Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Hari Pernikahan


__ADS_3

"Dimana dia?"


Alan baru memasuki ruang kerjanya, Felix mengekor dibelakang pria itu. Ia sodorkan sebuah map berisi data Cv pegawai baru.


"Saya akan membawanya masuk." Setelah itu, Asistan Alan berjalan keluar ruangan.


Perlahan Alan membuka Cv calon sekretaris barunya. Belum juga ia baca informasi identitasnya, Alan dibuat tertegun melihat foto yang terpampang di pojok paling atas Cv tersebut. Dibawah foto itu bertuliskan nama : Sofia Virginia.


Deg!


"Pak Alan, saya sudah bawa calon pelamar. Perkenalkan dirimu." tiba-tiba Felix telah berada didepannya. Bersama dengan seorang wanita. Wanita itu mengulas senyum manis pada Alan.


"Saya Sofia Virginia. Senang bertemu Anda, Bapak Alan Giovano."


Alan sejenak diam, kerongkongannya terasa kering. Melihat penuh pada wanita itu. Sekelebat ingatan masa lalu terlintas dipikirannya. Ia melirik Felix yang masih berdiri didekatnya. "Tinggalkan kami. Kamu bisa kerjakan tugasmu." perintah Alan.


Felix sekilas melihat Alan, tidak biasanya Dirut mau ditinggal sendiri saat sesi wawancara. Karena pada kenyataannya, dirinyalah yang harus memutuskan apakah para pelamar itu layak diterima atau tidak.


Melihat indikasi diusir, Felix akhirnya pergi dari sana. Kini tinggal mereka berdua.


"Duduk."


"Baik." Sofia duduk didepan Alan. Menatap lekat pria itu. Senyum manis dibibirnya tak pernah hilang dari wajahnya. "Bagaimana kabarmu Al."


"Aku baik. Aku ingin tanya, kenapa kamu melamar disini? Bukankah kamu di Australia?" Kedua alis Alan bertaut dalam.


"Aku sudah sudah kembali satu tahun lalu."


"Lalu?"


"Karena disini adalah rumahku yang sebenarnya. Kamu, rumah tempatku kembali Al." tutur Sofia sendu.


"Jangan bicara omong kosong. Kembalimu kesini tidak akan mengubah apapun." balas Alan muak.

__ADS_1


"Kenapa? Al.... Aku tahu dirimu seperti apa. Aku yakin Perasaanmu masih sama seperti dulu. Tidak akan bisa berpaling dariku. Benarkan Al?" ucap Sofia menyakinkan perasaan Alan padanya. Ia sangat yakin, hati Alan masih untuknya. Dirinya adalah Cinta pertama Alan Giovano. Dan itu akan selalu begitu. Bukankah Cinta pertama sulit untuk dilupakan?


"Lupakan masa lalu. Perasaan itu telah pergi semudah kamu pergi meninggalkanku waktu itu. Belum cukup apa yang kamu perbuat? Apa yang kamu inginkan? Pergilah dan jangan kembali." ujar Alan dingin. Memalingkan wajah dari wanita didepannya.


Sofia menggigit bibirnya berusaha menahan kesedihan atas penolakan Alan, Sofia tak gentar, ia kembali berbicara. "Jika rasa cintamu sudah tidak ada, kamu tetap akan menerimaku bekerja disini."


Alan menoleh cepat, "Atas hak apa kamu memutuskan. Aku bosnya disini, terserah aku mau menerimam atau tidak.. Dan sekarang aku ingin kamu pergi dari sini."


"Aku akan pergi dengan perasaan senang. Karena pada akhirnya hatimu hanya untukku Al. Aku bisa melihat itu. Menolakku sama saja dengan menyembunyikan perasaanmu yang masih ada untukku. Jika kamu menyangkal itu, hanya ada rasa kecewa di hatimu."


"Al, kita sudah berpacaran lama, mana mungkin kamu melupakan aku begitu saja?" ucap Sofia memandang sendu pria yang pernah mengisi hari terindahnya.


"Jangan berharap lebih padaku Sofi. Kita sudah selesai."


Sofia tertunduk, ia seka air mata yang hampir saja jatuh dipipi. Penolakan Alan sungguh membuat hatinya sakit. Memang semua yang terjadi diantara mereka bukan sepenuhnya salahnya, ia punya alasan meninggalkan laki-laki itu.


"Ibuku sakit Al. Dia harus dirawat di Aus. Karena itu aku pergi meninggalkanmu. Maafkan aku."


"Sofia..."


Wanita itu hampir melangkah pergi ketika tiba-tiba Alan memanggilnya. Ia menoleh menatap sang mantan kekasih.


"Apa benar Ibumu sakit?" entah sejak kapan, suara Alan berubah lembut.


"Iya Al. Sekarang beliau sudah sembuh. Aku membawanya kembali ke Indo." jawab Sofia.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Untuk apa Al, aku tahu saat itu kamu sendiri sedang kesulitan. Mengurus kepergian ayahmu dan perusahaan. Aku bisa apa?" Alan terdiam. Membenarkan ucapan Sofia.


Alan sejenak berpikir, "Kamu bisa bekerja disini mulai besok. Kapan-kapan aku akan berkunjung menemui ibumu."


Mendengar itu, perasaan Sofia bahagia. Senyum manis mengembang sempurna diwajahnya. "Beneran Al?"

__ADS_1


"Hmm. Kamu temui Felix diluar. Dia akan memberitahu pekerjaan apa yang harus kamu kerjakan."


"Baik Al. Terima kasih sudah menerimaku. " Sofia mendekati Alan dan langsung memeluknya. Alan mematung, tidak membalas maupun melakukan gerakan apapun. Terdiam atas tindakan Sofia.


"Kalau begitu aku pamit Al. Sampai jumpa."


"Hem."


Sebelum sampai di pintu, tiba-tiba Alan kembali memanggilnya. "Minggu ini luangkan waktumu, hadirlah diacara pernikahanku."


^^


Tak sampai satu minggu, pernikahan digelar. Paman Jhon baru mengetahui saat hari H. Alan telah berusaha keras menyembunyikan rencana pernikahannya sedemikian apik. Hingga sang Paman tak mengetahui kapan keponakannya itu membawa wanita yang disebutkan di surat wasiat. Ia begitu geram, marah, ingin sekali menggagalkan rencana Alan, namun kekuatan apa yang dimiliki jika hari yang ditabukan akan terlaksana hari ini. Pupus sudah mimpi menerima sebagian harta kakaknya yang selama ini ia dambakan. Sungguh keponakannya begitu licik!


Rumah Besar disulap begitu Indah. Dekorasi pernikahan mewarnai seluruh penjuru halaman maupun didalam rumah. Mama Alan telah menyiapkan segalanya secara cepat dan tentunya yang terbaik untuk hari pernikahan sang putra. Ia sangat bahagia, hal yang ia inginkan akhirnya terwujud. Melihat sang putra kesayangan menikah dengan gadis pilihan sang suami. Ia juga merasa beruntung mendapatkan Alana di keluarganya. Gadis baik yang cantik dan penurut (dimata Mama Alan).


Alan mengundang sedikit tamu. Hanya keluarga dekat dan beberapa rekan bisnis penting. Reno, sepupunya begitu heboh mempersiapkan keperluan Alan. Seperti gaya pakaian, penampilan, serta memberikan semangat lebih agar Alan bisa menyempurnakan hari pernikahannya dengan lancar. Beberapa tips tentang Malam Pertama tak luput dari ocehan anak muda itu. Membuat Alan menutup telinga dan mata dengan aksinya.


"Kak, gugup ya?"


"Tidak!"


"Katakan saja kalau gugup. Kakak ipar pasti sangat cantik. Jangan gugup kalau bertemu dia ya." gurau Reno ketika berada di atas altar bersama Alan. Anak itu terus menggoda Alan.


"Pergi dari sini." Melirik tajam pada Reno, agar sepupunya itu pergi.


"Hehe, iya iya. Ingat semua pesanku ya kak. Jangan pingsan ketika melihat  kakak ipar." ucap Reno sambil menahan tawa.


Alan berdecak kesal, mencium Bau-Bau emosi dari Alan, Reno langsung ngacir turun menuju sang kekasih. Sepertinya saat Alan mengurus pernikahannya, Reno dan Sisil telah berhasil menjalin hubungan. Benar-benar sulit dipercaya.


Pintu Rumah ruangan terbuka, Alana masuk kedalam didampingi oleh sang Ayah. Gaun pengantin putih sepanjang tubuh molek melekat indahnya. Aksen renda-renda menempel disetiap lengan, dada dan punggung. Bagian pundak sampai atas dada sedikit terekspos memperlihatkan kulit putih mulus sang pengantin. Di kepala, telah terpasang tudung pengantin transparan. Menutup sampai depan wajah, membuat para tamu  maupun pengantin pria menerka-nerka kecantikan sang pengantin wanita.


Alan terdiam diatas Altar. Memandang lekat sosok sempurna didepan mata. Tak dipungkiri, Alan terbius oleh keindahan dan kecantikan Alana. Tanpa ia sadari, ia ingin segera membawa sang wanita berada disampingnya. Melihat dengan dekat, wajah calon pengantinnya.

__ADS_1


__ADS_2