Permata Kecil Matahari

Permata Kecil Matahari
Dia diabaikan....


__ADS_3

“Hallo kak Ketua Osis”


Dengan kikkuk Laura menjawab panggilan pemuda itu dan melambaikan tangannya.


“Apakah ada yang perlu kak?”


Laura bertanya tanpa ragu dan segan.


“Laura Justin…..”


Pemuda itu tersenyum dan memandang wajah Laura dengan kerinduan yang dalam, pemuda itu ingin mengatakan, ‘Permata kecilku akhirnya kita bertemu’, tetapi dia menelan kata katanya karena dia sangat yakin Laura sama sekali tidak mengingatnya.


“Ya”


Laura bingung, kenapa Laura merasa ada arti yang sangat dalam dari kalimat pemuda ini, Laura mengeryitkan dahinya, dia bingung harus bereaksi seperti apa.


“ahh, intinya semangat untuk perlombaan ini dan kakak percaya Permata Kecil kami tidak akan mengecewakan kami kan, ya sudah lanjut saja kakak pergi sibuk dulu, byee”.


Dalam sekali nafas pemuda itu mengucapkan kalimatnya dan mengakhirinya, dia berpikir masih ada waktu, mungkin secara per lahan lahan dia bisa lebih dekat lagi dengan Laura.


“Iyahh kak, byee..”


Dengan kikkuk Laura melambai memberi respon, dia bingung dan ingin bertanya tetapi pemuda yang mencegah dia telah pergi meninggalkan tanda tanya yang besar bagi Laura.


“ada apa Laura, kenapa berhenti, ayoo jalan, ntar hilang lohh.”


Sintia membuyarkan lamunan Laura.

__ADS_1


“ahh ia, coming”


Laura menepis rasa penasarannya dan segera bergabung dengan teman teman yang lainnya,


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan.


(sebagai pemimpin tim kenapa rasanya Laura yang tertinggal mulu yahh) penulis menggeleng gelengkan kepala.


...,............


Sampai sore hari Laura dan teman temannya masih setia berada di Perpustakaan, tentu saja itu mereka lakukan karena tidak ingin kalah dalam perlombaan Bidang Studi yang akan diadakan dua hari yang akan datang.


SMA Laura hanya mengikuti Perlombaan bidang studi karena mereka kekurangan sumber daya dalam bidang olah raga, walaupun hanya mengikuti perlombaan Bidang Studi tetapi itu merupakan suatu kebanggaan bagi sekolahnya, karena sekolahnya berhasil mewakili kotamadya tempat SMA Laura berada.


Banyak Sekolah Sekolah di kotamadya nya yang ingin mengikuti turnamen ini, tetapi mereka tidak berhasil mengalahkan sumber daya dan sumber dana SMA Laura berada, karena SMA Laura berada merupakan SMA Percontohan di kotamadya nya dan pendidikan yang diberikan itu sudah berstandart internasional.


Tepat pukul 15.00 Laura meregangkan badannya yang sudah terasa kaku dan melihat teman temannya yang masih setia dengan bukunya.


Laura mendekati Sintia dan timbul niat jahil dibenaknya.


“Belum kelar ya Sin? bukunya asik yahh? wahhh lihat lihat angka angka ini kenapa bisa menempel dijidatmu?”.


Laura menggoda Sintia yang tengah fokus dengan bukunya.


Sintia menoleh sebentar dan bergeser memunggungi Laura.


krikkk…krikkk…

__ADS_1


krikkk…krikkk…


Sintia mengabaikan lelucon recehnya.


“Sin”.


Laura menjauhkan buku Sintia dan memandang Sintia tepat diwajahnya.


Sintia hanya melotot dan mendorong jauh wajah Laura, dia malas meladeni Laura karena menurutnya bukunya lebih menarik dari si pelupa Laura ini.


“ Sin Sin..”


Laura kembali mencolek Sintia tetapi tetap diabaikan.


Akhirnya dia melihat teman teman yang lainnya dan bersuara sedikit keras.


“Baiklah teman teman  aku ingin lari sore sekalian ingin mengenal daerah sekitaran sini, adakah yang ingin bersamaku?”.


krikkk…krikkk…


krikkk…krikkk…


“Hallo … Hallo semuanya any body home..?”


krikkk…krikkk…


krikkk…krikkk…

__ADS_1


Laura diabaikan semua teman temannya.


....


__ADS_2