
Seorang gadis kecil berlari-lari menuju ke depan, saat melihat sesosok orang yang dia sayang datang berkunjung. Sudah lama tak bertemu membuatnya rindu.
"Om Nerooo ..." Tania nama gadis kecil itu, dengan hati riang gembira menyambut dan memeluk lelaki yang dia sebut Nero tadi.
"Tania sayang." Dia balas memeluk dan menggendong gadis kecil itu. Berputar-putar sebentar. Sama-sama tertawa dan merasa senang.
"Om lama ga datang." Dia merajuk. Bibirnya ditekuk, cemberut, tapi setelah itu tersenyum senang. Tangannya masih erat memeluk.
"Ini kan lagi tugas keluar kota," jawab Nero. Dia kemudian menurunkan gadis itu dari gendongannya.
"Om lama. Tania kan engga ada temennya. Papa sibuk terus," Dia mencibirkan bibirnya. Malah nampak lucu dan membuat Nero tertawa terbahak-bahak. Diusapnya kepala gadis kecil itu.
"Ini kan om udah pulang. Ayo nanti kita jalan-jalan ya," bujuknya. Gadis itu mengangguk senang. Matanya berbinar-binar.
"Mana oleh-oleh buat Tania?" Tangannya terulur meminta.
"Ini, om bawain." Nero mengeluarkan sebuah tas kertas dan menyerahkannya.
Tangan gadis kecil berusia sepuluh tahun itu dengan cepat mengambilnya. Tak sabar dia segera membuka bungkusnya. Tampaklah sebuah boneka Barbie original keluaran terbaru.
"Asyik, boneka baru." Dia bersorak kegirangan. Tubuh kecilnya melompat-lompat, membuat Nero semakin keras tertawa.
Tak lama, tampak seorang pria keluar dari dalam, berjalan menuju ke arah mereka.
"Papa. Om Nero udah datang tuh." Tania berjalan menuju papanya. Lelaki itu tersenyum melihat kelakuan putrinya.
"Tania, om baru datang kok ga disuruh duduk. Malah dimintain oleh-oleh." Si papa yang bernama Bram menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Halo, Mas. Apa kabar." Nero dan Bram berpelukan. Saling melepas rindu.
"Papa, aku ke kamar dulu, ya. Mau main boneka baru," celetuknya dengan gaya centil khas anak-anak. Bram mengangguk meng-iya-kan.
"Dadah Papa ... Dadah Om Nero." Dia berlari masuk ke dalam kamar. Samar-samar terdengar suaranya yang sedang asyik bermain sendirian.
Bram menoleh ke arah tamunya, dan mengajaknya berbicara. "Betah kamu di Sidney, ya. Sampai ga inget pulang." Dia menepuk bahu Nero.
"Yah, memang trainingnya lama mas, mau gimana lagi? Tapi, masih lebih enak di kampung sendiri. Di sana aku ga cocok makanan." Nero menjelaskan.
Bram tertawa geli mendengarnya. Beberapa kali Nero memang meneleponnya untuk meminta pulang. Dia lebih suka sambal cobek daripada roti dan kawan-kawannya. Lagi pula cuaca dan kebiasaan penduduk di sana berbeda, jadi dia harus cepat beradaptasi.
Bram menahannya, melarang dia pulang sebelum training selesai . Nero harus banyak belajar mengenai pengelolaan perusahaan dengan baik. Jika sewaktu-waktu dia berhalangan, maka lelaki itu yang akan menggantikan posisinya.
"Ayo duduk dulu." Bram mempersilakan. Sedari tadi mereka berbicara sambil berdiri. Nero mengambil tempat duduk disebelah Bram.
"Ehem." Terdengar suara seorang wanita memutus percakapan mereka. Bram menoleh, dan dia baru sadar setelah wanita itu memberi kode dengan suara batuknya. Ternyata sedari tadi bersembunyi di belakang. Tubuh kecilnya, terlindung di balik kokohnya punggung Nero.
"Nah, siapa yang cantik ini? Belum kamu kenalin sama mas," tanya Bram penasaran.
"Eh, lupa. Ini Saskia. Pacarku, Mas." Nero mengenalkan kekasihnya.
Wanita cantik itu menyambut uluran tangan Bram. "Saskia." Dia menyebutkan nama.
"Cantik, ya." Bram sengaja menggoda. Melihat ekspresi Nero yang berubah saat kekasihnya digoda, membuat Bram menahan senyum.
Raut wajah Nero terlihat tidak senang saat Bram mengucapkan kata-kata itu. "Kita udah tunangan, nih," jawabnya pelan.
"Wah, wah. Tiga bulan ninggalin tanah air, pulang-pulang udah tunangan aja. Congrats, ya." Dia mengucapkan selamat.
"Thanks, Mas. Aku langsung lamar aja dia. Takut keduluan orang lain," ucapnya.
Jawaban jujur Nero tadi membuat mereka tergelak. Saskia yang sedari tadi memilih banyak diam pun akhirnya ikut tertawa. Semakin tampak cantik-lah dia.
"Hebat kamu, Nero. Mas engga nyangka. Akhirnya laku juga."
"Yah, dari pada gigit jari. Mending langsung di tandain aja." Cengirannya membuat Bram semakin geli.
__ADS_1
Saskia tersenyum memandang calon suaminya. Menatap wajah tampan lelaki yang duduk di sebelahnya.
"Eh, Sebentar di bawakan minuman." Bram berteriak memanggil pembantunya, meminta dibuatkan suguhan. "Ayo ceritain lagi, kapan kamu kenalan sama si cantik ini?" Dia kembali bertanya.
"Ah, mas ini godain terus." Nero tertunduk malu.
"Kami ketemu di pantai. Waktu itu aku lagi ada gathering sama temen-temen kantor. Nero ngajak kenalan," jawab Saskia. Akhirnya bicara juga dia.
"Nah, Nero memang seneng tuh kalau ke pantai. Seneng liat bikini dia." Bram setengah berbisik. Sengaja, mengompori.
"Mas ini, jangan buka rahasia. Nanti dia ngambek, gimana?" Serius sekali nada bicaranya. Seperti takut akan kehilangan wanita di sampingnya.
"Kita jalan bareng, ngerasa cocok aja. Terus, lanjut." Wanita itu melanjutkan pembicaraan.
"Kamu pasti wanita spesial sampai si player ini akhirnya bertekuk lutut, dan mau menikah. Iya, kan?" tanya Bram. Menggali informasi lebih banyak.
Memang benar dia sangat penasaran. Secara Nero ini adalah pemain wanita. Entah sudah berapa kali dia menasehati, dan memperkenalkan lelaki ini dengan beberapa wanita kenalannya. Selalu ditolak. Sepertinya, Saskia ini punya sesuatu yang berbeda sehingga Nero bisa takluk.
"Player? Hem, pasti pacarnya banyak ya?" Saskia mengerling ke arah kekasihnya. Nero sendiri tersenyum kecut.
"Kamu belum tau, ya? Dia ini salah satu idaman wanita di sini, tapi hatinya batu, susah ditembus kalau disinggung soal pernikahan." Bram ikut mengerling Nero yang tertunduk malu. "Sungguh kuat pesona Saskia sampai Nero diam saja sejak tadi." Bram berucap dalam hati.
"Oh, ya?" Saskia mengamit lengan Nero.
"Kamu wanita beruntung. Dari sekian banyak pacarnya, dia memilihmu." Bram tersenyum menatap gadis itu. Wanita itu mengangguk senang.
"Mungkin memang sudah jodohnya, Mas," jawab Nero.
"Ya, syukurlah. Memang sudah waktunya kamu menikah. Ga baik kalau lama-lama sendiri." Bram kembali menasehati.
"Ini, Mas." Nero membuka tasnya. Meyerahkan sebuah undangan.
Bram mengambilnya. Membuka dan mulai membaca. "Wah, selamat ya. Bulan depan, nih? Cepat ya?"
"Oh, ya? Bagus, dong. Jangan LDR, engga enak. Berat di ongkos."
Tawa bergema di ruangan itu.
"Mas Bram datang, ya." Saskia melanjutkan pembicaraan.
"Pasti. Mas sama Tania pasti hadir. Tania pasti seneng omnya mau nikahan." Dia mengangguk untuk menyakinkan.
"Iya, Mas. Aku mau mas jadi saksi di pernikahan kami nanti. Inilah tujuanku sama Saskia datang ke sini. Mau, ya?"
Bram terpana. Tak menyangka. Ternyata sahabatnya ini memintanya menjadi saksi untuk momen bahagia dalam hidupnya.
"Saksi? Ya, boleh. Mas mau sekali." Bram merasa senang. Suatu kehormatan baginya, bisa mendampingi dan menyaksikan langsung acara itu.
"Aku udah anggap mas sebagai kakakku sendiri. Kami sepakat mas yang jadi saksi nanti di pernikahan kami." Nero menoleh ke arah Saskia.
Bram tersenyum. "Pasti. Apa pun mas akan lakukan untukmu, Nero. Asal kamu bahagia. Kamu juga sudah mas anggap seperti adik sendiri." Bram menepuk bahunya.
"Terima kasih, Mas."
"Selamat ya, Nero. Akhirnya, kamu menemukan pelabuhan hatimu."
Nero dan Saskia berpamitan pulang. Mereka berpelukan lama sebelum berpisah.
* * *
Hiks ... hiks ... hiks ....
"Ayo, Tania. Kita keluar. Acaranya sebentar lagi di mulai." Bram membujuk putrinya.
"Engga mau." Gadis kecil itu menggeleng. Menolak untuk ke luar ruangan. Dia merajuk sejak tadi. Merasa tidak terima dengan keputusan omnya. Om Nero-nya.
__ADS_1
"Jangan begitu. Masa omnya mau nikahan malah sedih. Kan harusnya kamu senang." Bram mengusap kepala putrinya. Mencoba membujuk. Anaknya kalau sudah begini, sulit untuk dirayu. Butuh waktu yang lama. Kadang jika dia malas, malah meninggalkannya begitu saja. Mungkin, memang hanya Nero yang bisa.
"Om jahat. Nanti om Nero ga sayang lagi sama Tania," jawabnya. Memang anak ini pintar sekali berbicara. Pandai membantah orang tua.
"Kok, ngomong gitu? Om Nero pasti tetap sayang sama kamu. Ini kan om nikah biar ada temannya. Kasian om ke mana-mana sendirian. Tante Saskia kan baik sama kamu. Masa ga boleh nikahan sama om?" Bram menjelaskan panjang lebar, masih berusaha merayu.
"Tapi nanti om sibuk, ga ajak Tania jalan-jalan lagi." Bibirnya masih ditekuk.
Bram tertawa lucu. Ternyata putrinya ini cemburu pada Saskia. Sejak kecil Tania memang dekat dengan Nero. Apalagi semenjak Bram menjadi duda karena kematian istrinya. Nero lah yang selalu menemani Tania. Membujuk saat dia merajuk dan mengajaknya berjalan-jalan.
Bram memang sibuk mengelola perusahaan yang di wariskan oleh keluargnya. Selama ini memang Nero yang banyak memberikan perhatian pada putrinya.
Semenjak tau bahwa Nero akan menikah, putri kecilnya itu tidak terima. Dia merajuk berhari-hari. Dia merasa perhatian omnya itu akan terbagi, yang tadinya untuk dia semua, sekarang harus berbagi dengan Saskia. Tania merasa tantenya itu telah merebut om kesayangangnya.
Dasar anak-anak.
Melihat putrinya yang masih saja kekeuh tak mau keluar, akhirnya Bram memutuskan untuk menyusul Nero ke depan. Meminta bantuan untuk membujuknya. Jika tidak mau juga, acara akan dilanjut tanpa kehadiran Tania.
Membuat Bram bingung saja, pasalnya Nero tidak mau di mulai kalau Tania tidak ada. Lelaki itu mau kalau keponakannya ikut serta menyaksikan. Untung saja masih ada waktu, penghulunya tidak terburu-buru. Jadi, masih bisa diusahakan.
Mereka berdua segera masuk ke ruangan. Sedari tadi, semua orang sudah menunggu sebenarnya. Sebelum Bram datang membujuk, sebenarnya sudah ada orang lain uang berusaha, tapi tetap saja Tania tidak mau.
"Tania kok cemberut?" Nero menghampirinya. Berjongkok di hadapan gadis kecil itu. Tak perduli bajunya akan kusut karena perbuatannya.
Huh. Gadis kecil itu membuang muka dan melipat tangan di dada. Tak mau bicara.
Melihat kelakuannya, Bram dan Nero saling berpandangan kemudian tertawa. Lucu sekali memang.
"Ayo ke depan. Rame loh di luar. Banyak makanan, ada kue-kue sama bakso kesukaan Tania," bujuk Nero.
"Aku ga mau!"
"Masa'? Baksonya enak, beneran. Om tadi makan sampai kepedesan." Dia masih saja berusaha. Biasanya sih lama-lama juga melunak. Harus dibujuk pelan-pelan. Namanya juga aank-anak.
"Om jahat. Om nanti udah engga sayang aku lagi." Dia menekuk bibirnya. Memang, anak Bram yang satu ini manja sekali, suka merajuk.
"Kata siapa om ga sayang sama kamu?" tanya Nero.
"Kata aku. Nanti kalau ada tante, om ga mau ajak jalan-jalan."
"Ya engga lah. Om tetap sayang dong sama keponakan om yang cantik ini." Nero mencubit pipi yang membuatnya gemes.
"Om bohong!" Tania memalingkan wajahnya.
"Engga. Om Janji. Walaupun udah ada tante Saskia, om tetap sayang sama Tania." Nero menunjukkan jari kelingkingnya.
"Beneran?" Mata kecilnya berbinar-binar mendengar ucapan Nero.
"Iya."
"Janji?"
"Janji!" Nero mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
"Kalau om bohong nanti aku ngambek." Kembali memasang wajah cemberut. Nero hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
"Beneran. Sumpah!" Kali ini dia sedikit mengeraskan suaranya. Berusaha lebih keras menyakinkan.
"Ya udah kalau gitu, aku mau makan bakso yang banyak." Tani mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Nero. Deal. Akur mereka.
Acara akad pun dimulai. Nero dengan lancar mengucapkannya. Sah. Saskia pun resmi menjadi istrinya, di mata Tuhan dan negara.
Setelah selesai acara, kaki kecil Tania berlari menuju buffet. Dia mengambil kue-kue dan bakso kesukaannya. Ovi membantu menyuapkan makanan. Dia tidak jadi merajuk, hari ini dia senang.
Ada banyak orang, banyak makanan. Banyak teman-teman seumuran dengannya. Jadi dia bebas bermain dan tidak merasa kesepian lagi. Bram dan Nero, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
__ADS_1