
Alana terpaku memandang ciptakan Tuhan paling sempurna dihadapannya. Pandangan Alana mulai mengular keatas. Rahang kokoh dengan bulir air hampir jatuh kebawah menjadi tatapan liarnya selanjutnya. Bibir sexy serta hidung mancung itu menambah kesan perfeksionis sang suami. Bulu mata tegas, dengan bola mata hitam gelap. Alisnya yang tebal menampilkan ketegasan sang pria. Lalu... Rambut hitam legam tampak acak-acakan yang basah semakin sexy dimata Alana. Bibir Alana terbuka sebagian dengan mata tak berkedip memeta kedalam otak bagaimana sempurnanya sang suami.
"Sudah puas melihatnya?"
"Eh?"
Alan menarik satu sudut bibirnya, "Setampan itukah diriku?"
"Ngomong apa sih! Lepas!"
Alana merasa malu karena Alan memergoki mengaguminya. Ia mendorong tubuh Alan agar menjauh, bukannya berhasil, pria itu justru semakin menariknya mendekat. Kedua tangan Alan merengkuh Alana dengan kuat, tak membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Kini tubuh mereka saling menempel. Alan menundukkan kepala lebih dekat ke wajah Alana. Menatapnya begitu lekat.
"Orang tuamu akan datang nanti siang. Jadi jangan khawatir." bisiknya.
Alana memberanikan diri melihat Alan. Pria itu menatapnya begitu dalam, seolah mampu menembus isi pikirannya. Alana lemah ditatap sedemikian rupa, ia memilih kembali menundukkan kepala. Menjawab singkat. "I-iya."
Alan tersenyum kecil, sorot matanya menatap jeli sikap Alana yang masih malu-malu. Sontak pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga sang wanita. "Mau morning kiss?"
"Hah?!" Kepala Alana seketika mendongak keatas, begitu terkejut mendengar ucapan Alan barusan. Kedua matanya melebar. Pandangan mereka saling bertaut.
"Kuanggap itu persetujuan."
Tanpa menunggu balasan Alana, Alan langsung menempelkan bibirnya pada bibir sang wanita. Satu tangan menahan tengkuk Alana, yang lainnya tetap memegang pinggul wanita itu agar tak berpindah. Perlahan namun pasti, Alan mengecup bibir atas dan bawah dengan lembut secara bergantian. Mencium dengan begitu pelan menikmati setiap sentuhan yang memabukkan.
Alana memejamkan mata, ia ikut terbuai dengan perlakuan Alan yang lembut. Ia yang awalnya memberontak kini mengikuti arus permainan dari sang pria. Pengalaman pertamanya yang tidak pernah ia duga.
Bibir mereka bertautan, memangut serta menyesapi setiap rasa yang tercipta. Alan tampak menikmati bibir kenyal sang istri. Seolah tak ingin momen ini berakhir.
"Emhh.."
Mendengar sang istri mendesah, Alan makin bersemangat. Ingin meminta lebih dari sekedar yang dilakukan. Perlahan, bibir itu mengecupi bibir bawah Alana.
Beberapa kali mencoba, bibir itu tak mau terbuka. Hingga akhirnya, Alan terpaksa menggigitnya.
"Akh!"
Berhasil! Alan mulai memasukkan lid*hnya kedalam mulut Alana. Saling berperang lid*h. Mengeksplor semuanya, menikmati rasa manis disetiap ciuman mereka.
Tak mendapat penolakan dari sang wanita, Alan mulai melakukan hal lain. Tangannya yang berada di tengkuk kini turun kebawah. Melewati garis tulang selangka sang wanita terus turun hingga mendarat di gundukan sempurna. Tangan nakal itu mulai menekan dan mengusap lembut bulatan Indah itu. Mendengar Alana kembali mendesah, pikiran Alan mulai tak terkendali. Ditangkupnya bulatan itu lalu menyentuhnya secara kasar.
"Emhh.."
__ADS_1
"Oh ****, kamu sangat cantik Alana..."
Tok tok!
Suara ketukan dipintu menyadarkan keduanya. Alana segera mendorong tubuh Alan menjauh. Ia kemudian berlari menuju pintu.
Susan berdiri didepan kamar, terkejut saat melihat Alana keluar dari kamar Bosnya. Baru sekarang ia melihat istri bosnya ada dikamar itu. Kamar mereka memang telah terpisah sejak awal pernikahan mereka. Alana yang keluar secara mendadak sungguh mengejutkannya.
"A-ada apa Susan?" tanya Alana gugup, sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Susan melihat apa yang dilakukan Alana. Senyum kecil tersungging dibibirnya. "Selamat pagi Nona Alana. Maaf karena mengganggu Anda dan Pak Alan. Saya akan kembali lagi nanti. Permisi."
Bukannya mengatakan tujuan Susan datang, wanita itu justru mengatakan hal yang membuat Alana bertanya-tanya.
"Katakan saja ada apa. Kamu tidak mengganggu kami kok."
Susan semakin tersenyum geli. "Pagi ini sedikit mendung Nona."
"Benarkah? Lalu kenapa?" tanya Alana polos.
"Tidak Bagus keluar rumah. Begitupun dengan Pak Alan. Jadi, bisakah Nona menanyakan padanya apa yang ingin beliau santap untuk sarapan pagi ini?" ucap Susan dengan menahan senyum dibibirnya.
"Nonalah yang harus bertanya hal itu pada Pak Alan."
"Kenapa harus aku." protes Alana.
"Kalau begitu haruskah saya masuk kedalam?" tanya balik Susan.
Alana melebarkan bola matanya, didalam Alan sedang bertelanjang dada. Bagaimana jika Susan melihat keseksian suaminya? Tunggu! Kenapa juga ia mengkhawatirkan hal itu? Tapi Susan juga wanita bagaimana mungkin ia biarkan wanita lain melihat tubuh aduhai suaminya? Pikiran Alana berkecamuk.
“Susan kamu pergilah, nanti akan kutanyakan padanya.”
“Baik.”
“Dan juga… tolong siapkan makanan dan minuman, nanti siang akan ada tamu kemari.” Imbuh Alana.
“Baik Nona. Saya permisi.”
Alana bimbang ingin kembali kedalam. Haruskah ia menemui Alan lagi. Setelah apa yang mereka lakukan beberapa saat lalu? Ia masih malu! Tak menyangka akan berciuman dengan pria itu. Seharusnya ia menolaknya? Justru yang dilakukan adalah larut dalam cumbuannya. Dasar bodoh!
Alana melangkah masuk kedalam kamar, ia melihat Alan telah berpakaian lengkap, sedang membelakanginya berdiri didekat rak buku.
__ADS_1
“Tadi Susan datang, menanyakan makanan apa yang mau kamu makan.” Alana berbicara tanpa melihat pria itu.
“Kupikir kamu sudah pergi." Alan melirik sebentar. "Biar aku yang memberitahunya. Kamu bisa kembali ke kamar.”
Alana melihat Alan, pria itu tak berpaling sedikitpun dari posisinya. Sama seperti dirinya, Alan tak melihat kearahnya. Pria itu justru sibuk memilih buku-buku didepannya.
“Ba-baik. Aku akan kekamar.”
“Hm.”
Alana berlari keluar. Masuk kedalam kamarnya sendiri dan menutup rapat pintu. Melempar dirinya keatas kasur dengan posisi menelungkup. Menyembunyikan wajahnya dibantal.
“Argghh!! Bodohnya aku! Kenapa mau saja dicium pria gila itu! Aaaa…” Alana terus berteriak menyalahkan diri sendiri. Wanita itu berharap sekali berada di lubang terdalam di bumi, agar tak ada seorangpun mampu menemukannya dan mengetahui sikap bodohnya!
^
Pukul 11 siang, orang tua Alana datang ditemani oleh Mama Alan. Kedatangan mereka membuat Alana merasa bahagia. Alana hanya memiliki orang tua yang paling dekat dengannya dikota ini. Kehadiran mereka sungguh memberi arti sendiri baginya.
Alana langsung duduk ditengah ibu dan ayahnya, merangkul mereka seolah tak ingin terpisah. Bermanja ria meskipun disana ada suami maupun ibu mertuanya. Tak peduli ia dianggap anak kecil sekalipun, karena Alana hanya nyaman saat bersama mereka.
“Duh duh, saking senengnya sampe suami dicuekin begini. Al, pelet kamu kurang kuat deh kayaknya Al…” goda Mama Alan. Melirik sang anak yang duduk disebelahnya.
“Pelet apa sih Ma.” Balas Alan pura-pura tak paham.
“Tuh lihat, istrimu masih nempel sama orang tuanya lho. Baru datang langsung dipeluk gak mau lepas gitu. Seharusnya kamu yang dipeluk begitu! Ya Kan!” celetuk Mama Alan.
“Biarin aja, toh dia lagi kangen sama mereka.” Balas Alan datar, namun matanya melirik Alana merasa sedikit terabaikan. Ucapan Mamanya memang benar, Alana memang tidak akan sedekat itu dengannya. Ada setitik rasa kecewa.
“Al, gimana?” bisik Mama Alan.
“Gimana apa Ma.” Alan menoleh penuh tanda tanya.
“Kamu dan Alana udah malam pertama kan?”
Uhuk!
Alan tersedak air ludahnya sendiri. Ia sungguh tak menyangka akan diberi pertanyaan semacam itu.
“Kenapa tanya hal itu sih Ma!” balas Alan dengan suara pelan, takut Alana dan orang tuanya mendengar.
“Tentu Mama mau tau Al! Kamu menikah kan juga ingin dapat keturunan, lebih cepat lebih baik Al. Gak usah ditunda-tunda ya. Mama pingin gendong cucu! Ayo Al minta pada istrimu.” ucap Mama menggebu.
__ADS_1