Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Untukmu Papa


__ADS_3

"Tarik nafas ya bu. Hembuskan pelan-pelan. Ya begitu terus ya bu"


Tania terengah-engah. Kali ini bukan karena cumbuan Nero. Tapi ada kepala bayi yang sudah mulai tampak dibawahnya untuk kemudian akan di keluarkan seutuhnya.


"Ya bagus. Sedikit lagi ya bu" Suara dokter, bidan dan perawat menuntunnya.


Nero menggenggam erat tangan istrinya. Dia tidak tega rasanya melihat Tania menahan sakit.


Tania tidak menyerah. Walaupun tubuhnya sudah lelah, perjuangannya belumlah selesai.


"Mas" dia menatap suaminya lemah.


"Sedikit lagi ya. Ayo sayang" Nero menguatkan.


"Ya ibu sudah keluar kepalanya. Sedikit lagi ayo ibu"


Tania mengejan sekuat tenaga. Nero menahan sakit akibat tangannya yang di remas kuat.


"Oeeekk oekkk" Suara tangisan bayi memecah kesunyian malam.


Tania terkulai lemah. Senyum mengembang di wajahnya. Nero mengecup keningnya lembut.


"Terima kasih. Kamu hebat" bisiknya.

__ADS_1


Nero sedang berkutat dengan laptopnya, seketika beranjak ke RS ketika mendapat telepon dari Ovi.


Malam itu dia lembur dengan beberapa staf khususnya. Proyek kali ini lumayan besar. Jadi mereka benar-benar fokus dan teliti mengerjakannya.


Nero sudah mengontak Ovi 2 minggu sebelum HPL* untuk segera datang. Berjaga-jaga sekiranya jika dia tidak keburu mengantar istrinya kerumah sakit.


Ketika Tania mulai merasakan kontraksi yang hebat, Ovi bersama dengan Bik Ijah langsung membawanya ke rumah sakit.


Sebelumnya mereka memang sudah mempersiapkan apa saja barang-barang yang perlu dibawa kedalam sebuah tas besar.


Bram sendiri sudah tertidur lelap. Nero menyewa seorang perawat laki-laki yang bersedia menginap selama satu bulan untuk menjaga Bram.


"Laki-laki pak" Perawat itu menggendong tubuh mungil berbalut bedong.


Nero menyambutnya. Binar kebahagiaan tampak dari matanya.


Senakal-nakalnya dia, tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai dia membawa bayi mungil itu menuju Tania. Istrinya sudah dibersihkan sejak Tadi.


Hanya saja wajahnya terlihat pucat, tapi Tania terlihat cantik di mata Nero. Lebih cantik dibanding saat mereka menikah dulu, karena Tania saat ini sudah menjadi ibu.


"Hai ganteng, ayo sapa mama" Nero meletakkan si mungil itu di pelukan Tania.

__ADS_1


Air matanya menetes menyambut buah cintanya dengan Nero. Dia mengecup pelan wajah tak berdosa itu.


Seketika bayi itu bergerak-gerak seperti mencari sesuatu di dada hangat ibunya.


"Wah haus dia bu. Ayo di kasih asi-nya" Tania di tuntun untuk menyapih anaknya.


Si bayi itu langsung menyambar ketika mendapatkan apa yang dia mau.


"Ehhh sayang, haus bener ya" Nero mengelus pipi anaknya kemudian mencubit pipi bayi yang masih merah itu.


"Mas ini masa anaknya di cubit. Kan kasian nanti sakit" Tania menepis tangan suaminya.


"Biarin aja kan papanya gemes"


"Hus. Nanti kalau anaknya luka, awas loh ya"


Hahaha para perawat tertawa melihat kelakuan Nero.


"Enak ya sayang mimik sama mama" Bayi itu mengecap-ngecap. Mulut kecilnya menghisap tiada henti.


"Muacchh..." Nero mengecup pipi mungil anaknya. Ha-ha-ha lagi-lagi mereka tertawa. Lucu sekali kelakuan pasutri yang ini.


"Sudah jangan di-cium terus, nanti ketularan virus. Bayi baru lahir ga boleh di sering dicium"

__ADS_1


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi nomor 08115584815



__ADS_2