
"Abhi butuh waktu Pa."
"Berapa lama lagi yang kamu butuhkan? Kamu sudah lebih dari siap. Percaya pada Papa."
"Abhi yang lebih tahu kemampuan Abhi. Terjun ke dunia bisnis dan mengelola semuanya tidak semudah itu bagi Abhi. Tolong beri waktu Pa." Abhi meminta dengan penuh sesal. Dari dalam lubuknya, Ia masih belum siap menerima tanggung jawab itu. Ia tak akan bisa sehebat ayahnya dalam mengelola semua bisnis keluarga. Masih perlu beberapa waktu untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.
"Papa tidak akan memaksamu. Tapi papa punya alasan kenapa meminta itu padamu. Kamu ingat Pak Alan Giovani? Dia mengajukan kerjasama pada Papa. Kerjasama ini akan menjadi proyek terbesar yang pernah Papa kerjakan. Papa sudah putuskan akan menerima kerjasama yang ditawarkan Pak Alan. Progresnya kedepan sungguh luar biasa. Dia pria jenius, mampu memperkirakan apa saja yang akan dialami perusahaan jika kelak proyek itu berhasil. Seandainya kita bisa bekerja sama dengannya, kredibilitas perusahaan juga akan meningkat." jelas Papa menggebu.
"Tapi Pa..."
"Tolong pertimbangankan permintaan Papa. Jika kamu masih berpikir ingin mengejar istri Pak Alan, Papa tidak akan tinggal diam." tegas Papa seolah tahu apa yang sedang dipikirkan putranya.
"Pa! Abhi masih waras untuk tidak melakukan apa yang Papa katakan! Mana mungkin Abhi melakukan itu!" sangkal Abhi cepat.
"Kalau begitu berkerjasamalah dengannya. Itu tidak akan jadi masalah untukmu bukan. Kamu masih muda Abhi, banyak peluang mendapatkan wanita yang baik diluar sana. Lupakan dia! Kamu bukan pria perebut istri orang!" ujar Papa penuh penekanan. Abhi terdiam dibuatnya. Sungguh, ia sama sekali tak ingin dicap sebagai pria semacam itu. Perasaannya murni dan tulus pada Alana. Tak pernah terbesit dalam pikiran untuk merebutnya dari Alan. Dia hanya ingin melihat wanita itu bahagia. Itu sudah cukup. Ah, dia lupa jika Cinta bisa membutakan hati seseorang. Mungkin itulah yang Papa lihat darinya.
"Kapan kerjasama itu dilakukan?" tanya Abhi, sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bulan depan. Sebelum itu Papa ingin berkunjung ke perusahaan Pak Alan. Kamu mau ikut?"
"Nanti Abhi kabari jika ikut. Sekarang Abhi mau nyelesaiin urusan lain." balas Abhi.
"Baiklah. Lakukanlah yang kamu inginkan Abhi. Jangan lupa permintaan Papa tadi. Papa tahu apa yang terbaik untukmu. Jangan menundanya terlalu lama." Pembicaraan itu selesai saat Mama membawakan minuman pada mereka. Dilanjut makan malam bersama yang sudah jarang Abhi lakukan.
^^
Alana bangun lebih awal pagi ini. Ia keluar kamar dengan wajah berseri-seri. Hari ini ia dapat kabar, jika kedua orangtuanya akan berkunjung ke rumah. Ia ingin mempersiapkan apa saja hal yang diperlukan untuk menyambut mereka.
Alana pergi kedapur diiringi langkah ringan. Seulas senyum hangat tercetak diwajah cantiknya. Ia juga menguncir kuda rambut panjangnya. Tentunya dengan pakaian rumahan santai.
"Selamat pagi." Alana menyapa para pelayan yang lebih dulu berada di dapur.
"Pagi Nona." jawab mereka bersama. Raut wajah mereka tampak bingung atas kedatangan gadis itu disana. Alih-alih peduli, Alana justru berjalan ke lemari pendingin dan mencari sesuatu disana. Kepala maju kedepan agar bisa mencari apa yang ia butuhkan.
__ADS_1
"Cari apa Nona, bisa saya bantu?" tanya pelayan menawarkan bantuan untuknya.
"Tidak perlu, aku sudah dapat semua." Alana mengambil semua yang ia perlukan dari dalam benda berbentuk balok panjang itu. Ia letakkan beberapa bahan makanan dimeja.
Disana ada buah strawberry, cokelat, keju, susu kental manis, tepung dan bahan lainnya. Dilihat dari semuanya bahan yang ada, Alana akan membuat kue.
"Saya akan membantu Nona."
"Tidak perlu. Kalian lanjut pekerjaan kalian saja ya." balas Alana lembut. Karena memang ia ingin membuatkan makanan enak untuk kedua orang tuanya. Hasil usahanya sendiri.
"Baik. Jika perlu bantuan Nona bisa meminta pada kami."
"Baiklah."
Alana kembali berkutat dengan semua bahan makanan yang akan dibuat kue. Memotongnya kecil-kecil, mencampurkannya kedalam loyang. Mengaduk hingga tercampur merata. Sesekali mencicipi rasanya apakah sudah pas.
Adonan yang telah dibuat, kini ia masukkan kedalam oven. Menekan pengatur suhu dan waktu. Ia tunggu beberapa menit hingga kue yang sudah dipanggang telah matang sempurna.
Aroma khas kue tercium enak dan lezat diindera penciuman. Alana mengeluarkan kue-kue itu dengan memakai sarung tangan. Meletakkannya perlahan di meja.
"Kalian mau coba?" Alana justru menawarkan makanan itu pada mereka.
"Apakah boleh Nona?" ucap pelayan ragu, ia dan temannya terlihat tak berani memakan makanan buatan majikannya.
"Hehe, tentu saja boleh. Tolong incipi dan kasih sarannya ya." Alana menyodorkan potongan kue pada mereka. Mereka pun langsung mencicipinya dengan semangat. "Bagaimana? Apa ada yang kurang?"
Mereka kompak geleng-geleng kepala cepat. Dengan mulut masih menguyah, diacungkannya dua jempol dari mereka masing-masing. Kepala mereka anggukkan cepat. Pertanda jika mereka sangat menyukai masakan buatan Alana. "Enak sekali Nona!"
Nafas lega terdengar dari Alana. Ia senang karena makanannya selesai dengan hasil memuaskan. Tidak rugi dia belajar masak dari video online.
"Sekarang bisa simpankan makanan ini? Nanti akan ada tamu kesini. Hidangkan kue ini nanti ya." pinta Alana.
"Baik Nona!" jawab mereka kompak.
__ADS_1
Alana menyerahkan makanan itu pada mereka. Sekarang ia ingin mencari Alan, mencari tahu kapan kedua orangtuanya datang.
Tok tok!
"Masuk."
Kepala Alana melongok lebih dulu kedalam kamar Alan. Ia melihat pria itu berdiri membelakanginya dengan bertelanjang dada. Tengah meresletingkan celana. Melihat itu, Alana berbalik cepat, dengan wajah merona menahan malu. Apa-apaan pria itu!
"Ada apa?"
DEG!
Jantung Alana hampir copot ketika suara Alan terdengar sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Sepertinya Alan berdiri cukup dekat dibelakangnya.
"Apa dia sudah memakai semua pakaiannya?" Alana bergumam sendiri. Merasa sungkan untuk berbalik menghadap pria dibelakangnya.
"Kenapa diam? Ada perlu apa kesini?" tanya Alan kembali bertanya.
"Emb, itu.. Ayah dan Ibu, kapan mereka kesini?"
"Kamu kesini hanya ingin bertanya itu saja?"
"I-iya.."
"Balikkan badanmu! Aku tidak suka bicara dengan hanya menatap punggungmu!" tukas Alan.
Alana mendesah kesal, ia memang tak suka jika bicara saling memunggungi seperti ini. Tapi jika pria itu tidak mengenakan pakaian dengan benar, bagaimana ia bisa fokus bicara!
"Sudahlah b-begini saja! Jawab dulu pertanyaanku!" tolak Alana tetap pada posisinya sekarang.
"Kamu kenapa? Apa ada yang salah?" Alana mendengar langkah kaki Alan mendekat. Jantungnya kian berpacu cepat. Aroma sabun menguar tajam di penciumannya. Yakin 100% jika Alan belum berpakaian lengkap!
"Ka-kalau begitu aku pergi saja!"
__ADS_1
Belum sampai kaki Alana melangkah, ia merasa tangannya ditarik kebelakang. Tubuhnya limbung hingga dirinya jatuh menabrak dada telanjang Alan.
Kedua mata Alana terbuka lebar ketika dihadapankan dada bidang berotot berbentuk roti sobek. Tampak 6 kotak berderet rapi diperut pria itu. Terasa keras dan liat. Tetesan air masih melekat dibeberapa bagian dikulit, aroma sabun menguar harum ditubuh pria yang kini telah menjadi suaminya. Alana terpaku sesaat, ia tak bisa berkata-kata melihat pemandangan aduhai didepannya.