
"Darimana kamu?"
"Jalan-jalan diluar." Alana menundukkan kepala melihat Alan menatap tajam padanya. Saat seperti ini, emosi pria itu tidak bisa ditebak. Alana takut jika Alan kembali mengancamnya. Bagaimanapun, ia berada ditempat pria itu berkuasa. Lebih baik banyak diam dan dengarkan pria itu bicara. Jawab hal-hal seperlunya saja.
"Satu jam kamu keluar, ngapain aja. Apa ada hal yang membuatmu tertarik diluar sana?" Alan terus bertanya seolah ia belum merasa puas atas jawaban Alana.
Alana menggeleng. Sumpah demi apapun, ia seolah sedang menghadapi sidang pengadilan. Hanya keluar didekat rumah saja disosor berbagai pertanyaan menyudutkan. Bagaimana jika ia pergi jauh? Semalaman pria itu akan mencecarnya sampai lelah.
"Jangan membuat masalah yang akan membuatku kesulitan. Orang tuamu menitipkanmu padaku. Begitupun dengan Mama. Kamu lupa? Perlu kuingatkan?" ucap Alan.
"Aku ingat. Tidak perlu memberitahuku." ketus Alana. Sungguh nasehat Alan seperti kereta tanpa rem. Tampilan pria itu dari luar jauh berbeda dengan sifat aslinya. Ia kira pria itu irit bicara. Alan bukan hanya cerewet tapi lidahnya sangat tajam.
"Ya sudah, kembalilah ke kamarmu."
Alana bangkit dari duduknya. Ruang kerja Alan sejak tadi terasa panas seolah Ac ruangan itu tak berfungsi sama sekali. Setelah keluar dari sana, Alana menghela nafas banyak-banyak. Satu ruangan dengan pria itu sangat tidak menyenangkan. Adanya tegang terus.
Dengan langkah kecil, Alana naik ke kamarnya. Ia rebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Sampai kapan aku berada dirumah serasa penjara ini? Bagaimana bisa ayah memiliki sahabat yang anaknya mirip dajjal itu?! Aku ingin pergi dari sini, tolong aku tuhan..." Alana berteriak frustasi, jalan keluar masalahnya terasa buntu. Bingung harus melakukan apa jika ruang geraknya dibatasi seperti ini.
^^
Dua hari Alana memutuskan untuk tidak keluar kemana-mana. Ia malas jika harus mendengar kembali celotehan Alan. Walaupun pria itu kadang bertanya rencananya hari itu, tapi ia memilih untuk berada didalam rumah.
Alana yakin, Alan lebih suka dirinya tinggal dirumah dibanding keluyuran diluar sana. Padahal Alana bukan tipe wanita yang suka berdiam diri dirumah. Ia akan pergi kemanapun ia mau, meskipun ayahnya melarang. Itu ketika ia berada didesa berbeda dengan sekarang. Alana terpaksa mengikuti perintah Alan karena kedua orangtuanya.
Mereka pendatang baru di kota ini. Ia tidak mengenal siapapun kecuali keluarga Alan. Bahkan jika ia kembali ke desa, ia harus mencari tahu rute perjalanan kesana. Setahu Alana, Kota ini sangat jauh dari desanya.
"Tidak pergi?"
Alan masuk kedalam kamar Alana. Seperti kemarin, ia mengecek keadaan gadis itu.
"Tidak." Saut Alana, ia tidak menoleh dan sibuk dengan ponsel miliknya. Entah apa yang ia lakukan hingga terlihat sibuk dimata Alan.
"Susan akan menjagamu seperti biasa. Minta padanya apa yang kamu butuhkan." ujar Alan.
__ADS_1
"Hmm." jawab Alana singkat.
Alan berbalik dan pergi keluar kamar. Setelah pintu tertutup, Alana langsung turun dari tempat tidur. Ia membuka pintu perlahan. Kepalanya melongok keluar.
Hampir saja Alana terlonjak saat tahu Alan masih diluar kamar sedang berbicara dengan Susan. Ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Beritahu padaku apa saja yang dia lakukan hari ini."
"Baik Pak. Saya akan terus mengawasi nona dengan baik."
"Bagus."
Dari balik pintu Alana mendesah kesal. Ia diperlakukan seperti biang masalah. Pria itu begitu takut dengan apa saja yang akan ia lakukan. Saking kesalnya, Alan menggenggam handle pintu cukup keras, memperlihatkan tangannya yang memerah.
'Kamu takut aku melakukan apa Tuan perintah! Aku pastikan rasa takutmu itu akan jadi nyata. Lihat apa yang akan kuperbuat hari ini.' batin Alana menyeringai jahat. Ia akan membalas perbuatan Alan yang mengekangnya dirumah ini.
Alana masuk ke kamar mandi. Ia harus bersiap-siap.
^
"Kita berangkat." Alan meminta sopirnya menjalankan mobil. Membawanya pergi bekerja. Hari ini banyak pekerjaan serta pertemuan yang harus ia selesaikan. Setelah pernikahan, tentu banyak masalah menumpuk yang membutuhkan penyelesaian darinya.
"Apa, kamu tidak bisa?! Kalau begitu suruh orang mengantarnya."
"Hmm, oke. Cepat, aku akan sampai 10 menit lagi."
Alan menutup telepon. Hari ini sepertinya ia harus merampungkan banyak pekerjaan. Ini baru satu pertemuan, masih ada 3 lagi yang harus ditangani.
Mobil yang membawa Alan telah sampai di sebuah restoran tempat pertemuan dengan Bapak Jonathan. Alan turun dari mobil setelah sopir membukakan pintu. Alan berjalan menuju pintu masuk.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Sofia disana. Wanita itu tersenyum manis kearahnya, dan datang menghampiri.
"Kamu sudah datang ya. Al, ini kubawakan berkas dari kantor." ujar Sofia, sang sekretaris barunya. Menaik-turunkan map kertas ditangannya. Alan tak mengira jika Felix menyuruh Sofia datang. Seharusnya ia tahu hal ini pasti terjadi, karena Sofia secara langsung bekerja di bawah Felix.
"Hmm, terima kasih." Alan mengambil map berkas itu.
__ADS_1
"Al, aku temani didalam ya. Kayaknya Pak Jonathan udah dateng deh. Aku mau bantu kamu." pinta Sofia antusias.
"Tidak perlu, kamu kembalilah." tolak Alan.
"Tapi Al, Felix yang suruh aku menemanimu. Kalau-kalau kamu butuh bantuan?"
"Aku bisa sendiri."
"Tapi Al, ini juga salah satu pekerjaanku. Membantu atasanku. Kamu atasanku sekarang. Jadi aku harus menemanimu sampai pekerjaan ini selesai." ucap Sofia terus bicara berbagai alasan.
"Tunggu, aku tidak..."
"Selamat pagi. Dengan Bapak Alan Giovano?" Seorang pria tiba-tiba datang menghampiri.
"Ya? Saya sendiri." balas Alan.
"Atasan saya sudah menunggu bapak didalam. Bapak Jonathan ingin segera bertemu Anda. Karena ada suatu kepentingan, setelah pertemuan ini beliau hanya harus pergi." ujar pria itu. Sepertinya asisten klien Alan.
"Oh baiklah. Mari kalau begitu." Alan bergegas masuk. Sekilas ia lirik Sofia yang ikut masuk kedalam. Wanita sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.
^^
"Wah, saya benar-benar kagum dengan Bapak Alan. Masih muda tapi punya pemikiran luar biasa. Saya percaya tender ini akan jadi milik Anda." puji Bapak Jonathan ketika selesai melakukan pertemuan bisnis dengan Alan.
Pria berusia 63 tahun itu tampak mengagumi ide proyek Alan yang akan mereka kerjakan bersama. Pertemuan itu memang belum menghasilkan kata sepakat. Bapak Jonathan masih akan menilai perusahaan lain yang bersaing dengan perusahaan Alan. Tapi dilihat dari reaksi antusias pria itu, sepertinya Alan akan memenangkan tender besar itu. Ia sangat optimis.
"Terima kasih atas pujiannya. Saya sangat berharap feedback baik dari pertemuan ini. Saya berjanji tidak akan mengecewakan perusahaan Anda." jawab Alan.
"Ya. Saya akan secepatnya memberi kabar. Ah ya, saya minta maaf karena tidak bisa lama-lama. Setelah ini saya harus ke toko hewan untuk membelikan seekor anjing untuk putra saya." jelas Bapak Jonathan.
"Anjing? Apa putra bapak penyuka hewan?"
"Ya! Dia sangat suka! Tapi kali ini bukan untuknya. Semalam dia cerita padaku ingin memberikan seekor anjing pada calon pacarnya. Anak itu sangat antusias. Baru kali ini saya melihatnya sesuka itu pada seorang wanita. Hahaha.." tawa Bapak Jonathan.
"...Karena itulah saya ingin membelikannya sekaligus ingin tahu calon pacarnya itu! Sudah lama saya dan istri ingin melihat putra kami menikah. Maklum dia Anak tunggal dan sering ke LN (luar negeri) untuk belajar. Dan sekarang saya ingin dia menikah." imbuhnya.
__ADS_1
Melihat itu Alan teringat almarhum ayahnya. Seandainya saja beliau masih hidup, ia pasti akan melakukan hal yang sama yang dilakukan Bapak Jonathan. Ayahnya dulu juga menyanyanginya. Rela melakukan apa saja, demi kebahagiaannya. Tanpa sadar, Alan justru menawarkan diri.
"Bagaimana kalau saya antar Bapak. Saya masih ada waktu senggang."