
“Ada apa kak Hans, apa ada masalah?”
“Laura jujur sama kakak apa tadi Laura keluar sekolah sudah ijin?”
“Sudah kak,?”
“Sama Siapa Lara ijin?”
“Sama Pak Darma kak,”
“Ada apa?”
Aditia memotong pembicaraan Hans dan laura.
“Huffff.”
Hans menarik napas panjang.
“Ada beberapa siswa dari luar kota yang keluar tanpa ijin, dan sekarang pihak sekolah sedang kewalahan mencari mereka, Laura berikan no Hp mu nanti kakak hubungi kembali setelah masalah ini selesai.”
Hans berdiri dan tiba tiba dia teringat bahwa dia belum memiliki kontak Hp Laura.
“Itu kak Laura tidak ada hp, karena di desa Laura belum ada sinyal kak, kalau ada tugas juga Laura kerjakan dengan menggunakan wifi Sekolah kak.”
Laura menggaruk pipinya yang tak gatal dan menjelaskan.
Hans kembali menarik nafas dalam dalam, dia tidak tahu harus berkata apa.
“Ya sudah, Kak Adit Laura Hans percayakan sama kakak, nanti aku akan menjelaskan ke pihak sekolah tentang keberadaan Laura, Hans pergi yahh, titip ijin ke tante Monica.”
“hmmm”
Aditia menjawabnya dengan malas, tentu saja dia akan menjaga permata kecilnya tetap aman.
__ADS_1
Hans segera keluar karena sebagai ketua Osis menjaga keamanan siswa pendatang adalah tugasnya.
Sejenak ruangan itu menjadi sepi, Laura bingung mau mengatakan apa, sedangkan Aditia hanya merebahkan kepalanya dan terpejam.
Walaupun Laura pada dasarnya adalah gadis yang suka berbicara dan pasti bisa menghangatkan suasana tetapi entah mengapa dihadapan Aditia Laura merasa akalnya blank, dia kehabisan kata katanya dan memilih berdiri dan melihat lihat sekitar, betapa dia sangat berharap agar Tante Monica segera turun.
5 menit, 10 menit pun berlalu dan tante Monica masih belum turun, tidak ada cara lagi Laura harus memecahkan kesunyian ini.
“Kak Adit,”
Laura memanggil Aditia , tetapi Aditia masih menutup mata.
“Kak”.
“Kak Didit”.
“Kak Dita”.
Laura terkekeh sendiri mendengar nama Adit yang disamarkan.
"Mata"
"Mat,"
" Met, "
"Met Met,'
" Mahar ”.
Kesal diabaikan Laura mengubah nama Aditia dengan sesuka hatinya, tengah asik mengubah nama , Aditia membuka mata dan memandang Laura.
Laura duduk membelakangi cahaya, semakin memperindah bentuk tubuhnya yang ramping, hidung yang mancung, bibir merah bak ceri merah muda, dan rambut yang dicepol tinggi, walaupun Laura tidak mengenakan make up tetapi wajah putihnya bersinar, bak permata yang bersinar terang,
__ADS_1
Aditia menikmati setiap gerak gerik Laura, dan ada senyum tipis di bibirnya.
“ehh Kak Met Met uda bangun?”
Sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya, Laura memiringkan kepalanya tanpa malu, Laura memang sengaja berbuat demikian, berharap agar Aditia kesal.
Namun sangat disayangkan, Aditia malah menikmati setiap gerak gerik Laura dan memandangnya lembut. Aditia berdiri dan memegang kepala Laura.
“Panggillah sesukamu, aku menyukai semuanya.”
“Hah…!”
Bukannya berhasil membuatnya kesal malah Laura yang semakin kesal.
“Lepasssss”
Laura menggeleng gelengkan kepalanya dan berteriak kencang agar tangan Aditia menjauh, namun Aditia semakin mempererat genggamannya dan tersenyum.
“Kucing kecil, tenang !.”
Aditia malah mengelus elus kepala Laura dan memanjakannya.
“Kakak yang kucing, kakak kucing besar, Macan Tutul”.
Laura semakin kesal dan berdiri, Laura menghentakkan kakinya, ingin sekali rasanya dia menggigit Macan Tutul besar ini.
Aditia memasukkan kedua tangganya kedalam kantung celanya dan terkekeh kecil.
“Macan Tutul….?”
“Itu juga menyenangkan..”
Dan akhirnya kekesalan Laura memuncak, dia tidak pernah bertemu orang yang mengesalkan seperti ini, dengan kesalnya Laura mendekati Aditia, dia menengadah dan melotot kepada Aditia.
__ADS_1
“Lihat … Macan Tutul itu juga bisa dimangsa kucing.”
Laura mengigit tangan Aditia dengan kencang, semua kekesalannya dia tumpahkan disitu.