
Monica menghampiri Laura dan memeluknya, " tenang saja nak, tanpa Laura minta pun sebenarnya sejak kejadian itu, Paman mu serta beberapa paman lainnya telah mencari tahu penyebabnya, setahu kami kedua orang tua mu tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun, dan Lara tenang saja, walau masih dalam pencarian tapi kami merasa kalau kedua orang tua Lara belum meninggal, dikarnakan kami belum menemui jasad kedua orang tuamu, walau pihak polisi mengatakan kemungkinan orang tuamu ada disalah satu jenazah yang telah hangus, tapi kami sebagai sahabatnya tidak menemukan ciri ciri yang tepat, jauh dari lubuk hati kami, kami masih berharap mereka masih hidup di salah satu bagian bumi ini.. "
Laura menggangguk semangat menyetujui, karena Laura juga merasa sangat sangat yakin kalau suatu saat Laura akan bersama kedua orang tuanya kembali.
Flash Back On......
Ketika tengah asik belajar setelah pulang sekolah, Aditia mendengar suara isak tangis dari arah kamar kedua orang tuanya, awalnya Aditia mengabaikan karena dia tahu kalau papa dan mama nya sedang berada di kamar.
Setelah beberapa menit isak tangis itu tak kunjung hilang, bahkan terdengar semakin menyedihkan, dengan rasa penarasan Aditia berjalan menuju kamar kedua orang tuanya.
Lewat celah pintu Aditia dapat melihat mama nya sedang berada dalam pelukan papanya dan menangis histeris, kedua orang tuanya bahkan kini sedang duduk dilantai kamar.
Aditia mendorong pintu dan ragu ragu untuk masuk, Aditia berjalan perlahan menuju kedua orang tuanya, melihat sosok pangeran kecilnya Monica memeluk Aditia dan semakin menangis sejadi jadinya.
Walau tidak mengerti , Aditia tetap tenang dipelukan ibunya dan melihat ayahnya yang sedang melakukan pangilan telphone.
Aditia menepuk nepuk bahu ibunya pelan mencoba mentransfer kekuatan yang dia miliki.
"Sayang hiks hiks hiks, permata kecil, permata kecilmu memgalami musibah, villa nya kebakaran, huu uu uuu", Monica mencoba menjelaskan situasi yang terjadi kepada Aditia.
Seakan tersambar petir badan Aditia menjadi kaku, dia memandang ibunya dan berkata,
"ibu sedang bercanda kan??,
itu tidak mungkin, Adit baru saja menyelesaikan Video Call dengan Lara", Aditia berusaha tetap tersenyum dan menyangkal perkataan Monica.
Monica tahu bagaimana puteranya sangat dekat dengan putri sahabatnya itu, jika tidak berbicara sehari maka Aditia akan sangat merengek, memaksa ibunya untuk menemui Laura.
__ADS_1
Monica tahu putera dikeluarganya selalu menepati perkataan yang mereka ucapkan, sebagaimana suaminya, mertua lelakinya, dan bahkan seluruh keluarga Delores tidak ada satupun yang tidak menepati ketika mereka sudah berjanji.
Oleh karena itu, melihat kedekatan Aditia dan Laura, tidak pernah sekalipun Monica mencoba menghentikannya, karena walau masih kecil Aditia selalu belajar untuk bertanggung jawab atas perkataannya.
Monica menggelengkan kepalanya dan semakin menangis memikirkan puteranya yang akan berubah menjadi seperti apa tanpa Laura.
Seakan merasa tidak mendapat kepastian, Aditia merebut Hp yang sedang digenggam oleh ibunya, Aditia syokk membaca berita yang ada, Aditia mencoba menscroll ke atas dan kebawah berharap berita itu bohong, akan tetapi semakin Aditia membacanya semakin sedih hatinya.
Ntah kenapa Aditia melempar Hp ibunya, dan berlari ke rumah Laura, dia berlari dan berlari, berharap dia akan melihat senyum permata kecilnya.
Namun yang Aditia temui adalah para pelayan yang sedang tertunduk sedih, mereka memakai baju warna putih dan sedang bersujud di depan figura besar yang terdiri dari Figura Justin, Figura Marta Su, dan Figura permata kecilnya.
Aditia melotot tidak percaya, tangan kecilnya terkepal erat, giginya bergemelatuk, dan dia berdiri kaku.
Monica dan Delores berhasil menyusul Aditia dan melihat adegan ini, Monica semakin menangis melihat keadaan putera sulungnya.
"Sayang ada apa denganmu, Adit Adit Adiiiitttttt"
Monica syok melihat keadaan Aditia, dan semakin syok ketika melihat Adit kejang dan pingsan.
Delores langsung mengangkat puteranya dan melarikannya ke rumah sakit.
Malam harinya tubuh Aditia yang semula dingin menjadi demam tinggi, Monica semakin histeris melihat keadaan Aditia, sedangkan Delores telah berulang ulang kali memarahi para dokter yang sama sekali tidak bisa kerja.
Benar benar membuatnya rugi telah membagun Rumah Sakit ini.
Saat ini Aditia sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit terkenal, dan itu adalah Rumah Sakit dibawah naungan Delores, namun kali ini Delores merasa menyesal mendirikan Rumah Sakit ini dan akan membubarkannya jika Anak kesayangannya tidak juga sembuh.
__ADS_1
Kepala Rumah Sakit telah menghubungi beberapa dokter yang sangat ahli, dan bahkan telah melakukan banyak hal, sampai hampir hampir dokter menyerah karena Aditia tiba tiba mengalami kejang hebat.
Bibir Aditia tetap bergetar didalam tidurnya, dan dengan berat hati Delores harus mengiklaskan mulut puteranya di sumbat dengan kain halus guna mencegah agar lidahnya tidak tergigit.
Ketika Delores bertekat ingin memecat semua dokter yang ada, syukurnya Tuhan mendengar doa para dokter, pagi subuhnya tubuh Aditia mulai membaik.
Aditia tidak gemetaran lagi dan kain penutup mulutnya telah dilepas oleh dokter, napas Aditia mulai normal dan demamnya mulai turun.
Keadaan Aditia telah membaik setelah melewati masa kritis yang membuat Monica pingsan berkali kali dan harus menjadi pasien menemani puteranya di ruangan tersebut.
Melihat Aditia yang membaik, keadaan Monica juga membaik, kini Monica tengah tertidur sambil memeluk putra sulungnya.
Setelah semuanya tenang Delores berjalan ke balkon dan berusaha menenangkan pikiran. Dia menelphone orang kepercayaannya dan bertanya mengenai keluarga Justin.
Walau hasil nya masih mengecewakan namun Delores bertekad akan menelurusi kejadian ini sampai ke akar akarnya, dia akan terus mengejar orang yang mengakibatkan anaknya step dan membalasnya berkali kali lipat.
Ternyata Delores tidak sendiri, malam ini Empat keluarga besar sedang mengeluarkan semua para ahli dikeluarganya untuk menelurusi kejadian yang menimpa keluarga Justin.
Keluarga Delores, Wijaya, Rangga, bahkan keluarga Setya sedang dirundung kesedihan dan tekad yang amat sangat kuat.
Mereka akan menelurusi kejadian ini sampai kapanpun, dan jangan harap penyebab kejadian ini dapat hidup tenang, sampai ke bawah bumi sekalipun mereka pasti akan menemukannya.
Dihari kedua Aditia akhirnya membuka matanya setelah kepergian Laura, akan tetapi sampai hari kelima Aditia hanya terdiam dan menatap kosong atap Rumah Sakit.
Keempat keluarga besar selalu datang berkunjung melihat keadaan Aditia, dan bahkan anak anak mereka juga ikut,. mereka telah mencoba untuk membujuk dan mencoba menghibur Aditia namun semuanya nihil.
Bahkan teman teman sekolah Aditia juga datang, akan tetapi Aditia tetap terdiam.
__ADS_1
Monica kehabisan cara, bahkan Aditia tidak mau makan sama sekali, walau dengan cara apapun Aditia tetap tidak mau makan dan berbicara, dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.