
“Bukan bukan kak, aku ga kenal kak Adit, aku baru tahu namanya Aditia Matahari Delores karena kakak yang menyebutkannya.”
Dengan gugup Laura menjelaskan kepada Hans.
“Lalu.. kenapa kalian bisa masuk bersama?”
Hans kembali bertanya.
“Ahh itu karena tadi kak Adit melihat aku sedang duduk di bawah gapura rumah sebelah kak.”
Suara Laura semakin mengecil menjelaskan pertemuan mereka karena dia merasa sedikit malu.
“Apakah Laura mau masuk ke kedalamnya?”
Hans menebak pemikiran Laura.
“Eheheheh ia kak, tetapi itu sangat mustahil”.
“Kenapa itu sangat mustahil Lara?”
Tiba tiba Monica memotong pembicaraan Hans dan Laura.
“Itu tentu saja bisa, ibu punya kunci rumahnya, kalau mau kesana, nak Lara bisa mengajak Aditia, dia juga bisa memasuki rumah itu.”
__ADS_1
“Benarkah.?”
Seakan tidak percaya Laura memastikan kembali, betapa bahagianya dia mendengar penuturan Monica.
“Tapi bagaimana bisa itukan rumah keluarga Justin?”
Laura merasa ada yang aneh disini, dia sendiri saja tidak ada akses kenapa Aditia bisa masuk kerumahnya?
“Lara sayang.”
Monica duduk disisi Laura dan membelai kepalanya lembut.
“Ayahmu Justin adalah sahabat ayah Aditia dan Hans, yang bernama Delores dan Wijaya, sejak Lara didalam kandungan, kami sering sekali diundang kerumah Lara dan tentu saja kami memiliki akses masuk, demikian juga orang tuamu Justin dan Marta Su juga memiliki akses masuk kerumah ini, Wijaya, Rangga dan juga rumah Setya . Dari sejak masih muda persahabatan 5 orang pemimpin itu tidak pernah luruh.”
“Sedangkan Aditia sendiri ……”
“Mam.. ada baiknya bantu bibi di dapur, agar laura tidak kemalaman kembali ke mess, dan biarkan Aditia yang menemani laura.”
Aditia memotong perkataan Monica, tentu saja Aditia tidak ingin Laura mengetahui bahwa Aditia selalu kerumah Laura ketika masih kecil, sehingga Aditia sudah memiliki akses khusus agar tidak membuatnya menunggu lama di luar gerbang.
“Baiklah, ohh ya selama Justin dan Marta sudah tidak ada maka rumah itu kami yang jaga, sebentar ibu ambilkan kuncinya, karena itu memang sengaja dikunci agar yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk, karena kami juga sering berpergian ke Luar Negeri, sebentar ya sayang ibu ambilkan kuncinya.”
Monica tersenyum dan beranjak pergi.
__ADS_1
Laura terdiam dan hatinya hangat, tidak disangka keluarga ini sangat mencintai kedua orang tuanya bahkan selalu menjaga dan mengawasi rumahnya, tunggu ……. Laura menatap Aditia, matanya memancarkan rasa terimakasih yang dalam.
“Ada apa?”
Merasa ada yang memandangnya, Aditia pun bertanya.
“itu, makasih ya kak sudah mengawasi rumah kami, Laura yakin kakak bisa melihat Laura di bawah gapura karena kakak sedang patroli kan?”
Dengan antusias Laura mengucapkan terimakasih.
“Kamu harus mengingatnya.”
“ya kakak, pasti.”
Laura menggangguk dengan semangat.
Aditia merebahkan badannya di sofa, bibirnya sedikit naik, siapapun dapat melihat suasana hatinya sedang sangat baik.
Mana la Laura tahu kalau Aditia tidak akan kurang kerjaan berpatroli mengawasi rumahnya yang berjarak 5 menit dengan berjalan kaki , Aditia bisa melangkah kesana karena Aditia sedang merindukan permata kecilnya, dan setiap kali ada waktu Aditia akan berdiri di depan gerbang rumahnya dan mengingat masa kecilnya yang manis.
Seperti hari ini, Aditia sangat merindukan gadis kecilnya karena itu kakinya tanpa sadar melangkah ke rumah yang penuh kenangan itu, betapa terkejutnya dia karena akhirnya dia menemukan permata kecilnya yang kini berubah sangat cantik dan meranjak dewasa.
Kalaulah Laura tahu bahwa saat ini Aditia ingin sekali memeluknya dan memanggilnya Permata kecilku , akan tetapi Aditia menahan hasratnya dan hanya mempertahankan wajah datarnya agar dia tidak ditertawakan Hans dan ibunya.
__ADS_1
Laura mengeryit melihat Hans yang sedari tadi tidak bersuara, dan ternyata dia sedang fokus dengan HP nya, wajahnya berubah cemas.