
Aditia mengadahkan tangannya, “Paman Justin berikan aku senternya kembali, dan bolehkan paman mengikutiku kedalam ruangan agar aku dapat menunjukkannya.?”
“Baik”
Justin menyerahkan senter ketangan kecil Aditia dan mengikutinya kedalam ruangan.
Para orang tua melihat setiap gerak gerik mereka kembali dari rekaman cctv yang ditayangkan secara langsung. Sedangkan para anak kecil lainnya telah mengikuti para pengasuh untuk bermain di taman bermain dengan riangnya.
Aditia mengajak Justin ke selah selah lemari dan memfokuskan cahaya senternya ke satu titik, mereka berdua terdiam karena Aditia sendiripun sangat malas untuk menjelaskan, jadi dia hanya memokuskan cahaya senter ke satu permata pertanda itu adalah batu permata yang berkualitas tinggi dan murni , seperti yang ada di benaknya.
Justin melihat permata itu dan mengangguk, memang itu adalah permata khusus yang dia letakkan di ruangan ini, itu hanya satu satunya permata langka yang sudah lama secara turun temurun menjadi warisan keluarganya.
Permata indah berwarna biru bersinar menampilkan seberkas cahaya silang sempuna dan terang, Permata Biru Lazurid itu memiliki sedikit warna pink di tengah tengahnya, dan tentu saja itu masih dalam bentuk batu kecil tipis yang bila dibentuk menjadi perhiasan akan menjadi sangat indah.
Justin memperhatikan letak posisi permata itu, pantas saja Aditia terdiam melihat kearah sudut bawah lemari itu, karena itu memang susah untuk diraih.
Permata itu terletak di bagian bawah sebelah kanan dari lemari besar yang ada di ruangan ini. Dan tangan kecil pasti tidak akan sampai meraihnya dan karena dia kecil permata itu seakan tertimpa lemari tersebut.
__ADS_1
Justin mengeryit, dia sangat yakin bahwa dia meletakkan permata ini di atas meja yang ada di depan lemari itu , tetapi kenapa jadi berada di bawah lemari,? mungkin saja tadi anak anak tidak sengaja menyenggolnya sehingga permata itupun berpindah. Justin menjawab pertanyaannya sendiri di dalam hatinya.
Justin tersenyum dan berjongkok, dia mengangkat sedikit sudut lemari dan mengambil permata biru yang indah itu.
“Dan Matahari kecil, apakah ini permata yang kamu maksud?”
Justin bertanya hendak meluruskan anggapannya, dan tentu saja dia berharap jika Aditia akan mengiyakannya.
“Benar sekali paman, wahhh ternyata benar itu sangat indahh.”
Justin langsung menggangguk dengan semangat bibirnya mengulas senyum yang menunjukkan bahwa dia sangat setuju.
Delores duduk menyetarakan tingginya dengan Aditia, “Dan Matahari, ayah ingin mendengar akhir dari permata Lazurid ini?”, Tanya Delores yang disertai tanda setuju dari para orang tua.
Aditia menunduk sejenak, wajahnya memerah dan kemudian memandang Marta Su.
“Berikan pada permataku ayah, aku akan memilikinya kelak setelah dia dewasa.”
__ADS_1
krikk.... krikk
krikk ... krikk
Para orang tua memandang Marta Su dengan bingung, bahkan Marta Su mengeryitkan dahinya.
“Aku akan menikahinya.” Ucapnya kemudian dengan suara kecil bahkan sangat kecil yang hanya di dengar oleh Delores.
krikk.... krikk
krikk ... krikk
Para orang tua masih terdiam dan bingung, Aditia kemudian memandang wajah ayahnya yang mengeryit.
Aditia menunjuk perut besar Marta Su dan berteriak, “Berikan pada bayi kecil yang lagi tidur ayah, dia calon istri masa depanku, dia istri kecilku.” Teriaknya sambil berlari meninggalkan ayah dan semua para orang tua.
Marta Su membelai perut nya dan dia tersenyum, sedangkan ayah dan orang tua lainnya tertawa mendengar penuturan Aditia.
__ADS_1
" Ternyata ehh ternyata. "
……..