
"Mas kesini. Papa udah siuman"
Suara Tania yang serak di balik telepon membuat Nero segera bergegas menuju rumah sakit. Nero segera membatalkan meeting dengan klien yang cukup penting hari ini.
Sampai di rumah sakit dia melihat Mike berdiri di luar. Menatap di dinding kaca. Memberinya kode agar segera masuk secara bergantian.
Nero mengambil baju khusus yang harus di gunakan jika ingin membesuk pasien di ruang intensif.
Bram terlihat lemah. Kesadaranya sudah mulai pulih. Dia menatap Nero dan Tania bergantian. Sedangkan Ovi memilih keluar ketika Nero masuk.
"Mas" Nero menggenggam tangan Bram. Tania sendiri tampak berbinar bahagia melihat kondisi papanya.
"Nero. Tania" Bram memandang keduanya bergantian.
"Sudah jangan banyak bicara mas. Istirahat saja"
"Hehehe" Bram terkekeh. Dalam kondisi begini Bram masih aja bisa bercanda.
"Papa udah jangan banyak ngomong dulu" Tania mengusap kepala Bram. Beberapa selang sudah mulai di buka seperti alat bantu makan (*NGT) misalnya. Tapi untuk selang oksigen Bram masih harus memakainya.
"Papa masih kuat kok sayang. Kan mau lihat cucu"
Ya Tuhan mas Bram. Saat sadar pun yang ada di pikirannya masih itu. Nero hanya geleng-geleng kepala sembari tertawa pelan. Sementara Tania hanya menatap suaminya tanpa berkata-kata.
"Iya pa. Nanti kita kasih. Tapi papa harus bertahan ya"
__ADS_1
Bram mengangguk. Kemudian mengusap perut putrinya.
"Sudah ada?" Dia bertanya.
Tania menggeleng. Tampak raut kecewaan dari wajah Bram.
"Belum mas. Tapi kita usaha terus. Iya kan sayang?" Nero memeluk bahu Tania. Berusaha meyakinkan Bram.
"Iya pa. Ini malam juga kita bikin" jawab Tania polos.
Apaaa? Bikin cucu? Asyiiikk. Nero tersenyum-senyum. Bram terkekeh melihat kelakuan anak dan mantunya.
Tania tersadar. Ucapannya barusan sebenarnya hanya ingin menenangkan papanya. Tapi melihat Nero tersenyum mesum begitu, matanya langsung melotot.
"Mas ini. Papa lagi sakit juga" Dia berbisik sambil mencubit pinggang Nero.
"Maaf pak, bu waktunya sudah habis. Tidak boleh lama-lama ya. Bapak Bram baru saja pulih" Seorang perawat mendatangi mereka.
"Baik suster. Titip papa saya ya"
"Ibu tenang saja. Rumah sakit ini memberikan pelayanan terbaik untuk bapak Bram" perawat itu tersenyum.
"Pa. Tania pulang dulu ya. Papa jangan mikir aneh-aneh" Tania mengecup kening papanya.
Bram mengangguk. Nero menepuk punggung tangan Bram.
__ADS_1
"Untuk rekam medis mengenai kondisi Bapak Bram, bapak ibu boleh langsung ke ruangan dokter. Tadi beliau sudah visite kesini sebelum bapak ibu datang. Kemudian karena ada operasi, dokter hanya sebentar. Mungkin agak sore baru kembali lagi"
"Baik suster. Terima kasih" Nero dan Tania segera keluar.
Mereka bertemu Ovi dan Mike.
"Syukurlah Bram sudah siuman" Ovi menghela nafas.
"Kita pulang ya darl?" Mike merengkuh istrinya.
"Jangan dulu" Ovi membelai wajah Mike lembut. "Tunggu sampai Mas Bram pulang ke rumah ya"
Mike mengangguk dan mengecup bibir Ovi singkat. Pemandangan seperti itu membuat Tania gerah. Dia memalingkan wajah.
Bagi Ovi dan Mike yang bule itu mungkin berciuman di tempat umum itu sudah biasa, tanda saling mengungkapkan rasa cinta.
Tapi bagi Tania? Mukanya memerah. Ketika Ovi dan Mike berpamitan untuk makan siang, Nero membisikkan sesuatu ke telinga Tania yang membuat wajahnya semakin memerah.
"Kamu mau juga kayak gitu?"
"Apaan sih mas ini" Tania tertunduk.
"Tadi di depan papa bilangnya mau bikin cucu" Nero menggesekkan hidungnya ke rambut Tania.
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 081184815
__ADS_1