Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Calon Besan


__ADS_3

Felix terheran dengan kedatangan Alana dipintu kamar mereka. Gadis itu berdiri mematung dihadapannya.


"Ada perlu apa Nona kesini?"


"Biarkan aku masuk. Kita bicarakan didalam." bisik Alana. Ia masuk kedalam kamar sebelum Felix mengijinkannya. Asistan Alan terkejut, tapi sudah terlambat.


"Kamu belum tidur kan, mari kita bicara." Alana menatap punggung Alan yang terbaring membelakanginya. Alana menarik kursi didekatnya dan langsung duduk.


Alan membuka mata dan berangsur menegakkan tubuhnya. Ia melirik Alana yang sudah siap bicara dengannya. "Mau bicara apa?" balasnya.


Felix berdiri didekat pintu, berjaga disana seandainya orang tua Alana datang.


"Perjodohan itu, bisakah Anda membatalkannya? Saya pikir, pernikahan itu akan sangat merugikan. Terutama untuk saya." ucap Alana. "Jadi mari kita hentikan semuanya sebelum terlambat."


"Bagaimana kamu bisa tahu pernikahan itu akan merugikan? Kamu merasa terbebani?" balas Alan.


"Tentu saja. Saya sudah hidup disini belasan tahun, saya sangat nyaman tinggal disini. Jika saya pergi, apalagi ditempat asing, itu hanya akan membuat saya tidak nyaman. Tolong, bukankah Anda orang pintar, berpikirlah demi masa depan Anda. Menikahi gadis desa seperti saya, pasti hanya membuat Anda malu." Alana menjelaskan dengan percaya diri tinggi, ucapannya pasti membuat pria itu membenarkan apa yang ia katakan. Mereka seperti bumi dan langit, sangat berbeda kehidupan.


"Berhenti bicara formal padaku." ucap Alan. "Lagipula, aku datang kesini hanya untuk menjemputmu, bagaimana mungkin kuhentikan perjodohan ini."


"Ta-tapi semua ini hanya akan merugi-"


"Aku sama sekali tidak dirugikan. Kupikir pembicaraan ini selesai sampai disini. Pergilah." perintah Alan seraya mengangsurkan tubuh berniat kembali tidur.


"Tunggu, saya belum selesai bicara.."


"Nona, mari keluar. Pak Alan harus beristirahat. Perjalanan hari ini begitu menguras tenaga dan pikirannya. Kumohon nona mengerti." bujuk Felix.


"Aku tidak bisa menikah dengannya. Kalian seharusnya memikirkan perasaanku. Aku tidak cinta dengan pria itu!  Jangan pisahkan aku dengan keluargaku!" Alana menepis tangan Felix yang ingin membawanya pergi.


"Nona..."


"Tunggu." suara Alan tiba-tiba menghentikan perdebatan mereka. Pria itu duduk diatas tempat tidur, menatap lekat pada Alana. "Kamu bilang jangan pisahkan kamu dengan keluargamu? Jika aku membawa keluargamu ikut, apa kamu mau menerima perjodohan ini?"

__ADS_1


Mata Alana meneduh, ia tatap kesungguhan perkataan Alan. "Anda mau membawa mereka? Bolehkah?"


"Asal kamu menyetujui pernikahan itu. Akan kubawa mereka bersamamu." ucap Alan serius.


Tak tahu harus berkata apa, Alana hanya diam dengan senyum kecil dibibirnya. Setidaknya apa yang ia takutkan karena jauh dari orang tuanya tidak akan terjadi. Ia pasti merindukan mereka ketika berada di tempat asing. Alana sedikit bisa bernafas lega. "Baiklah. Saya setuju dengan pernikahan itu." ucapnya.


"Keputusan yang tepat. Sekarang kembalilah ke kamarmu." ucap Alan.


"Baik. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam." Alana pamit pergi, setelah merasa keinginannya terpenuhi. Ucapannya begitu sopan, berbeda saat berada di ruang tamu beberapa saat yang lalu.


"Dia gadis yang lugu. Semudah itu menyakinkannya." Felix merasa senang karena tujuan mereka berhasil. Alana mau dibujuk.


"Hmm, dia masih kecil." jawab Alan.


"Kecil begitu akan jadi istrimu pak." Felix terkekeh geli.


"Diam kamu! Cepat tidur!"


^^


Perjalanan ditempuh dengan menggunakan transportasi ala kadarnya. Ayah Alana meminta bantuan salah satu tetangganya untuk mengantar kepergian mereka. Orangtua Alana tidak memberitahu kapan mereka kembali.


Kini mereka berada di Bandara, siap menaiki pesawat. Alan meminta mereka duduk didalam, sambil menunggu pesawat take off. Mereka terlihat gugup, karena ini adalah pertama kalinya mereka menaiki pesawat yang biasanya hanya bisa mereka lihat dari Televisi.


Sekitar pukul 5 sore mereka baru sampai di Bandara di Jakarta. Sopir suruhan Felix telah menunggu di pintu keluar. Mereka duduk dalam satu mobil.


"Saya akan mengajak kalian bertemu Ibu saya. Beliau akan memberitahu dimana kalian akan tinggal selama berada disini." ucap Alan memberitahu.


"Iya Nak. Terima  kasih."


Mobil memasuki gerbang Rumah Besar. Berjalan perlahan menuju depan pintu rumah yang telah berdiri deretan pelayan. Didepan mereka, Ibu Alan beserta seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang dirumah kami, Tuan dan Nyonya Ellyavega, sapa pria paruh baya itu dengan hangat.

__ADS_1


"Iya, Terima kasih. Kami merasa terhormat bisa datang ditempat ini." balas Ayah Alana.


"Perkenalkan, Saya Gudono, Paman dari Alan. Dan ini Ibu Alan. Kami senang bisa bertemu dengan Anda. Mari silahkan masuk." Paman Gudono mengajak semua orang masuk kedalam rumah.


Rumah dengan berbagai fasilitas mewah terpampang luar biasa bagi Alana. Gadis itu melihat seluruh isi rumah. Decak kagum tertahan didalam dirinya, tak menyangka jika keluarga calon suaminya benar-benar orang sangat kaya.


Mereka duduk di ruang tamu dimana meja dengan sofa berjarak tak kurang dari satu meter. Ruangan yang amat luas itu mungkin cukup menampung 15 orang.


"Kamu sudah besar ya Alana. Semakin cantik dan dewasa." puji Mama Alan.


Alana tahu, sejak tadi wanita itu terus memperhatikan dirinya. Pandangannya tidak pernah lepas dari Alana. Merasa dipuji sedemikian rupa, Alana tersenyum manis. "Terima kasih."


"Saya sangat senang bisa bertemu denganmu lagi sayang. Terakhir kali, kamu masih kecil. Sekarang sudah sebesar ini dan siap untuk menikah." tutur Mama sendu. Matanya berkaca-kaca seolah mengagumi sosok gadis cantik didepannya.


"Alana akan menemani Anda. Dan menjadi menantu yang bisa diandalkan. Dia akan menghormati Anda seperti dia menghormati kami. Anda adalah orang tua kedua untuknya. Saya berharap Putri kami bisa diterima dikeluarga ini." tutur Ibu Alana, bulir air mata menetes sendu, membayangkan kehidupan putrinya setelah ini.


Mama berdiri dan duduk disamping ibu Alana. Dengan hangat, ia peluk calon besannya. Mama seolah tahu apa yang dirasakan Ibu Alana. Melepaskan anak satu-satunya kepada keluarga lain adalah keharusan bagi orang tua. Kini tugas mereka akan berpindah kepadanya. Ia akan menjaga Putri mereka dengan sepenuh hati dan menyanyanginya sama seperti putrinya sendiri.


"Terima kasih telah mempercayai keluarga kami. Saya berjanji akan menjaga dan menyayangi Alana." tutur Mama.


Orang tua Alana terharu atas kebaikan keluarga calon menantunya. Kesungguhan Ibu Alan menyakinkan mereka bahwa pernikahan putrinya kelak pasti akan bahagia. Memiliki keluarga yang baik dan hangat seperti keluarga Giovano adalah anugerah dari sang pencipta.


"Lebih baik kalian istirahat disini. Sebelum pernikahan kalian akan tinggal bersama Ibu saya. Setelah ini saya harus kembali ke kantor, kalau begitu saya permisi." Alan bangkit dari duduknya setelah berpamitan. Keluar dari ruangan bersama Felix.


Alana tersentak akan sesuatu, dia ikut berdiri dan ijin pergi keluar kepada orang tuanya.


"Tunggu!"


Alan dan Felix bersamaan menoleh. Mereka berdiri disamping mobil seraya menatap Alana yang tengah berlari ke arah mereka.


"Ada apa?"


"Boleh saya tahu kapan kita menikah?"

__ADS_1


Mendengar itu, Alan menarik sudut bibirnya. "Kenapa, kamu sudah tidak sabar menikah denganku?"


"Tidak, bukan itu. Aku mau membuat aturan pernikahan sebelum menikah. Kapan kita bisa berunding?"


__ADS_2