
Nero baru selesai mandi saat melihat Tania memasuki rumah. Jarum jam dinding menunjukkan angka tujuh dan ini sudah malam.
"Mas baru pulang? Kemaren tidur di mana?" Tania bertanya. Melihat gelagat sang suami yang tidak seperti biasanya, dia mulai mencurigai sesuatu. Lelaki itu tidak pulang semalaman bahkan tidak memberikan kabar sama sekali.
Nero memandang istrinya dengan lekat, berharap dia tidak marah lagi. Bukannya takut, hanya saja memang rasanya tidak nyaman jika selalu bertengkar dengan pasangan.
"Dari rumah sakit ngeliat papa kamu," jawabnya pendek, tapi matanya mencuri pandang. Menerka dalam hati, apa istrinya masih marah atau tidak.
Tania berjalan menuju kamarnya, tak menghiraukan suaminya sama sekali. Melihat wajah istrinya yang cemberut, Nero menahannya.
"Kamu masih marah?"
"Tanya aja diri sendiri!" jawab Tania kesal. Siapa juga yang tidak akan marah jika diperlakukan suaminya seperti ini.
Tunggu! Ini sebenarnya siapa yang salah, sih?
"Sayang," Nero mencoba merengkuhnya, tapi wanita itu menolak. Dia tidak mau disentuh. Rasa kesal dalam hatinya masih saja belum hilang sampai saat ini.
"Lain kali kalau nggak niat pulang kasih kabar. Hape di aktifkan!" katanya ketus.
__ADS_1
"Sorry." Nero mengiba. Berharap istrinya luluh dengan permohonan maafnya.
"Satu lagi. Kalau habis pulang dari club, baju kotornya langsung taruh di mesin cuci. Jangan sembarangan. Bau alkohol." Tania naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Mendengar itu, Nero jadi teringat. Tadi dia buru-buru pulang ke rumah. Pakaian kotor dia letakkan di atas keranjang. Biasanya Tania tidak akan mempermasalahkan, tapi mungkin karena dia habis minum dan istrinya itu mencium baunya. Jangan-jangan dia malah berpikir yang tidak-tidak.
Nero menyusul ke atas dan mengetuk pintu kamar istrinya.
"Ada apa?" jawabnya dengan wajah cemberut. Tangannya terlipat di dada.
"Mas kemaren malam tidur di rumah sakit. Kalau nggak percaya, tanya Ovi." Nero berusaha membujuk. "Pagi-pagi Ovi yang bangunin." Nero mulai mengeluarkan jurus mautnya, menggunakan kata "mas" untuk membujuk istrinya.
Tuduhlah Aku sepuas hatimu. Ingin rasanya Nero bernyanyi untuk menghibur hatinya.
"Engga ada cewek. Kalau minum sih iya, tapi cuma dikit. Nggak mabok. Beneran!" Dia mengancungkan kedua jarinya.
"Jadi gitu? Kalau istri lagi marah, langsung ke klub minum-minum cari hiburan? Sekalian aja cuci mata liat cewek-cewek dis ana!" tuduhnya
Tania, mulutmu tajam sekali berbicara begitu kepada suamimu sendiri.
__ADS_1
"Sayang, mas nggak ngapa-ngapain. Tadi juga seharian di kantor. Kita lagi rapat direksi. Kamu nggak percaya terus." Nero berusaha meraih istrinya tapi tangannya ditepiskan.
"Sudah aku mau tidur." Tania hendak menutup pintu, tapi Nero menahannya.
"Mas malam ini tidur sama kamu, ya. Semaleman nggak enak tidur di rumah sakit." Dia berkilah, masih dalam rangka membujuk dan merayu.
"Salah sendiri. Siapa juga suruh tidur di sana." Kali ini nada suaranya melembut.
"Mas kangen. Kamu nggak kangen apa? Nggak pengen apa ..."
"Nggak! Aku lagi haid."
Bruk!
Pintu tertutup di depan mata Nero. Dengan gontai dia melangkah ke kamarnya. Mungkin ini sudah nasib kalau dua malam ini dia tidak bisa bermesraan dengan istrinya.
Tapi, Tania lagi haid? Itu berarti ....
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk penghapusan sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 08115584815
__ADS_1