Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Jilo Si Anjing Lucu


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin, Alana tidak diperbolehkan keluar rumah. Alan menambah penjagaan dibeberapa sudut rumah, dan meminta para pelayan lebih extra dalam pengawasan terhadap Alana. Hal itu membuat gadis itu menjadi tahanan rumah.


Alana berada seharian di kamar. Tidak melakukan kegiatan apapun. Pintunya selalu terkunci dari dalam. Tak seorangpun diijinkan masuk kecuali Susan sang pengawal. Ia merasa menjadi pusat pengawasan oleh semua orang. Mata mereka selalu tertuju padanya membuat Alana menjadi risih. Ia memutuskan berdiam diri dikamar. Ia tidak ingin bertemu dengan pria jahat itu. Alana masih marah padanya hingga sekarang.


Sayup-sayup Alana mendengar perselisihan di luar. Ia yang tengah rebahan di kasur segera turun dan melihat dari jendela kamar.


"Dia??"


Alana kaget bukan main, dibawah sana tepatnya di pos penjaga, Alana melihat Abhi berusaha masuk. Berselisih dengan para penjaga agar mengijinkannya masuk kedalam.


"Mau apa dia datang kemari? Bagaimana jika Alan tahu dia datang? Aku harus menemuinya lebih dulu!"


Alana cepat-cepat berlari ke pintu dan bergegas keluar kamar.


"Nona Alana, mau kemana?" Susan melihat Alana keluar dari kamar dan berlari cepat menuju bawah.


"Aku mau kedepan sebentar!" seru Alana sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan. Susan meletakkan susu hangat untuk diberikan Alana, ia ikut mengejar Nona Mudanya. Takut terjadi apa-apa dengannya.


Alana hampir sampai dipintu utama, ia menoleh sekitar, mencari keberadaan seseorang. Ia sedang mencari Alan. Tidak mau jika nanti pria itu tahu jika ia keluar rumah dan menemui Abhi di pos penjaga.


"Sepertinya dia pergi. Oh syukurlah." Alana bernafas lega. Merasa aman, Alana membuka pintu dan keluar secepat mungkin. Tak menemukan tanda-tanda keberadaan Alan dirumah. Ia segera mempercepat langkahnya ke depan.


"Abhi!"


Pria yang ia panggil menoleh ke arahnya. "Alana..."


"Apa yang kamu lakukan disini? Cepat Pulanglah!" pinta Alana. Wajahnya tampak khawatir. Ia sangat takut jika Alan tahu Abhi disini.


"Jangan cemas Al. Aku akan baik-baik saja." Abhi tahu, Alana mengkhawatirkannya. "Kamu baik-baik saja kan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak Bhi, dia tidak melakukan apapun." jawab Alana berdusta. Ia palingkan wajah agar Abhi tak melihat kebohongannya. Pria itu sudah sangat baik padanya. Alana tidak mau jika karena dia, Abhi kena masalah.


"Al, jika kamu butuh seseorang, kamu bisa menemuiku. Kita bertetangga, akan lebih mudah kamu menemuiku. Aku janji akan menjadi orang yang selalu membantumu." ujar Abhi tulus.


"Bhi, kamu sangat baik padaku. Terima kasih. Lebih baik kamu pergi sekarang. Kumohon...." pinta Alana. Ia benar-benar takut jika Alan muncul disana.

__ADS_1


"Nona Alana, segeralah masuk. Jika Bapak Alan tahu, beliau bisa memecat kami." ujar penjaga. Dua orang itu tampak gelisah.


"Al, ini kukembalikan milikmu." Tiba-tiba Abhi memberikan seekor anjing yang ia bawa didalam kandang kecil. Anjing yang sama saat mereka membelinya di Petshop. Rupanya, Abhi membawanya lagi. Untuk diberikannya pada Alana.


"Kamu kesini hanya ingin memberikan ini padaku?" tanya Alana tak menyangka. Ia memeluk anjing itu dengan erat. Wajahnya sumringah seketika.


"Kamu pantas menerimanya. Jilo akan senang jika kamu yang merawatnya." ucap Abhi tersenyum kecil.


"Jilo? Kamu sudah menamainya?" tanya Alana.


"Hem, Jilo dan Shu, jika mereka dewasa aku berniat menjodohkan mereka." ujar Abhi tertawa kecil. Lesung pipit pria itu terlihat mempesona. Alana ikut tersenyum, Abhi memang pria baik dan... Tampan.


Ya Alana akui, pria itu memiliki pesona yang mengagumkan. Abhi pria yang humble dan ceria. Tidak memandang status seseorang dan mudah berteman. Alana beruntung bisa bertemu dan berteman dengannya.


"Terima kasih ya. Aku janji akan merawatnya." ucap Alana tulus.


"Hem. Ini bawalah, dia bisa kamu bawa kemana-mana nanti." Abhi menyerahkan kandang kecil yang bisa dibawa dengan tangan. Alana mengambilnya.


"Iya."


Alana menggeleng. "Tidak mau. Kamu pergi dulu."


Abhi tertawa, ia merasa lucu dengan tingkah Alana. Gadis itu terlihat menggemaskan. Alana memegang anjing seperti anak kecil sedang bermain dengan hewan peliharaannya. Bibirnya mengerucut, membuat Abhi ingin.....


"Ehem! Baiklah aku pergi. Ingat pesanku tadi. Aku akan selalu ada untukmu Al." ucap Abhi menghilangkan isi pikirannya pada gadis itu.


"Iya. Sampai jumpa."


"Bye Al." Abhi berbalik dan berjalan keluar gerbang. Sebelum pintu itu tertutup Abhi menoleh seraya melambaikan tangan. Hingga sosoknya telah menghilang dibalik gerbang rumah.


Alana berjalan menuju rumah. Ia terlihat senang karena mendapatkan anjing selucu Jilo. Anjing itu tidak rewel, diam manis sesekali menjilati kaki mungilnya. Alana beruntung diberikan Abhi seekor anjing lucu. Ia tidak akan kesepian di rumah ini.


Alana membuka pintu rumah pelan-pelan. Berharap para pelayan tidak memergokinya. Susan juga tidak terlihat, ah mungkin saja pengawalnya itu sedang ada kerjaan lain. Ia merasa beruntung ketika tak menemukan siapapun dilantai bawah.


Alana berniat naik keatas, ketika namanya tiba-tiba dipanggil dari belakang. Sontak tubuhnya membeku.

__ADS_1


"Alana, darimana kamu?"


Deg!


Suara pria jahat yang sejak kemarin ingin ia hindari. Kenapa bisa ia mendengarnya saat ia yakin pria itu telah pergi. Bukankah diluar tidak ada mobilnya? Lalu kenapa ia bisa ada dirumah?


Alana berputar secara perlahan. Ia sembunyikan kandang kotak berisi Jilo dibelakang tubuhnya. Alana menunduk, hanya melihat kaki pria itu. Keringat dingin memenuhi pelipisnya. Ia merasa akan terjadi hal buruk. Apa Alan tahu Abhi datang kemari?


"Kenapa diam? Jawab pertanyaanku." suara Alan terdengar rendah. Namun terasa mencekam di pendengaran Alana. Menegangkan seluruh otot ditubuhnya.


"A-aku tadi ke depan s-sebentar. Hirup u-udara segar." cicit Alana. Ia meruntuki mulutnya yang bergetar.


"Apa yang kamu bawa. Anjing siapa itu?"


"Emb, i-ini..." Alana kaget saat Alan mengetahui Jilo dibelakang tubuhnya. Bingung harus menjawab apa. Jika Alan tahu Abhi yang memberikannya, bagaimana reaksi pria itu? Ah, untuk apa bertanya lagi! Tentu saja dia akan ngamuk atau mungkin membunuh anjing ini!? Alana benci situasi seperti ini.


"Aku membelinya! Tadi aku titip pak penjaga buat beli anjing ini!" ucap Alana berdusta.


"Membelinya? Kamu dapat uang dari mana?" selidik Alan.


'Keterlaluan! Apa dia sedang menyindirku?! Tentu saja aku punya uang! Enak saja!' gerutu Alana dalam hati. Kesal karena Alan menuduhnya tak punya uang!


"Aku punya tabungan ya. Jadi suka-suka aku mau beli apa! Yang penting aku tidak minta darimu!" ketus Alana masih sebal.


"Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus minta padaku." tegas Alan seraya berjalan mendekat, tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. "Pakai ini."


Alan menyodorkan sebuah kartu tipis berwarna hitam, dengan tulisan keemasan. Alana melirik heran.


"Apa itu?"


"Kartu kredit. Kamu bisa pakai sepuasmu. Belilah yang kamu mau." ujar Alan


Alana menerimanya. Walaupun ia tidak terlalu paham cara pakai kartu hitam itu. Melihat Alan dalam mode tenang sepertinya jauh lebih baik untuk tidak membantahnya.


"Baiklah akan kusimpan."

__ADS_1


"Digunakan, bukan disimpan. Akan kucek setiap minggu. Tidak ada pengeluaran sepeserpun, aku akan menghukummu." Alan mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Alana. "Ingat urusan kita kemarin belum selesai. Aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan." Alana menoleh, ia merasa pandangan Alan tertuju pada bibirnya dengan penuh nafsu. Apa-apaan pria itu!


__ADS_2