Permata Kecil Matahari

Permata Kecil Matahari
Permata Kecilnya


__ADS_3

“Dimananya yang membuat mu tidak senang Matahari?”


Delores yang paling mengenal putranya menunduk dan bertanya, Delores paling tahu kalau Aditia bakalan senang dengan panggilan Matahari.


Dan benar saja wajah Aditia tersenyum merekah melihat ayahnya. “Sebelum games paman tadi berkata siapa yang mendapatkan permata yang murni dan berkualitas tinggi akan jadi pemenangnya, betul?”


Aditia bertanya dengan percaya diri, dan tentu saja itu karena panggilan Matahari yang dilontarkan sang ayah.


“Betul sekali.”


Justin menggangguk menjawab pertanyaan Aditia


“Lalu paman berkata sesudah games, bahwa kami semua pemenangnya itu berarti salah satu diantara kami tidak menemukan permata yang lebih berkualias itu kan paman?”


Aditia mengacakkan pinggangnya dan bertanya kepada Justin, Aditia tanpa rasa takut memandang Justin dan mengangkat telunjuknya dengan sangat yakin.


 “Benar sekali kenapa Matahariku sangat pintar?”


Justin terkekeh dan mengelus lembut kepala Aditia. Dia gemas melihat gelagat anak sahabatnya ini.

__ADS_1


“Walau aku tidak meraih permata itu, akan tetapi aku melihat satu permata yang sangat indah, dan aku yakin itu adalah permata yang paman maksud. Paman jika aku dapat menunjukkan letaknya dapatkah aku disebut sebagai pemenangnya?”


Dengan melipat kedua tangan didada dan kepala menggangguk angguk Aditia bernegosiasi dengan Justin, berharap negosiasinya berhasil.


“Sejak kapan ayah mengajarkan ada pilihan lain dalam games Matahari?”. Dengan Tegas Delores menolak negosiasi putranya.


Delores meluruskan pemikiran anaknya, karena dari dulu dia berperinsip dalam setiap pertandingan hanya ada kalah dan menang, tidak ada pilihan ketiga lainnya, dan tentu saja tidak ada kekalahan dalam kamusnya, hal ini menyebabkan dia menjadi orang terkaya no 1 dikotanya.


Aditia menurunkan tangannya dan menunduk, tentu saja tidak ada pilihan ketiga dalam pengajaran yang ia terima sedari kecil, apapun alasannya kalah ya kalah tidak ada pengecualian.


Justin sangat mengenal ketegasan Delores dalam bisnis dan tentu saja itu pasti mengalir dalam hal mengajarkan anaknya juga, akan tetapi dia merasa sedih melihat Aditia yang menunduk.


Rangga mencairkan suasana yang berubah menjadi dingin dan itu berhasil membangkitkan kepercayaan Aditia kembali. Dia melirik ayahnya dan menggangguk.


“Benar tidak ada pilihan ketiga dalam sebuah games ayah, aku terima kekalahanku, tetapi bagaimana jika Permata itu tidak untukku tetapi aku berikan kepada permataku, aku hanya sangat yakin itu adalah permata yang sangat murni dan berkualitas tinggi ayah.”


Aditia memandang ayahnya dengan pandangan tegas mencoba bernegosiasi dengan ayahnya.


Monica tersenyum dan mendekati anaknya, ia bertanya dengan kelembutan, “Katakan siapa permata mu yang Matahari sebutkan itu, apakah ada diantara teman temanmu yang ada disini?”

__ADS_1


“Tidak,”


Dengan tegas Aditia menjawab.


“Mom, inti permasalahnnya bukan disitu, intinya aku telah kalah, tetapi  dapatkan aku menunjukkannya, aku hanya merasa sayang bila permata itu jatuh ketangan orang lain.”


Aditia merengek mencoba menjelaskan intinya kepada para orang tua yang ada disitu.


“Dad…”


Suara imut Aditia kembali terdengar.


“Baik, biar paman Justin yang memutuskan tetapi tetap Matahariku harus menjelaskan siapa permatamu itu, Ok?”


Delores melunak dengan negosiasi anaknya, Delores tahu Aditia sangat menyayangkan permata berkualitas tinggi yang hanya bisa dilihatnya saat bermain games tadi.


“Baik , paman akan memberikan permata yang akan Aditia tunjuk kepada permata kecilmu, akan  tetapi dengan syarat itu benar benar Permata berkualitas tinggi dan murni yang hanya satu satunya paman letakkan di ruangan itu.”


“Baik.”

__ADS_1


Aditia mengangguk, menunduk dan tersenyum, wajahnya memerah mendengar kata permata kecil yang keluar dari mulut paman Justin. Ada rasa kepuasan yang menguar dari hatinya.


__ADS_2