Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Ragu


__ADS_3

Ovi menyodorkan sesendok makanan ke mulut keponakannya. Sejak pagi gadis itu tidak mau makan. Padahal acara padat. Bisa gawat kalau sampai dia sakit. "Ayo, Tania. Makan dulu." Dia membujuk.


"Tania ga lapar, Tante." Gadis itu menggeleng.


"Nanti kamu lemes, loh. Mau lanjut acara lagi nanti malam. Kalau kamu lemes, nanti malah repot. Masa pengantin baru sakit sehabis nikahan." Bujuknya lembut. Membuat gadis ini mengerti gampang-gampang susah ternyata.


Tania akhirnya menurut. Menghabiskan sesuap demi sesuap makanan yang di ada di depannya. Dia sama sekali tidak berselera melihat menu apa pun. Hatinya hampa. Semua rasa bercampur menjadi satu. Sedih, marah, kecewa, benci.


Kecewa kepada semua orang. Papanya, keluarganya. Pada Nero apalagi, rasa sayangnya berubah menjadi rasa benci.


"Habis makan kamu istirahat bentar. Tadi tante udah bilang sama yang lain, kamu ga usah di gangguin dulu." Ovi dengan sabar menyuapkannya. Tangannya juga mengusap bekas tangis di mata Tania.


"Iya, Tante."


"Nah, sesuap lagi, ya. Habis ini kamu istirahat. Nanti sore tante bangunin, siap-siap buat resepsi. Sekarang kamu tidur aja dulu." Ovi membereskan piring, sendok dan gelas. Meletakkannya di nakas samping tempat tidur. Biar nanti diambil pelayan hotel.


Dia juga membantu Tania berganti pakaian dan membersihkan make-up, kemudian menuntunnya ke tempat tidur. Menyuruh gadis itu tidur. Biarlah Tania beristirahat sebentar. Hari ini pasti berat baginya.


Pukul dua siang. Masih ada waktu. Selesai akad tadi, Ovi sengaja membawa Tania ke kamar. Dia tidak mau keponakannya dicecar pertanyaan mengingat kondisi mental Tania yang belum siap.


Mereka akan melanjutkan acara resepsi nanti malam. Bram tetap mengadakan pesta besar-besaran. Mem-booking hotel ini untuk acara pernikahan dan tempat menginap keluarga serta koleganya dari luar kota.


Ovi menghela napas. Seandainya dia tidak tinggal di luar negeri bersama keluarganya, mungkin dia bisa menjaga dan melindungi Tania. Mengasihi dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.


Bram bersikeras tidak mengijinkan Tania ikut dengannya dengan alasan tidak mau berpisah jauh dengan putrinya. Bram memilih merawat sendiri putrinya dengan dibantu pengasuh dan Nero tentunya.


Sekarang gadis itu harus menikah dengan Nero. Ovi tidak bisa membayangkan jika dia menjadi Tania. Mungkin sikapnya akan sama dengan yang dilakukan, menolah mentah-mentah perjodohan. Gadis itu masih muda sekali. Baru lulus sekolah menengah umum. Belum mengerti apa itu pernikahan. Dipaksa oleh ayahnya untuk mengikat janji sehidup semati, dengan orang yang tidak dia inginkan pula.


Andaikan Bram menyerahkan Tania kepadanya untuk dirawat, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ovi merasa kakaknya tidak mempercayainya. Setitik air matanya menetes.


* * *

__ADS_1


Ovi keluar menuju ruangan tempat akad tadi berlangsung. Tamu-tamu dan keluarga masih berkumpul, berbincang-bincang sambil makan. Beberapa ada yang kembali ke kamar untuk beristirahat.


Sedangkan wedding organizer yang mereka percayakan sedang sibuk mengubah panggung tempat akad tadi berubah menjadi tempat resepsi. Berbagai macam bunga-bunga cantik mengiasi ruangan dari pintu masuk sampai ke dalam. Berbagai macam hidangan silih berganti di persiapkan untuk menjamu para tamu. Hilir mudik orang-orang tidak mengurangi ke-sakral-an acara tadi.


Bram memang pintar menyusun semuanya, sampai banyak orang yang tidak tahu bahwa sebenarnya pernikahan ini dilakukan terpaksa oleh kedua pengantinya.


Jika dia menjadi Tania mungkin memilih akan lari meninggalkan acara, tapi ternyata gadis itu sangat menyayangi ayahnya. Walaupun terpaksa dia tetap menjalaninya. Untunglah dia menurut saja. Tidak berbuat aneh-aneh.


Dia jadi teringat akan pernikahan dulu dengan Mike, suaminya. Sama, penuh dengan bunga-bunga. Hanya saja dulu mereka sangat bahagia.


"Hai, Darl. Duduk sini." Mike menarik kursi untuk istrinya. Ovi ikut bergabung di meja dan mengambil makanan.


"Tania mana?" Tanya Bram.


"Istirahat di kamar. Semalaman dia ga tidur. Kasian kalau dia capek, sebentar lagi kan lanjut resepsi," jawab Ovi.


"Dia udah makan?" tanya Mike dengan bahasa Indonesia yang agak janggal. Bule' yang satu ini cukup lancar berbahasa Indonesia, tapi pengucapannya memang kadang aneh terdengar.


Nero yang dilirik hanya diam sedari tadi. Wajahnya memerah. Tapi dia berusaha memasang ekpresi biasa saja di depan semua orang, walaupun hatinya tak karu-karuan.


"Nero sana ke kamar. Temani Tania. Kamu juga butuh istirahat. Acara nanti malam padat. Undangan rame." Bram menyuruh menantunya masuk.


"Nanti saja, Mas. Masih mau di sini ngobrol," tolaknya halus.


"Loh kok panggil mas. Panggil papa dong." Mike menggodanya. Mereka semua tertawa. Nero hanya tersipu malu. Wajahnya merona.


"Sudah sana istirahat. Lagian kan di kamar sama istri sendiri." Bram mengedipkan mata.


"Mas ini." Wajahnya memerah.


"Kamu ga usah malu-malu, Nero. Kayak belum pernah nikah aja." Ovi menggodanya lagi. Mereka tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Yaudah, aku pamit dulu." Dia meninggalkan meja menuju lift. Menekan tombol menuju kamarnya. Kamar pengantinnya.


* * *


Nero berdiri lama di depan pintu. Dia bimbang mau masuk atau tidak. Kunci kamar hotel sedari tadi hanya digenggamnya. Tangannya gemetar setiap kali hendak membuka pintu.


Ada Tania di dalam. Tania gadis kecilnya. Sekarang dia sudah bukan gadis kecil lagi. Tania sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, saat ini sudah sah menjadi istrinya pula.


Ayolah Nero. Lagipula dia pasti sedang tertidur karena kelelahan. Keringatnya bercucuran. Padahal di sini tidak panas sama sekali.


Kamu hanya perlu masuk kamar. Berganti pakaian dan beristirahat. Ini juga kamarmu. Bagaimana kalau Tania marah dan mengusirnya? Tidak mungkin. Tania tidak mungkin mengusirnya. Kamu kan sangat dekat dengan gadismu.


Itu dulu. Setelah tahu mereka dijodohkan dan harus menikah, Tania menghindarinya. Tania membencinya. Dia marah, berteriak kepadanya. Mengatakan bahwa Nero menjebaknya, sengaja ingin mengancurkan masa depannya. Gadis itu berpikir Nero sengaja ingin menguasai perusahaan papanya dengan cara menikahinya.


Dia hanya bisa terdiam menerima semua tuduhan gadis itu. Janjinya kepada kepada Bram untuk merahasiakan semuanya masih dipegang teguh. Sampai saatnya tiba, Bram sendiri yang akan bicara pada putrinya.


Nero termenung. Masuk saja, tidak apa-apa. Jika dia marah, kamu hanya perlu diam. Bahkan kamu bisa menenangkan atau memeluknya.


Memeluk? Dia sudah biasa memeluk gadis itu sejak kecil. Menggendong, mencium, bahkan beberapa kali ikut tertidur di kamarnya saat membacakan buku cerita. Sekarang sudah berbeda. Tania istrinya, bukan gadis kecilnya lagi. Menyentuhnya sudah tak sama lagi seperti dulu. Ah, Nero benar-benar pusing.


Ceklek ....


Dengan mengumpulkan sedikit keberanian akhirnya dia masuk juga. Dilihatnya Tania sedang tertidur. Suara dengkur halusnya terdengar. Perlahan menutup pintu, mengganti pakaian dan mencuci wajahnya.


Dia ragu. Apa sebaiknya dia tidur di sofa saja? Tapi tubuh besarnya pasti tidak cukup untuk sofa yang begitu kecil. Kakinya pasti akan menekuk dan pinggangnya akan sakit jika dipaksakkan tidur di situ.


Biar sajalah tidur di sebelah Tania, sudah biasa juga. Lagi pula kan dia tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh walaupun sudah sah menjadi istrinya. Pikirnya begitu. Agak meragu, akhirnya dia memutuskan naik ke tempat tidur dan mengambil posisi di sebelah Tania.


Tubuhnya lelah. Hati dan pikirannya juga. Sejak awal Bram memintanya menikah, hari-hari dirasakannya begitu berat dan panjang penuh dengan konflik, tuduhan, penolakan yang tak berhenti.


Dia pasrah menerima semuanya. Sudah resiko, bukan?

__ADS_1


Diantara rasa bimbang yang berkecamuk di benaknya, tak lama dia ikut terlelap.


__ADS_2