus melenyapkan perasaan ini! Aku harus membuang semua rasa salah ini!"
Drttt Drttt
Ponsel Abhi bergetar didalam saku celananya, ia merogohnya dan melihat si penelpon.
"Papa?" Dahinya berkerut.
Dengan gerakan cepat, Abhi menggeser icon hijau dilayar berukuran 5 inchi itu.
"Halo Pa? Ada apa menelepon Abhi?"
"Bhi, nanti malam bisa ke rumah Papa? Ada yang mau Papa sampaikan."
__ADS_1
"Baik Pa. Abhi akan kesana."
"Papa tunggu dirumah."
"Ya Pa." Panggilan itu terputus, Abhi menghela nafas. Ia merasa ada sesuatu yang ingin Ayahnya sampaikan. Ah, sepertinya masalah itu akan kembali dibahas. Ayahnya telah berulang kali memintanya mengurus pekerjaan kantor. Itu artinya, Abhi harus siap menggantikan posisi sang Ayah jika nantinya dibutuhkan. Atau mungkin waktunya telah tiba? Ah, Abhi tidak menyangka secepat itu waktu berlalu.
^^
"Sudah sampai sayang? Ayo masuk. Papamu sudah menunggu didalam."
Seorang wanita paruh baya berdiri didepan Abhi. Tersenyum bahagia ketika melihat Abhi dibalik pintu. Wanita itu memeluk Abhi dan mengecup pipinya dengan penuh rasa sayang. Begitupun dengan Abhi yang membalasnya penuh suka cita. Ia peluk hangat wanita yang bertahun-tahun telah merawatnya. Memberikannya Cinta tanpa batas. Menyanyanginya tanpa balasan.
"Bagaimana kabar Mama?"
"Baik sayang. Bagaimana kabar gadis itu? Sudah berhasil mendapatkan hatinya?" tanya Mama penuh antusias.
"Emb, Bisa kita bahas nanti Ma. Aku takut Papa menunggu lama." ucap Abhi mengalihkan pembicaraan.
Sebelum ini, Abhi telah menceritakan bagaimana kisah Cintanya pada wanita yang ia taksir kepada orang tuanya. Saking percaya dirinya, ia pasti bisa mendapatkan sang wanita dan membawanya ke dalam keluarganya. Namun, bagaimana jika ibunya tahu jika ia telah gagal sebelum memulainya? Wanita itu telah menikah.
"Iya deh. Ayok masuk Bhi. Mama tadi masakin makanan kesukaanmu lhoh. Nanti bawa pulang juga yah..."
"Iya Ma. Makasih ya."
Mama membawa Abhi ke ruang keluarga. Disana ayahnya telah menunggu seraya duduk membaca sebuah berita di surat kabar.
"Selamat malam Pa." ucap Abhi.
"Malam Bhi. Ada yang mau papa sampaikan. Duduklah. Sayang tolong buatkan kami minuman ya." ucap Papa.
"Iya. Mama buatin seperti biasa. Dua Kopi hitam tanpa gula?"
"Benar sayang. Makasih ya..." balas Papa tersenyum hangat.
__ADS_1
Setelah Mama pergi, papa meletakkan surat kabar di meja. Lalu tatapannya kembali fokus pada putra semata wayangnya.
"Bhi, Bisakah kamu kembali ke kantor? Papa merasa kamu sudah siap sekarang."