Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Cemburu


__ADS_3

Tania dan Nero duduk termenung di bandara. Pesawat yang ditumpangi Bram terlambat tiba dari jadwal yang telah ditetapkan. Sudah setengah jam mereka menunggu, belum ada tanda-tanda akan landing.


"Kok lama ya?" Gadis itu mulai bosan. Dia mengetukan jari telunjuknya di meja. Mereka memilih sebuah restoran sambil menunggu.


"Iya nih. Tumben maskapai segede itu bisa delay." Nero menyeruput kopi panasnya. Mengambil sebuah roti sebagai cemilan pengganjal perut.


Mereka terdiam dalam bisu. Sibuk dengan ponsel dan kegiatan masing-masing. Beberapa kali Nero melirik orang-orang yang berjalan melewati tempat makan mereka. Tania sendiri memilih untuk bermain game cacing yang sedang fenomenal.


"Tania." Seorang memanggil namanya.


Dia memalingkan wajah. Seketika pipinya memerah. Kenapa harus bertemu di sini, sih?


"Eh, hai!" Gadis itu berdiri dan menyapa.


Sedangkan Nero terdiam mengamati mereka berdua. Dalam hatinya bertanya, siapa lelaki muda ini? Mungkin teman sekolah istrinya.


"Kamu nunggu siapa?" tanya Rizal. Matanya melirik ke arah Nero. Dalam hatinya juga berkata, mungkin ini si om yang sering mengantar jemput gadis itu.


"Papa. Baru balik dari Singapura," jawabnya. "Kamu nungguin siapa, Zal?"

__ADS_1


Oh, jadi ini yang namanya Rizal. Boleh juga ini anak. Ganteng, bersih dan rapi. Batin Nero.


"Sama. Nungguin papa juga, dari Aussie."


"Kalau gitu kita bareng aja, bagaimana?" Tania menawarkan. Kan seru jadinya kalau mereka bisa menunggu bersama. Dia menarik kursi untuk Rizal, menyuruhnya duduk disebelahnya.


Wajah Nero berubah masam. Hatinya dongkol melihat dua orang ini, yang sedari tadi tersenyum malu-malu. Apa Tania lupa kalau dia ini suaminya?


"Mau minum apa Zal?" tanya gadis itu mesra.


"Apa aja boleh." Dibalas juga dengan senyuman mesra.


"Eh, kenalin ini om Nero" Dia menunjuk suaminya. Lelaki itu sekarang malah berpura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal pikirannya entah ke mana.


Nero mendongak dan menyambut uluran tangannya. "Nero. Saya su ...."


"Ini om aku!" Tania memutus kata-kata suaminya. Dia memandang tajam seolah-olah memberi kode bahwa lelaki itu jangan sampai mengatakan bahwa dia adalah suaminya.


Nero mendengkus. Dalam hati berkata, kalau di depan pacarnya saja tidak mengakui dia sebagai suami. Tapi, kalau di rumah gelendotan terus.

__ADS_1


Setelah itu, mereka asik ngobrol berdua. Entah apa yang dibicarakan, Nero sudah tidak memperhatikan. Hatinya panas. Dia seperti obat nyamuk aja bagi dua abege yang sedang jatuh cinta ini.


"Eh liatin, deh. Ini loh yang aku bilang sama kamu waktu itu." Rizal menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada Tania.


"Mana?" Gadis itu merapat.


Nero melihat, Rizal tampak senang sekali ketika tubuh mereka berdekatan. Lelaki memang akan bereaksi begitu kalau bertemu perempuan cantik.


Mereka terus berdiskusi. Tangan Rizal perlahan mulai menggenggam tangan gadis di sebelahnya. Tania tersipu malu, wajahnya merona. Kemudian mereka bertatapan mesra, dengan debar-debar jantung yang memacu dalam dada.


Uhuk!


Nero berpura-pura batuk.


Mereka berdua terkejut dan saling melepaskan tangan. Berpura-pura kembali melihat layar ponsel, padahal dalam hati ketakutan. Terlebih lagi Tania, wajahnya langsung pucat pasi. Jangan sampai Nero marah, bisa bahaya!


"Ayo. Tuh papa kamu udah nyampai." Nero mengajak Tania menuju ayahnya, setelah mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang ditumpangi Bram sudah mendarat dengan sempurna.


"Ayo, Zal." Gadis itu malah menarik tangan Rizal, dan berjalan bergandengan menuju tempat kedatangan penumpang. Tania melupakan suaminya yang sedari tadi menahan emosi.

__ADS_1


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat dimaklumi untuk dapat di approve karena harus dihapus sebagian. Jika berminat bisa hubungi 08115584815. Terima kasih.



__ADS_2