
Prang ....
Suara piring pecah dan teriakan membuat Nero terbangun. Dia langsung berlari ke bawah melihat apa yang terjadi. Satu persatu ruangan dia datangi tetapi tidak ada apa-apa. Ketika suara isakan terdengar dari dapur, Nero bergegas ke belakang.
Hiks ... hiks ... hiks ...
Tangan Tania berlumuran darah. Ada pisau jatuh, piring dan gelas yang pecah dan sayuran berhamburan di lantai. Ada apa ini?
"Tania, kamu kenapa?" Nero menarik tangan gadis itu. Membersihkan darahnya di wastafel. Tapi tetap saja mengucur, tidak mau berhenti. Sepertinya harus ditutup, kalau tidak merembes terus darahnya.
"Luka ..." jawabnya sesegukan. Nero menggelengkan kepala.
"Sebentar, om ambil plester." Dia berlari menuju kotak obat. Mengambil perban dan plester. Membalut luka itu. Tidak terlalu dalam sebenarnya. Luka gores biasa, tapi yang terluka ini anak manja. Jadi panjanglah ceritanya.
"Sakit ..." isak Tania. Bibirnya cemberut tak karuan. Persis seperti bocah lima tahun yang menangis karena balonnya diambil.
"Kamu ngapain main pisau segala. Biasanya ga pernah ke dapur juga." Giliran Nero yang memarahinya. Gantian, biar seri. Satu sama.
"Aku mau masak mie. Aku laper." Suara rengekan Tania kali ini persis seperti anak kecil yang ketahuan ibunya curi-curi main pisau di dapur.
"Kan bisa delivery. Ngapain juga masak. Biasanya kalau laper kamu kabur-kabur aja beli di luar." Lelaki itu melipat tangan di dadanya. Nada suaranya menyudutkan. Seperti seorang polis yang sedang meng-intrograsi tahanan.
"Aku maunya indomie rebus pake sayur." Manja sekali. Saat bicara saja bibirnya ditekuk begitu.
"Kenapa ga bangunin om?" Nero sedikit panik melihat kondisi Tania. Gadis itu masih meringis kesakitan. Mulutnya meniup bagian lukanya. Memangnya kalau di tiup jadi sembuh begitu ya?
"Enggg ... enggg ... enggg ..." Terbata dan tidak bisa berkata-kata. Dia tidak mungkin masuk ke kamar Nero kan? Dia takut.
"Yaudah mulai besok, Bik Ijah ke sini." Mencoba membujuknya. Dia tidak tega melihat Tania harus kerepotan di dapur secara gadis itu selama ini tidak pernah melakukannya.
"Ga mau!" Gadis itu ngotot. Benar-benar, bikin Nero gemas. Pengen diapakan ya kalau begitu?
"Sudah, jangan bantah!" Dia balik membentak. Lama-lama kesal juga dia. Mendengar nada amarah Nero, tangisnya makin menjadi.
Sejak habis menikah, Nero membawanya pindah ke rumahnya. Itu juga atas permintaan Bram. Walaupun kepindahan Tania itumirip drama sinetron, penuh dengan derai air mata. Gadis itu awalnya tidak mau tinggal berdua saja dengan suaminya.
Bram meminta Ijah pengasuh Tania sejak kecil diikut-sertakan, tapi gadis itu menolak. Tania tidak mau ada orang lain di rumah Nero karena nanti ada yang mengadu pada ayahnya. Dia tidak mau sekamar dengan Nero. Benar-benar membuat semua orang pusing dengan sikapnya.
Selama ini Nero selalu men-transfer uang yang cukup untuk kebutuhan Tania sehari-hari. Belum dari Bram sendiri yang dia tidak tahu berapa jumlahnya.
Untuk makan sehari-hari Nero membebaskannya memilih atau membeli apa saja yang dia suka. Dia diberikan mobil tapi harus ijin jika keluar rumah. Kadang-kadang Nero memesan online jika sedang tidak sibuk.
__ADS_1
"Sudah, jangan nangis. Maafin om, ya. Cuma khawatir kamu kenapa-napa." Nero meraih gadis itu dalam pelukannya. Kasihan juga anak ini. Tania balas memeluk. Sebenarnya dia suka bermanja-manja dengan omnya ini.
Deg ...
Jantung Nero berdetak lagi. Dua bukit kembar gadis itu menempel di dadanya. Dia menelan ludah. Wajahnya memerah. Kenapa sekarang rasanya berbeda?
"Eh, Om." Tania melepaskan pelukannya. Nero tersadar. Mereka sama-sama malu.
"Kamu tunggu. Duduk di situ. Om bikinkan mie rebus pake sayur." Nero mengambil alih dapur. Biar begini juga dia masih lebih jago memegang pisau dibanding gadis itu.
Tania mengangguk. Menurut saja. Perutnya sudah sangat lapar minta di isi. Duduk diam melihat omnya beratraksi memotong sayuran, merebus mie dan telur. Sepuluh menit dan semuanya selesai.
Nero meletakkan dua mangkok besar di meja makan. Mata Tania berbinar-binar melihatnya. Asap panas mie yang masih mengebul membuatnya kalap. Dia makan dengan lahap. Dua porsi indomie rebus habis dalam sekejap. Tania menambahkan banyak cabe di dalam kuahnya. Sehingga beberapa kali mulutnya berdecak karena kepedasan.
Anak-anak masa pertumbuhan makannya banyak juga. Nero tersenyum. Dia sendiri sudah menghabiskan mie-nya sejak tadi. Memang enak, makan mie berkuah panas di tambah sayuran dan cabe rawit.
"Mulai besok Bik Ijah kesini, ya. Nanti om telepon papa." Nero masih mencoba membujuk rayu.
Tania menggeleng.
"Kenapa ga mau?" Nero menatapnya galak. Sengaja. Selama ini dia sudah sabar dimarah-marahi bocah ini.
"Ngadu apa?" Tatapan matanya tajam. Mencari tau alasan kenapa gadis itu menolak.
"Ga apa-apa, Om. Aku ga mau aja."
Akhirnya. Gadis ini mau juga bicara dengannya. Sebulan ini rumah ini seperti neraka saja. Suara teriakan, marah-marah, isak tangis dan bantingan pintu membuat kepalanya pusing.
"Yaudah. Bik Ijah sampai sore saja. Habis itu pulang."
Tania balas menatap. Nero berasa perutnya mulas dilihat seperti itu.
"Terserah om aja deh. Tapi ga usah bilang sama Bik Ijah, kalau kita pi-sah ka-mar ..." Wajahnya terlihat takut saat mengatakan hal itu. Mengalah juga, dengan syarat tentunya.
Ternyata ini alasannya kenapa dari awal dia tidak mau Ijah di bawa ke sini. Nero mengerti.
"Gitu dong dari tadi. Ga usah banyak drama. Pake nangis segala."
"Om ini." Bibirnya cemberut. Rasanya, Nero ingin menciumnya kalau begini.
"Iya, deh. Lagian aku bosen beli di luar. Makanya tadi pengen masak mie aja," jawabny polos.
__ADS_1
"Lain kali kalau ada apa-apa bilang sama om," bujuk Nero.
"Ga mau. Aku takut."
"Takut apa?" Malah jadi bingung. Apalagi ini?
"Takut om marah." Gadis itu menunduk. Memainkan sendok yang ada di mangkok. Berpura-pura tidak mau melihat.
"Kenapa om harus marah?"
"Kan aku suka ngusir-ngusir. Aku sebel sama om." Dia tersipu malu.
Nero tertawa dalam hati. Dasar bocah. "Kenapa sebel?"
"Aku ga mau nikahan sama om."
"Kan papa yang minta. Om nikahin kamu buat jagain kamu." Nero melipat tangannya di dada. Matanya masih menatap tajam.
"Aku ga terima." jawabnya cepat. Memang dia tidak mau kan?
"Tapi kita kan udah nikah. Gimana dong?" Nero tersenyum geli. Lucu sekali kalau sudah begini.
"Om ga marah sama aku?"
"Engga, asal kamunya jangan ngambek terus. Om ga tau harus gimana kalau kamu dikit-dikit marah." Tangannya mengusap kepala Tania dengan lembut. Wajah gadis cantik itu berseri senang.
"Yaudah besok bik Ijah kesini temenin aku. Tapi jangan nginap," cengirnya.
"Iya." Nada suara Nero kali ini melembut penuh dengan kasih sayang.
"Asyik. Makasih, Om." Tania hendak memeluknya, tapi tangannya yang luka tersenggol bahu Nero.
"Aduh ..." Dia meringis.
"Kenapa lagi?"
"Sakit ..."
Hah, dasar manja. Baru luka sedikit sudah mewek. Belum kalau ku robek selaput daramu. Eh?
Nero kamu mikir apa sih!
__ADS_1