Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Apa alasannya?


__ADS_3

Ceklek!


Alan masuk kedalam kamar miliknya dilantai 2 dan berjalan ke tempat tidur. Kamar yang sebelumnya biasa dan terkesan manly kini telah berubah menjadi kamar pengantin penuh kelopak bunga dan lilin aromatherapy. Begitu Indah dan sarat akan nuansa malam pertama. Mama Alan telah mendekor sedemikian rupa demi berhasilnya sang anak memberikan seorang cucu. Begitu bersemangat, sampai Alan tidak akan pernah tahu apa saja yang sudah disiapkan dikamar itu.


Alan merebahkan tubuh mungil Alana diatas tempat tidur. Menyingkirkan simbol love dari tumpukan kelopak Mawar merah ditengah ranjang yang mengganggu. Alan melepaskan high heels di kaki Alana. Sekaligus beberapa aksesoris tak penting. Alan menutup tubuh Alana dengan selimut tebal sampai ke leher.


Waktu menunjukkan pukul 20.45 masih terlalu dini untuk tidur. Tapi entah mengapa, Alan merasa tungkak lehernya terasa sakit. Ia tolehkan kepala kekanan dan kekiri hingga menghasilkan sebuah suara sendi yang bergeser. Alan merasa kelelahan sama seperti Alana. Seharian ia tidak istirahat sedikitpun.


Alan berjalan ke arah jendela bertirai putih, ia singkap sedikit lalu melongok beberapa orang tamu yang masih berada diacara pernikahannya. Tidak terlalu ramai seperti sebelumnya. Toh Mama dan Pamannya ada disana mengatur semua. Hanya tinggal beberapa tamu saja, dan itu tidak terlalu penting bagi Alan. Mungkin lebih baik ia istirahat dikamar, menghilangkan sejenak rasa lelahnya.


^


"Emmhh...."


Alana mengolet diatas tempat tidur. Perlahan bulu mata lentik itu terbuka, menyesuaikan pencahayaan didalam kamar. Ia merasa asing dengan ruangan itu. Ia duduk sejenak. Memindai ruangan sampai ke sudutnya sekalipun. Tetep saja Alana tidak ingat apa-apa. Ia tidak tahu dimana ia sekarang.


Seingatnya, ia sibuk menghabiskan beberapa makanan yang diberikan oleh Mama Alan. Setelah itu, ia kekenyangan dan mulai mengantuk. Tidak ada seorangpun diruangan dimana dia berada, jadi Alana memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak. Lalu... Kenapa ia bisa ada disini ? Siapa yang membawanya?


"Apa aku diculik?" Alana mulai berasumsi sendiri. Menduga-duga atau lebih tepatnya berpikir berlebihan. Mulai meraba anggota tubuhnya.


"Fiuh.... Aku aman." Menghela nafas lega setelah meraba tubuhnya yang masih mulus tanpa lecet. "Lalu ini kamar siapa?" Alana mengedarkan pandang keruangan. Tetap tak menemukan foto atau barang yang bisa ia kenali.


Ceklek!


Pintu disebelah meja kecil tiba-tiba terbuka. Alana sontak melihat kearah sana. Seseorang keluar dari dalam hanya memakai handuk di pinggang. Hal pertama yang ada di otak Alana adalah dia seorang pria yang tengah bertelanjang dada yang mungkin saja orang yang saat ini menculiknya???

__ADS_1


Tanpa ingin tahu siapa orang itu, Alana segera mencari benda apapun didekatnya untuk memukul penculiknya. Alana cepat melirik sebuah buku tebal diatas nakas lalu melemparnya ke orang itu. Disaat lengah, penculik itu tidak akan cepat menangkis serangan bukan, disaat itu ia akan melarikan diri.


Brak!!


"Apa yang kamu lakukan Alana?!"


"Eh?" Alana hampir melangkah menuju pintu sesaat sebelum suara tak asing terdengar ditelinganya. Alana berputar 90 derajat, melihat sosok itu.


Deg!


'Mati aku!'


Alana mematung ditempat dengan mata hampir copot saking kagetnya. Ketika tahu siapa orang yang baru saja ia lempari buku. Alan tengah duduk dilantai dengan tangan memegang kepalanya. Terlihat pelipis pria itu memerah bahkan mengeluarkan sedikit darah. Sepertinya, lemparan buku darinya tepat sasaran. Alan terduduk mengenaskan dilantai depan pintu kamar mandi!


^


Alan bergeming. Tak menghiraukan cicitan Alana yang masih berusaha meminta maaf padanya. Pria itu sibuk mengoleskan salep diluka yang terkena hantaman buku tebal dari gadis itu. Tak tanggung-tanggung ketebalan buku itu mencapai 10 centi, bayangkan saja hantamannya sekeras apa?


"Om aku minta maaf. Kupikir Anda penculik. Mana ku tahu itu Anda. Salah sendiri, membawaku kemari."


Alana berhenti bicara saat mendapat lirikan tajam sang suami. "Salahku kamu bilang? Asal kamu tahu, Mama yang menyuruhku membawamu kemari. Dan jangan panggil aku OM! Memangnya aku setua itu?!" Alan menyelesaikan pengobatannya dengan tanda plester dipelipis. Dimana buah hasil tingkah laku istri barunya. Malam pertama yang mengesankan bukan.


"Tapi memang benar kan, Anda udah Om-om! Umur kita sangat jauh. Saya heran, kenapa Om tertarik menikah dengan saya. Toh diluar sana banyak wanita cantik." Ujar Alana mencoba mengalihkan perhatian Alan dari rasa kesalnya.


"Bisakah kamu berbicara dengan benar? Jangan formal padaku dan berhenti memanggil OM! Umur kita memang terpaut jauh, tapi aku sudah jadi suamimu. Jadilah istri penurut. Mengerti!" ucap Alan memperingatkan. Menatap tegas Alana yang duduk dipinggir tempat tidur.

__ADS_1


"Kalau saya tidak menurut bagaimana? OM akan ceraikan saya?" tantang Alana. Ia berharap Alan mengiyakan ucapannya. Sungguh, pernikahan ini sama sekali tidak pernah ia inginkan.


Bukannya menjawab, Alan justru berdiri dan berjalan ke arah Alana. Sorot matanya tak terbaca, hitam gelap sekaligus dingin. Alana merasa bulu kuduknya berdiri semua melihat Alan yang seperti itu. Tanpa disadari, pandangannya menunduk, takut melihat langsung kedalam mata gelap itu.


"Mau tahu apa yang akan kulakukan?" bisik Alan tepat ditelinga Alana. Nafas pria itu terasa menggelitik di leher atasnya. Membuat Alana tak nyaman.


"Malam ini begitu sunyi. Jika ada jeritan seseorang, mungkin hanya dianggap angin lalu oleh mereka. Karena disini ada pengantin baru, benar bukan?" Nafas Alan semakin merambat ke wajah Alana. Gadis itu terlihat menahan nafas. Tubuhnya telah tegang seperti es batu. "Jika aku mencek*kmu disini, tidak ada orang yang tahu bukan?"


Bibir Alana terkatup rapat, saat merasakan ada sebuah tangan terjulur menuju lehernya. Ia tidak mau membuka mata, karena yakin jika Alan memang serius dengan ucapannya. Bagaimana kalau ia benar-benar mati di tangan pria itu? Bagaimana nasibnya nanti?


"Jawab aku, kenapa kamu diam? Bukankah kamu sendiri yang tidak mau jadi istri penurut. Biarlah tanganku ini bekerja sesuai permintaanmu. Hmm?" bisik Alan penuh dengan nada ancaman. Sangat pelan namun mematikan. Membuat siapapun tahu, jika pria itu benar-benar akan melakukan apa yang diinginkannya.


"Ayo jawab..."


"Emb... I-itu... A-aku...."


"Ssttt... Pelan-pelan, aku ingin dengar yang jelas Alana." Alan merasa selangkah lebih menang. Tahu jika istrinya saat ini ketakutan. Ancamannya sedikit berhasil.


"A-aku akan me...menuruti-mu." ucap Alana pada akhirnya.


"Gadis pintar. Tetap seperti ini." Alan tersenyum lebar, menaklukkan gadis kecil ini ternyata tak sesulit yang ia kira. Alan menjauh dan keluar dari kamar.


"Hah....hah... Dasar pria jahat!" Alana tampak meraup nafas kebebasan. Menatap kesal pintu kamar dimana Alan telah menghilang dari sana. Masih merasa dongkol diperlakukan dan diancam seperti itu oleh Alan. Dalam hati, Alana pasti akan membalas perbuatannya.


"Apa sih yang membuatnya mau menikahiku? Dia bukan pria yang bisa diajak negosiasi, pasti ada alasan lain dia mau melakukannya. Aku harus cari tahu. Aku ingin cepat bebas darinya!" ucap Alana memantapkan hati. Ia harus menemukan alasan Alan menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2