Permata Kecil Matahari

Permata Kecil Matahari
Games Justin


__ADS_3

Setiap anak sangat antusias memikirkan Permata yang didapat itu akan menjadi hak milik mereka. Bahkan Hans Wijaya juga diberi kesempatan ditemani pengasuhnya dan tentunya setelah ke 6 anak lainnya telah selesai bermain.


Justin hanya memberikan waktu selama 5 menit.


Waktu dimulai dan setiap anak berlari memasuki ruangan gelap dan hanya ditemani satu buah senter kecil ditangannya, mereka mencari cari di semua sudut ruangan, ada yang memanjat, ada yang masuk ke kolong meja, ada yang membuka lemari, ada yang membuka laci.


Para orang tua dengan sangat antusias melihat semua pergerakan anak anaknya melalui rekaman cctv. Justin memang meletakkan Permatanya di satu ruang kamar tamu yang telah dibersihkan terlebih dahulu dan di ruangan kamar itu ada beberapa cctv yang di buat khusus untuk acara games ini.


“ Waktu sisa tinggal 2 menit lagi ayo anak anak semangat”, terdengar teriakan para orang tua dari luar. Teriakan itu berhasil membuat beberapa orang gadis kecil melompat dan berteriak karena keantusiasannya.


Satu persatu anak yang telah menemukan Permata keluar dengan memegang 2 Permata di tangannya.


Terlihat Aditia dan sikembar Micel dan Michael masih sibuk membuka setiap laci dan mencari beberapa Permata yang ada, berulang ulang kali mereka melewatkan beberapa Permata dan memilih untuk mencari Permata lain yang membuat hati mereka tertarik.


Para orang tua masih setia melihat mereka bertiga dan tentu  anak yang lainnya dengan senang hati menunggu sembari menggenggam erat Permata yang mereka dapat.


Waktu pun selesai dan dengan lesu Aditia keluar dari ruangan, Monica mengahampiri puteranya dan menciumnya dengan kelemah lembutan.

__ADS_1


“Sudah jangan bersedih lagi, kalau ada kesempatan bisa meraihnya lagi”.


“Baik.


Aditia mengganguk sembari berlari bergabung dengan anak anak lainnya.


“Kenapa kakak berkata seperti itu?”


Marta Su bertanya dan merasa heran dengan komunikasi kedua ibu anak ini.


“Aku melihatnya memperhatikan satu titik, dan aku yakin itu adalah permata yang sangat ingin dia raih, tapi mungkin karena ada penghalangnya dia jadi kesusahan meraihnya, Adia terdiam pasti karena sedang memikirkan cara termudah untuk meraihnya.”


Justin telah mengumpulkan setiap permata yang didapat oleh anak anak dan menilai dan tentu saja setiap ayah juga melihat hasil pencapaian dari setiap anak anaknya. Mereka tersenyum karena bagaimanapun hasilnya tetap anak anak mereka adalah pemenang.


“Paman sangat senang melihat hasilnya, memang semua permata yang ada di ruangan semuanya sangat berharga tetapi setiap permata yang bersinar tanda silang sempurna di dalam kegelapan adalah permata yang sangat berharga, dan dari hasil yang kalian dapat semuanya memuaskan, bisa paman lihat semuanya berhasil meraih permata murni., dengan ini paman menyatakan semua adalah pemenangnya”.


“Yeiii iii”

__ADS_1


Semua anak bersorak kegirangan, mereka tidak peduli permata siapa yang paling mahal karena paman Justin berkata semua adalah permata murni, itu cukup membuat anak anak senang, anak anak memang begitu mereka selalu senang dengan pujian.


Berbeda dengan Aditia ,  walaupun ada senyum diwajahnya tetapi orang tua yang berpengalaman dapat melihat ada rasa ketidak puasan di wajahnya.


“Yahhh paman, kenapa tidak asik begini?”.


Aditia berdecak dan menyembikkan bibirnya menunjukkan ketidak puasannya


"Kenapa Aditia apakah ada hal yang membuatmu tidak tenang.? "


“Ya.”


Aditia menawabnya singkat.


Justin, Delores dan 3 ayah lainnya terkekeh mendengar jawaban singkat Aditia.


“Dimananya yang membuat mu tidak senang Matahari?”

__ADS_1


Delores yang paling mengenal putranya menunduk dan bertanya, Delores paling tahu kalau Aditia bakalan senang dengan panggilan Matahari.


.


__ADS_2