Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Selamat Pagi


__ADS_3

Tania berjalan terjingkat-jingkat menuju dapur, ada bagian tubuhnya yang perih. Nero memang nakal, dia sudah menyerah, tapi suaminya itu malah mengulangi sekali lagi.


Bahkan sebelum tidur, Nero masih menciumnya mesra, seperti tidak puas saja.


Ovi dan Ijah hanya tersenyum geli melihatnya. Mereka berbisik-bisik berdua karena merasa lucu melihat kelakuan Tania.


"Hayoo kakinya kenapa?" tanya Ovi menggoda, saat Tania mendekati mereka.


"Kaki-ku sa-kit ..." Dia membuang muka. Wajahnya merona. Sungguh memalukan, kenapa mereka malah melakukannya di saat banyak orang di rumah? Jadinya dia diledek terus.


Ini gara-gara perbuatan Nero.


Eh, tapi bukannya kemarin malam dia yang masuk ke kamar Nero duluan dan menawarkan diri?


Aduh, malunya.


"Kaki mana yang sakit?" Ovi menggoda. Ijah memilih untuk diam dan menyiapkan sarapan.


"Tanteee ..." Rengeknya manja.

__ADS_1


Untung saja Nero tidak membuat tanda apa pun yang meninggalkan bekas si bagian tubuhnya yang terlihat. Rambut Tania yang basahlah. yang sudah menjawab semuanya.


Merek asyik berbincang ini itu sambil menunggu makanan siap, saat mendengar langkah kaki lain mendekat.


"Pagi!" Nero menyapa semua orang dengan wajah berseri.


Dia duduk di sebelah Tania dan memandang istrinya dengan penuh cinta. Senyum tak lekang dari bibirnya. Matanya berkali-kali melirik istrinya yang tertunduk malu. Ah, jadi dia teringat kemarin malam saat kebersamaan mereka.


"Pagi Nero. Seger amat. Tadi malam olahraga ya?" Ovi mengedipkan mata.


Nero tertawa terbahak-bahak. Tania memasang wajah cemberut karena malu. Tante Ovi gitu deh.


Lelaki itu mengaduh saat lengannya dipukul keras, tapi dia malah membalas dengan sebuah cubitan di pipi. Ovi tertawa melihat tingkah mereka berdua. Pengantin baru memang malu-malu kucing. Dalam hati dia mengucap syukur, nasehatnya kemarin malah menyatukan dua orang di hadapannya ini.


"Kamu apain tadi malem? Kok kakinya jadi sakit begitu." Ovi meng-kode Nero dengan alisnya.


Tania ingin berlari masuk kamar. Bisa tidak suami dan tantenya ini membicarakan hal lain? Kenapa malah membahas itu lagi? Kalau tidak lapar saja, mungkin sudah kabur dia dari tempat itu. Benar-benar mereka ini, senang sekali menggodanya.


"Ada deh. Yang pasti bentar lagi Mas Bram bakal dapet cucu." Jawab Nero santai sambil menyuap sarapannya. Makannya kali ini lebih banyak dari biasanya. Tenaganya terkuras habis tadi malam.

__ADS_1


Ovi menambahkan lauk ke piring Tania. Ijah pagi ini memasak banyak sekali karena kedatangan Ovi. Semuanya enak dan kesukaan mereka pastinya.


"Makan yang banyak sayang. Biar tenaganya pulih." Ovi ikut menambahkan beberapa makanan ke dalam piringnya sendiri. Selera kampungnya muncul setiap pulang ke sini.


Tania mengganguk. Gadis itu melahap semuanya. Dia benar-benar lapar.


"Kapan datangnya Vi? Kok ga ngabarin kita?" tanya Nero.


"Kemaren. Mike ngasih ijin kok. Lagian kan cuma bentar tiga hari. Mau lihat mas Bram juga," jawab Ovi.


Mereka saling berpandangan. Nero memberi kode. Rahasia ini masih harus tetap dijaga. Tania belum boleh tahu.


"Ayo, kami antar. Aku hari ini nggak ke kantor kok. Lagi nggak banyak kerjaan juga. Bisa handle dari rumah." Nero menawarkan tumpangan. Ovi sudah jauh-jauh datang, tidak mungkin mereka membiarkannya pergi sendirian.


"Bilang aja mau berduaan terus." Lirik Ovi.


Tania sedari tadi hanya terdiam. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian partnya.

__ADS_1


__ADS_2