
Melihat Foto yang dicetak sangat besar itu, Laura terduduk dan menagis kencang, sangat kencang dan dia terisak.
“Ibuuuu..uuuu… Ayahhhh.. hhhhh uuuuu uuuu”
Hiksss… hiksss…..
“I ibuuuu, a ayaaahhh, La laura datang, permata kalian datang,”
uuu uuuu uuu
hokk hokk hokk hokk
Laura terbatuk dan memegang dadanya yang sangat sakit, itu sangat sakit sehingga dia terduduk lemah.
Laura tidak bisa meredam tangisnya dan dia tertunduk, sangat sedih.
Ketika Laura menunduk tak berdaya, satu tangan besar datang dari belakang tubuhnya dan memeluknya hangat, sangat hangat.
Aditia memeluk Laura erat dan mencoba memberikan kehangatannya, hatinya sakit, sangat sakit melihat Laura menangis meraung, tanpa Aditia sadari air matanya menetes dan mengenai pipi Laura.
Laura mendongak dan memandang Aditia.
__ADS_1
“Kak…. 13 tahun…, 13 tahun aku menunggu ..”
“ 13 tahun kak, 13 tahun… waktu yang sangat lama..”
uuuu uuuuuu uuu
“13 tahun aku membuat orang tuaku menunggu, anak macam apa aku ini kak,”
uuu uuuuu uuuuu
“Sudah sudah, paman dan bibi pasti sangat senang disana melihat perjuanganmu.”
“ 13 tahun ini tak sekalipun mereka meninggalmu, percayalah, mereka selalu ada disisimu, dan Laura tetap lah permata kecil mereka yang selalu bersinar, bersinar terang baik didalam gelap sekalipun mereka pasti melihat mu bersinar.”
Aditia mencium dahi Laura dan memeluknya kembali.
Dan itu berhasil membuat Laura tenang.
Aditia mengajak Laura berdiri dan menggenggam tangan kanan Laura, dia mengajak Laura berkeliling rumah itu.
Rumah ini masihnya sangat rapih dan teratur, bisa Laura lihat ibunya merawatnya dengan baik, tata letak perabotan mewah yang tersusun indah, hanya debu yang menutupi sekitarnya.
__ADS_1
Mata Laura terfokus dengan satu lukisan yang dibingkai indah, dia berjalan kelukisan itu dan memperhatikannya, itu adalah lukisan permata Kaspir Hijau yang dibentuk menjadi perhiasan gelang tangan yang indah.
Laura mengulurkan tangannya dan melihat satu symbol dilukisan permata itu ‘MJ’
Telunjuk Laura menyentuh tombol yang ada disebelah bingkai lukisan itu dan krek, lukisan itu terbuka.
Ternyata itu adalah bingkai foto yang dikunci dengan sandi, dan hanya telunjuk orang yang sudah didaftarkan yang dapat membukanya, dan tentu saja salah satunya adalah telunjuk Laura.
Laura mengangkat lukisan permata itu dan membaca tulisan dibelakangnya.
Ternyata itu adalah hasil lukisan pertama kali ibunya ketika kuliah, dan ayahnya mewujudkannya menjadi gelang perhiasan dengan memberikan permata Kaspir Hijau di satu tahun mereka bertemu dan 3 bulan sesudah hari itu Justin meminang Marta Su dan menjadikannya istri.
Dengan sedikit terisak Laura memeluk lukisan itu, ada tekad baru yang muncul dan dia tidak akan mengecewakan orang tuanya, Laura melangkah menuju kamar utama, dia mengikuti arahan Ibu Nurti dan Aditia dengan diam mengikuti Laura, Aditia berjalan dibelakang Laura dan berharap memberikan kekuatan kepada Laura.
Laura menekan panel pintu dengan jari telunjuknya dan benar saja pintu kamar terbuka menunjukkan Kasur besar yang kokoh dan meja rias yang indah, di kepala Kasur itu terpampang foto Justin dan Marta ketika menikah.
Marta mengenakan gaun putih yang indah, kulit Marta yang lembut semakin bercahaya dengan balutan gaun yang modis, dan di tangan Marta terdapat permata Kaspir Hijau yang semakin menambah kecantikan Marta Su, di sebelahnya berdiri pemuda yang sangat tampan, Tuxedo putih yang dikenakan membuat Justin seperti pangeran berkuda putih, Justin mengenakan kaca mata yang semakin menambah ketampanannya.
Mereka mengenakan Cincin pasangan yang terbuat dari batu permata Pink, sangat indah.
Laura kembali tertunduk, dan dia kembali terisak isak, melihat senyum ibunya yang sangat mirip dengannya, hatinya melepuh, sepasang mata ayahnya yang bersinar tajam itu kini melekat di mata Laura, dan ternyata hidung mancung Laura berasal dari hidung Marta Su yang sangat indah.
__ADS_1