Permata Kecil Matahari

Permata Kecil Matahari
Keinginan Laura


__ADS_3

Monica mengarahkan kamar tamu yang sudah dirapikan agar Laura dapat membersihkan diri.


Setelah merapikan diri Laura berjalan menuruni tangga menuju meja makan, ternyata disana telah duduk om Delores, tante Monica, Aditia dan Sintia, bahkan makanan sudah tersedia dan hanya menunggu Laura.


"Selamat pagi om, tante, kak Didit dan Sintia unyu unyu, ehehhehe, maafkan diriku lama soalnya harus menyelesaikan ritual yang tidak bisa ditunda dan harus memakan waktu yg lumayan lama, xixixix, mudah mudahan saya tidak telat yahh , ".


Dengan wajah tanpa dosa Laura datang menghampiri .


" Kamu yahhh selalu tidak berubah, dimana saja pasti gemar membuat orang menunggu".


Geram Sintia karena tingkah Laura yang tidak pernah berubah, jika bukan karna sahabatnya ingin rasanya menenggelamkannya di bongkahan es yang di kutup selatan.


( Otor berpikir, *emang Sintia punya duit kesana? *, # jawab Sintia, ya punyalahh , orang tuaku punya apartement dan tambang emas dimana mana#, 🤦‍♀️🤦‍♀️😣😣 , Otor hanya bisa bernapas pelan karena malu, nahh gaji otor aja habis buat bayar cicilan, hanya berharap penghasilan dari novel - novel otor yang pasti diminati banyak insani, xixixixiix #*" Amin kan la yahh ). 😁😁


Om Delores, " Pagi juga Laura sayang, sini duduk".


Tante Monica. " Pagi juga cantik, mari mari sini yukk, mari duduk dan nikmati masakan bibi yahhh, bibi berharap nak Lara menyukainya. "


Otor : ( tante dan bibi sama kan yahh??)


Pembaca : (*~*)........tau ahhhhh.


Aditia... (* _ *) ......... * COLD FACE


" Asik asikkk masakan tante pasti yang ter ter enak, mari mari kita hajar diaa", tanpa menggubris Sintia , Laura duduk dan ready menyantap masakan tante Monica.

__ADS_1


" Oh ya om, salam kenal, maaf kemarin ga sempat ketemu, ehhh malah Laura tidur duluan".


" Gapapa sayang om mengerti, oh ya berapa hari Laura dan nak Sintia di kota ini?? "


"Sepertinya seminggu om, dua hari ini mengikuti kegiatan ekstrakulikuler , hal ini bertujuan untuk menambah wawasan dan berbagi ilmu'. Sintia menjawab dengan sopan pertanyaan om Delores.


'Da..aan dihari ketiga , keempat dan kelima baru tes sesunggungguhnya diadakan om, om doakan kami yahh agar jadi pemenangnya, yah walaupun om adalah pemegang saham di SMA ini, tapi kan gapapa om sesekali memberi keuntungan pada pihak lain, Laura yakin itu ga membuat kantong om bolong om, hehe ". Laura memotong ucapan Sintia dan menaik turunkan alisnya berulang ulang sambil tersenyum tanpa dosa.


" uhuk uhuk uhuk ", Sintia terbatuk atas tingkah Laura, sungguh malu rasanya punya sahabat seperti Laura lam to the bat, lambatt.


" ahahahahha, aku tidak mengira hari ini aku melihat kembali tingkah konyol sahabatku Justin, kalian itu benar bnar bak pinang di belah dua, benar benar tidak tahu malu, ahahhahaha",


Delores tertawa sangat bahagia melihat tingkah Laura, dia bahagia karna Laura bertumbuh bebas tanpa beban walau tanpa orang tua disisinya.


" ia kah om?, ahahahha aku sangat bahagia ternyata ayahku tidak sia sia berjuang untuk melahirkan aku, ehh mama yg melahirkan aku yahh?, ehh sama aja la deng, tanpa ayah aku juga ga akan lahir kedunia, ahahahhahaha".


" ahahahhahaha , baik baik, jika kalian mendapatkan juara satu di lomba kali ini, maka setiap pemenang akan om kasi hadiah tambahan," dengan bahagia Delores menimpali kekonyolan Laura.


"a siapp komandan, tapi tunggu dulu, itukan hadiah kemenangan, hadiah pertemuan kita mana om, masak setelah berabad abad tidak ketemu, ehh pas ketemu malah tidak memberi hadiah? "


( nah...... benar benar tidak tahu malu kan??)


" ahhh bener juga, om tidak keburu menyiapkan hadiah, begini saja, nak Lara boleh minta, katakan apa saja yang nak Lara minta, apa saja, kecuali istiku yg cantik ini, nak Lara bisa minta, bahkan si tuan muda es yang disebelah mu itu juga boleh nak Lara minta, ayok katakan, nak Lara mau apa??". Bukannya merasa terjolimi Delores malah merasa bahagia terhadap ketidaktahumaluan Lara.


" Beneran om, beneran apa aja boleh?? kalau aku minta seluruh harta kekayaan om gimana?? "' . Laura menaik turunkan alisnya tanda tak mau kalah.

__ADS_1


" Boleh dong, bahkan ni ya, kalau nak Lara membawa anakku ini , bukan kah seluruh harta om bakalan milik Lara, jadi ayok minta apa saja boleh, katakan nak Lara mau apa?? ".


Semakin semangatnya Delores menjawab pertanyaan Laura.


Monica sangat bahagia melihat intraksi suaminya dan Laura, Monica sudah lama menganggap Laura anak nya sendiri, bahkan sejak Laura masih dalam kandungan. ' Dan, kenapa anaknya yang satu ini tidak ada respon, benar benar membuat orang sangat khawatir, lihat la cara dia makan, serasa dunia milik sendiri saja, huffftttt, Monica menarik napas panjang melihat Aditia, ntah mirip siapa dia, ntah ngidam apa Monica saat mengandung dia dulu.


" ia juga ya om, kalau aku minta kak Didit, smua punyanya jadi kepunyaanku yahh bahkan tiap tahun pasti bertambah kan om? ahahahhahaha kok om pinter banget sihh. "


Laura serasa mendapat ilmu baru, daripada meminta kekayaan yang bisa habis kapan saya, mendingan dia minta si pengelolanya langsung, dengan demikian bukan hanya harta yang didapat, bahkan harta itu bisa bertambah berkali kali lipat jika dikelola sang ahli.


Walau Laura belum tau kemampuan Aditia tapi melihat kesuksesan keluarga Delores maka Aditia juga pasti bakalan sukses, seperti peribahasa yang berbunyi , "Buah Tidak jatuh jauh dari pohonnya, asal buahnya tidak terjatuh ke jurang, atau jatuh ke air lalu hanyut dibawa arus, itu namanya bener bener siall".


Yang lagi diperjual belikan masih setia dengan makanannya tanpa merasa terganggu. Aditia masih mempertahankan sikap pangerannya, santai tanpa merasa sedang dibahas.


"Hmmmm sebenar nya Laura ada satu permintaan om, ini mengenai papa mama, Laura ingin tau garis besarnya kebakaran dulu om, itupun kalau Lara tidak merepotkan om, jangan merasa terbebani ya om, itu karena Lara hanya ingin tahu kronologisnya saja, Lara telah bertanya kepada bi Nurti, tapi bi Nurti juga tidak mengerti kenapa kebakaran itu terjadi". Dengan suara rendah akhirnya Laura mengungkapkan keinginan terpendamnya.


Suasana bahagia entah kenapa berubah turun, bahkan ada keheningan sejenak, Delores dan Monica saling bertukar pandang, mereka bingung hendak berkata apa.


" Tenang saja , mengenai kejadian itu sedang dalam penyelidikan, percayalah Laura akan mendapatkan hasil yang memuaskan. "


Tanpa mengetahui situasi Aditia menimpali suasana yang telah berubah dingin itu.


Monica menatap putranya horor, kenapa dia mempunyai putra yang tidak peka seperti ini, benar benar membuat orang khawatir.


Aditia menaikkan satu alisnya , seakan bertanya, 'Ada apa ma, mengapa memandangku seperti itu, aku kan hanya menjawab pertanyaannya? "

__ADS_1


Monica: Dasar tidak peka, benar benar balok es.


.......... "..


__ADS_2