
"Alana? Sudah pulang Nak?"
Nyonya Ellyasvega dengan memakai baju daster dan sandal jepit di dikaki, segera menghampiri sang putri yang berdiri didepan pintu rumah.
Melihat putrinya terdiam, Nyonya Ellasvega kembali bertanya. "Kamu sudah pulang sayang? Ayo duduk disana. Kebetulan ibu mau bicara sesuatu." ajak Nyonya Ellyasvega.
Alana tidak mendengarkan ucapan sang ibu. Tatapannya tertuju pada dua pria yang tengah duduk didepan ayahnya. Tanpa sengaja, pandangan Alana bertemu dengan mata hitam pekat milik Alan. Keduanya saling beradu pandang. Menyiratkan arti berbeda.
Alana melihat Alan dengan sorot mata bingung, seolah tengah menahan perasaaan dalam diri, bertanya-tanya mengapa pria didepannya ini harus datang ke tempatnya. Mengejutkan keluarganya yang sejak awal hidup dengan tenang. Kedatangan Alan bagi Alana.... Adalah musibah besar. Setelah mendengar alasan kedua orang itu datang kerumah.
Sedangkan Alan, pria itu sedang mengamati penampilan Alana dari atas sampai bawah. Ia sediki heran, bagaimana seorang gadis desa bisa memiliki penampilan berbeda dari pemikirannya. Alana terlihat cantik, berkulit putih, berpakaian sederhana namun .....
Deg!
Alan baru menyadari aura gadis desa seperti Alana ini adalah pertama kali ia lihat. Alana dengan kulit wajah putih memiliki bola mata cokelat begitu indah, hidung mancung dan bibir yang segar seperti cerry yang baru dipetik. Sungguh menggiurkan jika dikecup....
'****!! ****!! Bisa-bisanya aku berpikiran gila begini! Pikiranku sudah tak waras.' pekik Alan dalam hati. Ia geleng-geleng kepala menyingkirkan pikiran bodoh yang kini sedang menguasainya. Tanpa sadar mengagumi sosok gadis bernama Alana itu.
"Duduk sini Al."
Nyonya Ellyasvega menyuruh Alana duduk di kursi yang hampir berdekatan dengan Alan. Sedangkan beliau kembali duduk bersama suaminya.
Alana tak henti-hentinya menatap tajam kepada Alan dan Felix. Sorot matanya menelisik, menilai sosok mereka berdua. Terlihat seperti tak senang akan kehadiran mereka. Felix menyadari itu, mungkin kedatangan mereka tidak diharapkan oleh gadis itu.
"Alana, perkenalkan mereka adalah Pak Alan dan Pak Felix. Mereka datang jauh-jauh dari Jakarta untuk bertemu dengan kita." ujar Pak Hery.
Alana hanya diam, matanya tak lepas memandang dua sosok didepannya. Pandangan yang dipenuhi pikiran macam-macam. Hingga sang ayah kembali bicara.
"Pak Alan ini, dia adalah anak dari Pak Jeremy teman Ayah. Dia datang kesini untuk bertemu denganmu. Sapalah dia Alana." pinta Pak Hery.
"Alan? Jadi namamu Alan?" Alana bicara tanpa embel-embel Pak. Seolah pria didepannya itu tak pantas diperlakukan hormat. Ia justru terlihat membencinya ketimbang pada Felix, setelah sang ayah memberitahu siapa pria itu sebenarnya.
"Jadi kamu Alana ya. Senang bertemu denganmu." Alan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Tersenyum kecil. Hanya sekedar basa basi.
Alana melirik tangan itu sekilas, tiba-tiba saja ia tersenyum smirk tanpa siapapun tahu. Ia menyambut tangan Alan.
__ADS_1
"Ya, aku Alana. Senang bertemu denganmu."
Krek!
Alan mendelik, saat sendi jemarinya terasa nyeri. Ia melirik tangannya. Ternyata Alana sengaja menggenggam tangan Alan dan merematnya kuat. Saking kuatnya, tangan besar Alan sampai bergetar.
'Apa maksudnya ini, dia... D-dia bisa meremukkan tanganku dengan cara ini. Apa dia membenciku?' batin Alan menerka. Alan berpikir jika Alana bukan gadis sembarangan, gadis itu memang tidak menyukainya.
"Pak, Anda tidak apa-apa?" ternyata Felix mendengar suara sendi tangan Alan yang patah akibat Alana. Ia berbisik pelan.
"Aku tidak apa-apa." balas Alan singkat. Kedua mata mereka kembali bertemu. Alan menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum kecil.
Alana semakin kesal melihat ekpresi yang diberikan Alan padanya. Seolah pria itu sedang meremehkannya. Ia semakin tak menyukai Alan.
"Apa mau kalian?" Alana melepaskan tangan Alan, dan kembali bersikap acuh.
"Membawamu bersama kami." jawab Alan seenaknya. Hal itu berhasil membuat Alana melotot kearahnya.
"Aku tidak mau! Apa hakmu membawaku dari sini. Pacar bukan suami bukan! Enak saja." tolak Alana bersungut-sungut.
"K-kamu!"
"Alana, jaga nada bicaramu Nak. Jangan berkata kasar pada Pak Alan." tegur Nyonya Ellyasvega.
Kesal karena ucapan Alan, dan tidak mau para tetangga mendengar keributan dirumah mereka, Alana akhirnya diam. Ia memalingkan wajah dari si pria menyebalkan disampingnya.
"Kapan Pak Alan membawa putri kami, mengingat kedatangan kalian yang mendadak, kami belum sempat mempersiapkan semuanya." tanya Pak Heri.
"Secepatnya Pak. Kalau bisa malam ini juga boleh." jawab Alan.
"Malam ini? Apa tidak besok pagi saja? Malam-malam seperti ini tidak ada kendaraan yang beroperasi. Kapal maupun becak motor." ujar Pak Heri, saling berpandangan dengan istrinya.
"Begini saja." saut Nyonya Ellyasvega, "Bagaimana jika malam ini kalian tidur disini, besok pagi baru pergi. Saya dan suami saya akan mempersiapkan barang-barang Alana yang harus dibawa."
"Ibu! Kenapa kalian seenaknya memutuskan kapan aku pergi? Apa ibu dan Ayah tidak sedih aku pergi?" lirih Alana dengan mata berkaca-kaca, buliran air hampir jatuh diwajahnya.
__ADS_1
"Alana.."
"Kenapa aku harus pergi dengan orang yang tidak kukenal!? Apa kalian semudah itu percaya dengannya? Bagaimana jika aku diperlakukan tidak baik oleh mereka!? Apa kalian tidak mengkhawatirkanku? Aku anak kalian, bukan barang yang bisa dibawa pergi seenaknya!!" Alana cepat berdiri dan berlari masuk kedalam kamar. Sembari menahan tangis.
"Alana.." Nyonya Ellyasvega berniat mengikuti Alana, namun suaminya menahannya.
"Biarkan dia sendiri. Kita akan membujuknya nanti." ucap Pak Heri. Nyonya Ellyasvega kembali duduk. Menuruti perkataan suaminya.
"Malam ini, kalian istirahatlah disini. Ada kamar kosong bisa kalian tempati. Istriku akan menyiapkan keperluan kalian."
"Baik. Terimakasih atas bantuan Anda." ucap Alan.
^
"Menurut Pak Alan, apa Nona Alana akan ikut bersama kita?"
"Dia harus ikut."
"Jika dia menolak bagaimana pak?"
Alan menatap langit-langit kamar berbahan kayu. Dinding, alas tanah maupun kerangka tempat tidur semua terbuat dari kayu. Sebegitu sederhana keluarga calon istrinya.
Sejak Alan masuk kedalam rumah, ia terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat keluarga Ellasvega begitu pantas bersanding dengan keluarganya. Apa kelebihan mereka?
"Felix tidurlah, kita pikirkan besok. Kamu tahu bagaimana lelahnya aku hari ini." Alan membalikkan tubuhnya membelakangi Felix. Menutup pembicaraan mereka.
Sedangkan di kamar lain, Ibu Alana masih berusaha membujuk putrinya. Gadis itu merebahkan tubuhnya membelakangi sang Ibu. Menolak untuk mendengarkan apapun yang dikatakan padanya.
"Sudahlah, biarkan dia tidur. Besok kita bujuk dia lagi." Ayah Alana masuk kedalam kamar, mengajak sang istri pergi. Sudah kebiasaan, jika putrinya susah dibujuk, mereka akan melakukannya esok hari disaat hati sang anak melunak.
"Selamat malam sayang. Istirahatlah." tutur ibu Alana seraya memberikan kecupan dikening sang anak. Mereka keluar dari kamar dan menutup pintu.
Merasa tak ada orang, Alana menggerakkan tubuhnya. Ia perlahan duduk, lalu kedua kaki mungilnya menginjak lantai kayu seraya berjalan ke arah pintu.
Alana membuka pelan pintu kamar, melongok keluar yang dimana lampu ruangan sudah dimatikan. Masih tanpa suara, ia mendekati sebuah kamar di samping kamar miliknya. Ia ketuk perlahan pintu itu, menunggu sang penghuni keluar.
__ADS_1