Permata Kecil Matahari

Permata Kecil Matahari
Perubahan Aditia


__ADS_3

Setelah memastikan Lara dan Nurti Aman, mereka meninggalkan lokasi kejadian dengan sedikit perasaan lega.


Wijaya tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia bisa melihat sahabatnya Delores sedang memandang Laura dengan raut bahagia.


Lima belas menit berselang dan Nurti tiba tiba membuka matanya, dia melihat tuan Setya yang duduk disebelahnya dan tuan Rangga yang duduk di kursi paling belakang, kemudian dia mengalihkan pandangan kedepan dan melihat Lara yang sedang tertidur dalam pangkuan tuan Delores.


"Tuan".


Nurti bersuara sambil memberikan hormat kepada keempat sahabat tuannya.


Setya mengambil botol minum yang belum terbuka dan memberikannya kepada Nurti, setelah dirasa lega, Nurti segera menceritakan kejadian yang dia tahu tanpa ditanya terlebih dahulu.


Nurti hanya ingat sore itu dia sedang bermain bersama nona Laura, dan tiba tiba nyonya Martha menemuinya dalam keadaan panik, Martha menggantung tas di punggung Nurti, didalam tas tersebut sudah tersedia semua peralatan Laura.


Justin masuk dan menggendong Laura, kemudian keluar dari pintu belakang, Martha memegang tangan Nurti dan mengajaknya keluar juga.


"Bibi berjanjilah padaku apapun yang terjadi jangan kembali ke kota, setelah ini jangan pernah menoleh kebelakang dan berlarilah ke sebelah Timur, disana akan ada gubuk kecil yang bisa bibi gunakan untuk beristrahat sebentar. Berjanjilah, berjanji dengan menggunakan nyawamu kalau bibi akan menganggap Laura seperti anak bibi sendiri , dan besarkan dia dengan semua cintamu.


Setelah semuanya terjadi para sahabat kami pasti menemukan bibi, untuk itu tetap la disana menunggu mereka, dan setelah bibi bertemu dengan mereka , mintalah agar bibi di antar ke tempat yang sangat jauh dari kota. "


Bibi Nurti minum kembali sambil menarik napas, kemudian melanjutkan.


"Hanya itu pesan nyonya dan tuan, setelahnya saya di suru menyusuri jalan yang sempit ditemani seorang pengawal tuan, tapi belum terlalu jauh kami pergi , suara ledakan terdengar dari arah Vila, mendengar suara itu pengawal tersebut berkata bahwa sudah diberi beberapa tanda agar para sahabat tuan menemukan kami, jadi berlarilah kencang lurus kedepan, dan jangan lupakan pesan nyonya, berjanjilah berjanjilah dengan nyawamu."


Setelah mengucapkan pesan, pengawal itu menjatuhkan pita rambut nona Laura dan berlari ke arah Villa, maka saya pun berlari mencari gubuk dengan segenap kekuatan saya.

__ADS_1


Ternyata disana telah tersedia beberapa makanan dan air minum, makanya saya bisa bertahan selama ini, namun karena cuaca sangat dingin saya jadi demam".


Nurti menjelaskan semuanya, Wijaya menepikan mobilnya dan menoleh ke belakang, setelah berdiskusi akhirnya mereka memutarkan tujuan nya dan pergi ke sebuah desa di pinggir laut, menurut mereka disitulah tempat ter aman bagi Laura dibesarkan.


Mengingat anaknya yang sakit, Delores segera menelphone istrinya, karna dia yakin istrinya, dan istri sahabat sahabatnya bahkan smua anak anak mereka akan mampu menyimpan rahasia yang ada.


.....,........


Di rumah sakit, Monica belum bisa menutup matanya karna dia memikirkan keadaan suaminya yang pergi tanpa kata, dan ternyata ketiga sahabatnya juga mengalami hal yang sama, malam ini semua dari mereka menginap di Rumah sakit, tentu saja mereka mendapat kasur masing masing karena ruangan Aditia dirawat sangat besar sehingga bisa dimuat banyak kasur.


Monica mendengar Hpnya bergetar dan melihat suaminya melakukan panggilan video, setelah terhubung tidak ada suara dari arah sebelah lawan bicara tetapi Monica dapat melihat wajah suaminya, Monica melihat dengan siapa saja Delores dan bahkan dia sangat bahagia melihat Laura yang dipelukan suaminya.


Monica menangis bahagia dan membuka mulut untuk bertanya, tanpa sadar suaranya mengeras karna bahagia, " suamikuu ........ "


Monia langsung terdiam setelah mendapat tanda dari Delores untuk mengecilkan suaranya karena Laura kecil merasa terganggu. Tiba tiba Laura menangis, dan tentu saja tangisan Laura didengar oleh seisi ruangan Aditia dirawat karena Monica telah menekan tombol speaker aktif.


" Kakak tenang saja Laura dan pengasuhnya Nurti dalam keadaan aman, hanya saja yang lain masih belum diketemukan, tapi aku harap ini menjadi rahasia kita bersama". Wijaya yang memegang Hp berkata kepada lawan bicaranya.


" Apakah kalian baik baik saja? " Mendengar suara suaminya , Susan berjalan mendekat dan bertanya kabar suaminya.


" Semuanya baik baik saja sayang, kemungkinan kami kembali 3 hari lagi karna kami harus mengurus sesuatu, aku harap kalian tetap bersama saling menjaga satu sama lain".


Wijaya menjawab pertanyaan istrinya lembut karna dia tahu, istrinya sedang sangat mengkhawatirkannya.


" hmmmm tenang saja Pa, anak anak juga sudah diberikan cuti seminggu, besok kami akan kerumah kak Monica , dan kami menunggu kalian disana".

__ADS_1


" baik, katakan juga kepada kakak yang lain bahwa suami mereka dalam keadaan sehat.".


" Setidaknya biarkan kami melihat wajah mereka, "


Mika kesal karena belum melihat wajah suaminya dari tadi, mau tak mau Setya mengambil alih Hp dan memfokuskannya kepada Rangga yang sedang tertidur di kursi paling belakang.


" Lihat la lihat lahh , hanya suamiku yang bisa tertidur pulas dan membiarkan istrinya khawatir",


Mika mulai mengocehi Rangga karena Rangga tidak mengatakan apapun.


"Kenapa dalam mimpipun aku bisa mendengarkan suara lembut istriku tercinta, tenanglah istriku aku akan menemuimu tiga hari lagi, saat ini hp suamimu lagi lobet sama seperti orangnya jadi belum bisa memberi kabar", Rangga membuka matanya sebelah dan tersenyum jenaka ke arah istrinya.


" ck ck lihat la lihat la, bagaimana ini , aku sangat ingin menggigitnya" , Mika tersenyum lega melihat kelakuan suaminya,.


Sahabat sahabat mereka sudah terbiasa dengan pertengkaran suami istri ini, tapi percayalah mereka adalah pasangan yang sangat harmonis dan saling mencintai.


Setya mengarahkan hp ke wajahnya dan memandang istrinya yang sedang berdiri di paling belakang, melihat hal itu Mika menyingkir dan memberikan ruang kepada Natasya.


Diantara para nyonya hanya Natasya yang memiliki sikap tenang karena dia juga dibesarkan di keluarga militer, dan ketika ikut Pleatihan Militer disanalah dia bertemu Setya yang awalnya musuh tetapi menjadi pasangan yang saling mencintai.


Natasya hanya tersenyum, demikian juga Setya , mereka terdiam namun mengerti satu sama lain, mereka saling berbicara lewat tatapan mata mereka.


Tiba tiba Setya melihat sosok kecil Aditya yang berdiri di samping Natasya, dan seolah mengerti Natasya memberikan Hp ditangannya kepada Aditia, melihat hal itu Setya juga mengarahkan kamera hp ke arah Laura yang sedang tersenyum dalam tidurnya.


Ntah sedang bermimpi apa Laura , tetapi senyumnya sangat manis, Aditia terpaku melihatnya dan sorot matanya melembut, dia menarik napas lega dan bahagia melihat permata kecilnya selamat.

__ADS_1


Akan tetapi kejadian itu seakan membekas di hati Aditia, dia berubah menjadi tidak seceria dulu lagi,. Setelah itu keadaan Aditia membaik dan dia sudah mau makan dan melakukan kegiatanya seperti biasa, hanya saja Aditia semakin tidak suka berbicara dan berubah menjadi sosok yang dingin.


__ADS_2