
“Kucing kecil apakah dagingnya enak?,”
“Jika tidak maka masih bisa berpindah ke tangan yang satunya.”
Aditia terkekeh dan sedikit mengeryit tanpa berteriak kesakitan.
Laura melepas gigitannya, wajahnya sudah berubah merah padam dan semakin kesal karena tidak berhasil menggoda Aditia.
“Terserah…hhhh.”
Laura berbalik dengan kesal dan berjalan ke taman Mawar, dia tidak ingin lagi menghiraukan Macan Tutul kenyang yang sedang tersenyum itu.
Suasana hati Aditia semakin membaik, dia sangat senang, karena dari kecil Laura memang sangat suka menggigit Aditia karena kesal, dan Aditia sangat suka membuat Laura kesal, baginya membuat laura kesal itu adalah pencapaian yang paling tinggi, hati Aditia sangat bahagia, akhirnya Kucing kecilnya kembali.
Aditia mengikuti langkah laura dengan pelan, dan dia melihat Laura sedang duduk dan tersenyum, Laura menghirup wangi mawar yang sangat harum, dengan menghirup aroma mawar suasana hati Laura membaik seketika, dia melupakan Macan tutul yang sedang menatap dia hangat.
__ADS_1
“Laura maaf ya membuat lama menunggu, kuncinya sudah lama tidak Ibu sentuh jadi tadi sempat mengingat ngingat dimana ibu meletakkan, nah ini kuncinya, pergilah, untuk selanjutnya Adit yang akan memberi tahu.”
"Eh apakah nak Hans sudah pulang, pasti urusan sekolah, ya sudah kalian berdua saja pergi sana. "
Dengan napas tersenggal senggal Monica menyerahkan kunci rumah Justin, dia kewalahan mencari di seluruh sudut gudang, karena kunci ini tidak pernah disentuh lagi sepeninggalan Justin dan Marta Su.
Dengan dibantu pelayan rumahnya, akhirnya Monica menemukan kuncinya dan itu telah memakan waktu 20 menit.
“Makasih bu”
Sedari kecil Laura hanya bisa mendengar cerita Ibu Nurti dan sekarang, sesaat lagi dia akan melihatnya sendiri, Laura sangat bahagia dan gugup, hatinya kacau, tangannya gemetar dan dia berjuang membuat dirinya agar tetap tenang.
Sesampainya di pintu gerbang Aditia meraih kunci dari tangan Laura dan tangan kirinya menggenggam tangan kanan Laura, berusaha memberikan rasa aman, karena dia tahu permata kecilnya saat ini sedang sangat gugup.
Aditia memutar kunci gerbang dan menekan jari telunjuknya di monitor sandi.
__ADS_1
Ceklek kunci sandi terbuka dan pintu gerbang terbuka secara otomatis, rumah yang awalnya gelap kini menjadi terang menderang, semakin menunjukkan betapa indahnya rumah itu, walau sudah lama tidak dihuni tapi bangunan itu tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan kerusakan, hanya taman yang dipenuhi rumput liar dan air pancuran yang telah mengering.
Laura masih berdiri tegap dia sangat takut untuk melangkahkan kakinya, dia menangis.
Aditia semakin mempererat genggaman tangannya dan menarik Laura berjalan. Akhirnya Laura melangkahkan kakinya dan sambil menangin dia menatap keadaan rumah yang sudah menjadi terang itu.
Tadi ketika duduk dibawah gapura, Laura merasa rumah ini sangat mewah, akan tetapi setelah lampu menyala, rumah ini bahkan semakin mewah, dia bisa merasakan kehangatan yang tidak dimengerti dari mana datangnya, Laura merasa rumah ini menyambut dia dan tersenyum padanya.
Laura bisa membayangkan , jikalau rumah ini terawatt maka rumah ini tidak akan kalah jauh dari rumah Aditia, sangat indah dan sangat mewah.
Aditia mengajak Laura ke pintu masuk, di depan pintu masuk masih terdapat kursi dan meja yang tersusun rapi yang membuat Laura semakin terisak.
Aditia menekan tombol sandi dengan jari telunjuknya dan menarik tuas pintu.
Pintu terbuka dan menampakkan pemandangan yang membuat Laura sangat terkejut, Laura disambut dengan Foto Ayah dan Ibunya yang tersenyum manis, dipelukan pria itu terduduk gadis kecil yang manis menggunakan gaun biru langit yang indah, gadis difoto itu menganggat kedua tanggannya dan tertawa sangat bahagia.
__ADS_1