Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Kamar Alan


__ADS_3

Alana turun dari mobil Ranger Rover yang dikendarai Alan. Belum juga tubuhnya keluar dari mobil, Alan sudah mengintruksi sebuah perintah padanya.


"Ke kamarku." Ucapnya tanpa menghentikan langkah dan masuk kedalam rumah.


Alana menghentakkan kaki ke tanah melihat sikap dingin pria yang kini telah menyandang status sebagai suaminya itu. Sikap Alan benar-benar tidak bisa ditebak. Kadang bicaranya bisa baik dan lembut, kadang sadis seperti iblis. Seorang pria aneh yang memiliki kepribadian ganda. Dan tentunya sangat langka. Bukankah seharusnya mereka dibudidayakan agar bermanfaat untuk masyarakat? Ini justru malah meresahkan.


Tunggu! Kenapa Alana baru sadar jika Alan menyuruhnya ke kamarnya? Apa maksudnya? Perasaan Alana tidak enak.


"Susan!"


Beruntunglah Alana, ia tak sengaja bertemu Susan dibawah tangga. Ia cepat-cepat menghampiri pengawal wanitanya itu.


"Nona sudah pul-"


"Ikut aku!" tanpa minta persetujuan, Alana langsung menarik tangan Susan menuju keatas. Ia berencana mengajak Susan untuk menemaninya menemui Alan.


"Nona kita mau kemana?"


"Sudah ikut saja." sela Alana terus menarik Susan hingga sampai didepan sebuah pintu berbahan besi berwarna hitam metalik. Alana maupun Susan menelan ludah  susah payah menatap ngeri pintu didepan mereka. Pintu kamar milik Alan.


"Nona Alana, kita mau apa disini?" suara Susan tercekat.


"Temani aku ya Susan, please?" pinta Alana memelaskan wajah. Meminta Susan agar mau menemaninya masuk. Ia tidak mau kejadian beberapa hari lalu terulang kembali.


"Emb, tapi saya...."


Ceklek!


Tiba-tiba pintu didepan mereka terbuka, membuat tubuh keduanya terlonjak kaget. Alan keluar dari dalam, menatap dua wanita yang berdiri tegang didepannya. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya melirik pada Susan.


"Sa-saya baru mau pergi Pak. Tadi saya tidak sengaja bertemu Nona Alana disini. Kalau begitu saya permisi." pamit Susan melirik Alana sekilas dengan raut wajah meminta maaf karena tak bisa menemaninya. Ia langsung melangkah pergi dari sana. Menghilang dari balik anak tangga.


"Kenapa kamu diam disitu. Masuk." Alan membuyarkan lamunan Alana dan berjalan lebih dulu kedalam kamar. Mau tidak mau, Alana ikut masuk.

__ADS_1


Baru kali ini Alana masuk kedalam dan melihat isi Kamar Alan. Kamar yang bernuansa Dark grey itu tampak mainly khas pria. Warna hitam mengisyaratkan penuh misteri dan abu-abu yang mendominasi lantai serta tirai menampilkan kesan simple namun tetap klasik.


Ada kasur berukuran king serta meja kecil di sisi kanannya. Sofa dan meja setengah lingkaran di pisahkan disudut ruangan dekat dengan lemari berwarna coklat gelap berisi buku-buku berjajar rapi. Ada sebuah pintu berbingkai emas disamping kamar mandi. Ingin Alana tahu apa yang ada dibalik pintu itu.


"Duduklah."


Alan meminta Alana duduk di sofa sedangkan pria itu berjalan menuju pintu berbingkai emas itu. Saat Alan membukanya, Alana melirik sekilas, ia sedikit melihat ada beberapa rak-rak berisi barang-barang. Seperti sebuah tempat penyimpanan.


Tak berselang lama, Alan keluar dan membawa sebuah benda persegi besar ditangan. Pria itu menghampirinya.


"Kenapa berdiri, duduklah disana." Alan berjalan menuju sofa dan duduk. Alana mengikuti Alan, ia mendaratkan bokongnya di sofa samping pria itu.


"Apa itu?" tanyanya penasaran. Melirik benda persegi dimeja.


"Ini album foto keluargaku. Akan kujelaskan sedikit dari mereka. Agar kamu tahu, bagaimana keluargaku selama ini." jelas Alan. Pria itu menggangsurkan tubuhnya lebih dekat pada Alana, dan memulai membuka album foto itu.


'Oh rupanya dia mau memberitahuku tentang keluarganya. Kupikir apa. Percuma aku takut. Dia itu memang suka bikin orang jantungan.' gumam Alana dalam hati. Menyalahkan Alan dengan alasan apapun di kepalanya.


Alan mulai menunjukkan siapa saja foto-foto yang ada disana. Ada Mama Alan dan Ayahnya saat masih hidup. Ada paman Alan juga. Satu persatu Alan tunjukkan keluarganya pada Alana.


"Wah siapa bayi mungil ini. Lucu sekali. Dia tampan, aduh manisnya. Siapa dia? Keponakanmu?" Alana bertanya sambil asik memperhatikan paras tamban nan lucu si bayi.


"Itu aku."


"Eh?" Alana terkejut. Ia pandang Alan dan foto itu bergantian. "Kamu? Sungguh?" tanyanya masih tak percaya. Mengerjapkan mata berulang kali.


"Hmm"


Jawaban singkat itu membuat raut wajah Alana langsung berubah kusam. Ia dengan cepat mengembalikan foto masa kecil Alan ke tempatnya. Ia sungguh malu baru menyadari kalau tadi sedang memuji pria menyebalkan itu. Bagaimana mungkin ia tahu jika itu Alan. Bayi kecil itu terlihat seperti malaikat tanpa dosa, namun kenapa saat dewasa sekarang mirip seperti iblis? Sungguh perubahan drastis memang.


"Kenapa kamu diam. Kamu tadi berkomentar aku manis dan tampan bukan? Benar?" Alan mulai mendekatkan wajahnya pada Alana, berusaha melihat ekpresi gadis itu dari dekat. Alana menundukkan kepala terlihat malu, dan Alan tahu hal itu.


"Lupakan ucapanku!" bantahnya seraya memalingkan wajah. Wajah Alana sudah bersemu merah, merasa salah tingkah. Bisa-bisanya bibirnya berucap hal menggelikan dengan menyebut Alan tampan dan lucu.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku sudah biasa dipanggil tampan oleh orang-orang. Jika ingin mengagumiku, boleh saja." ucap Alan percaya diri.


'Iiiiuuuhh, mimpi apa aku sampai mengaguminya! Otakku sudah tak waras!' umpat Alana dalam hati.


"Ge'er itu penyakit yang sulit sembuh, ya? Tidak heran siapapun merasa tak tahu diri karenanya." sindir Alana.


"Itu bukan penyakit, tapi anugerah. Bukan cuma buatku tapi juga untuk wanita yang dekat denganku. Setidaknya dia bisa memamerkan kekasihnya yang tampan ini." celetuk Alan seraya menyeringai puas. Alana merasa kalah telak.


"Aku mau tidur."


Alana bangkit dari duduknya. Merasa bosan dengan celoteh menyebalkan Alan.


"Baiklah. Kamu lelah bukan. Tidurlah." balas Alan.


"Besok aku mau olahraga diluar rumah. Disini aku bosan, jangan melarangku!"


"Kenapa olahraga diluar? Sudah ada ruang gym disini."


"Lebih sehat diluar! Sudahlah, kamu tidak akan tahu mauku. Pokoknya besok aku mau joging. Titik!" Alana berjalan cepat keluar kamar. Menutup pintu depan keras, menunjukkan betapa kesalnya wanita itu pada Alan.


^^


Pagi itu Alana bangun pukul 07.00. Ia sudah selesai mandi dan bersiap untuk melakukan olahraga pagi. Ia menguncir kuda rambutnya yang panjang. Memakai kaos putih berlengan pendek. Bercelana training berwarna biru. Serta memakai sepatu ket untuk melindungi kaki dari panasnya aspal jalanan.


Alana turun kebawah. Menghampiri Susan yang sudah berdiri disamping tangga. Seperti biasa siap untuk menjaganya dari bahaya entah darimana.


"Kamu tidak usah ikut ya. Aku mau olahraga sendiri."


"Tapi Pak Alan menyuruh saya-"


"Sehari saja! Kan cuma didepan! Aku bisa jaga diri." sela Alana bersemangat, menunjukkan jika ia baik-baik saja tanpa pengawalan dari Susan. Toh buat apa ia dijaga, ia juga bisa bela diri kok.


"Istriku benar. Tidak perlu menjaganya. Biar aku yang menemaninya." Tiba-tiba Alan datang dari pintu masuk. Pria itu berjalan santai kearah mereka.

__ADS_1


Alana sejenak diam memperhatikan penampilan pria itu. Alan tidak berpakaian formal seperti biasanya. Pria itu hanya memakai kaos hitam press body serta celana training seperti dirinya. Tubuhnya yang besar dan atletis menampakkan otot-otot sispek yang bersembunyi di kain tipis press bodynya. Namun tetap saja masih terlihat jelas dimata Alana. Membuat ia susah payah menelan air ludah.


__ADS_2