
Dari ruang tengah terdengah suara canda tawa seorang ibu paruh baya dan seorang pemuda.
Pemuda dingin itu berjalan menuju ruang tamu dan Laura masih mengikutinya dengan pelan.
“Matahari kamu sudah sampai nak, ini ada Hans datang main ajaklah dia keatas, dia merindukanmu.”
Ibu paruh baya itu berkata kepada pemuda yang baru saja tiba.
“Hai kak Matahari, hem kenapa sangat susah untuk menemui kakak sekarang y....…”
“Laura..”
Hans Wijaya berdiri dan merangkul Aditia, dan dia sangat terkejut melihat kedatangan Laura.
Aditia mengeryit melihat Hans,’ apakah mereka saling kenal, ‘ wajahnya menandakan ia sangat ingin sekali bertanya, tetapi ia tahan toh nanti juga ketahuan.
“Kakak Ketua Osis Sma Santo kan?”
Mata Laura bersinar terang seakan melihat secercah cahaya dan menyapa Hans.
“ahh Ia.”
Hans teringat bahwa ia dan Laura belum saling mengenal, walau Hans mengenal Laura tetapi Laura pasti belum mengenal dia.
“Dia adalahh…..?”
Monica berdiri dan memandang Laura dengan bingung.
“Hallo tante, aku Laura Justin, aku mengenal kak Hans di Sekolah hari ini”.
__ADS_1
Laura melambai dan mencoba menjelaskan bahwa ia dan Hans baru saja berkenalan.
Monica tersedak, wajahnya berubah serius dan mengangkat kedua tanggannya menutupi mulutnya seakan tidak percaya.
“Laura Justin.”
Dia menyebutkan nama Laura berulang ulang dan air mata jatuh membasahi pipinya.
“Laura Justin anakku.”
Monica berlutut dan menangis
“Terimakasih Tuhan terimakasih.”
Tidak henti hentinya bibir Monica mengucapkan terimakasih.
Laura terdiam dan ikut terhanyut dengan suasanya ini.
Laura memanggil Monica dan suaranya sedikit gemetar.
“Mami.”
“Tante.”
Aditia dan Hans menghampiri Monica dan mengajaknya berdiri.
Monica berdiri dan memeluk Laura.
“Laura sayang kamu kembali, kamu tumbuh dengan sehat, apakah kamu makan dengan baik?, apakah kamu tidur dengan nyenyak?”
__ADS_1
Monica memperhatikan seluruh tubuh Laura dari atas sampai bawah, wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan kelegaan yang tiada tara.
“ia ia tante, Laura baik baik saja”
Laura terisak mencoba menenangkan Monica, walau dia tidak tahu mengapa , tetapi Laura merasa nyaman berada dalam pelukan Monica, dia merasa seperti mendapat kekuatan baru, kekuatan dari seorang ibu yang sangat menyayanginya.
“Mami dia lelah.”
Aditia mencoba menetralisir keadaan.
“ahh iya iya, maaf tante terlalu senang, ayuk ayuk nak Lara, ayuk kita duduk.”
Laura terkejut, kenapa tante ini tahu panggilan kecilnya, ya hanya Ibu Nurti dan orang orang terdekatnya yang memanggilnya Lara dan darimana tante ini tahu itu, dan situasi ini,.. terlalu..
Pertanyaan dibenak Laura banyak, tetapi ia mencoba menenangkan hatinya, dia tersenyum dan mengikuti Monica duduk.
Monica mengelap air matanya dan memandang sekelilingnya.
“Bibi bibi, dimana bibi berada, bi buatkan minuman dan makanan bi, Laura pasti lapar, ahh dimana bibi berada, tunggu sebentar ya nak tante ke dapur sebentar.”
Monica beranjak berdiri dan terburu buru kedapur, ia sangat tahu kalau Laura menyukai makanan manis dan ia sangat ingin memberikannya, bukan hanya itu saja bahkan Monica memerintahkan koki untuk memasakkan makanan yang menjadi kesukaan Laura dan itu tanpa sepengetahuan Laura.
Laura mengelap air matanya dan memandang kedua orang pemuda misterius yang ada didepannya.
“Rumah kakak disini yahh?”
Laura memberanikan diri untuk bertanya kepada Hans dan tidak berani memandang Aditia, menurutnya Hans memiliki kepribadian yang lebih enak untuk diajak berbicara.
“Bukan, ini rumah kakak itu tu, kak Aditia Matahari Delores aku hanya bermain kesini karena sedari kecil kami sudah seperti saudara, apakah Laura mengenal kak Adit?”
__ADS_1
Hans langsung bertanya ke titik permasalahan yang ingin dia ketahui semenjak dia melihat Laura masuk bersama Aditia.
,..........