Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Nujuh Bulanan


__ADS_3

"Gimana udah pantes belum?"


"Belummmm" jawab ibu-ibu serentak. Kemudian kain-nya di ganti lagi.


"Sudah pantes?"


"Belum...." Itu berulang-ulang sampai kain yang ke-7.


Nero memandang istrinya yang terlihat senang. Dia tidak terlalu mengerti mengenai prosesi adat begini.


Bertahun-tahun hari-harinya di sibukkan dengan bekerja, bekerja dan bekerja.


Sempat dia merasa kasihan melihat Tania yang sedari tadi di guyur air saat siraman. Istrinya terlihat mengigil menahan dingin. Tapi dia menyelesaikan semuanya sampai akhir.


Semua ini tidak akan berjalan lancar jika Ovi tidak turun tangan. Mereka sepakat mengadakan acara ini, selain untuk doa dan keselamatan janin yang dikandung istrinya, juga untuk menyenangkan Bram yang akan sebentar lagi mendapatkan cucu.


Mereka berharap banyak agar Bram segera sembuh atau paling tidak bisa bertahan cukup lama sampai Tania melahirkan.


Nero mengerti bahwa Ovi amat sangat mengkhawatirkan kakaknya. Namun perempuan itu menyembunyikan dengan sikap yang tegar.

__ADS_1


Sepanjang acara Nero hanya tersenyum mengikuti semuanya. Apalagi beberapa ibu-ibu menggodanya. Mengatakan bahwa dia beruntung mendapatkan daun muda.


Hatinya senang melihat Tania dan Bram yang tertawa bahagia. Walaupun masih duduk di kursi roda, Bram sangat antusias mengikuti acara. Beberapa kali terlihat mengusap perut anaknya.


"Ayo ayo siapa mau beli rujak?" Tania dan Nero menuang rujak ke dalam gelas-gelas kecil.


Ibu-ibu berebutan mengambil rujak yang Tania sodorkan. Sebagai imbalannya mereka menaruh amplop di meja.


Suasana riuh dan ramai. Mereka mengundang rekan kerja dan tetangga sekitar komplek. Makanan yang disajikan pun tak tanggung-tanggung. Berlimpah ruah.


Ovi menatap puas setelah acara selesai. Eh tapi acara ini belum berakhir. Nanti malam mereka akan mengadakan pengajian bersama anak yatim piatu panti asuhan yang diundang.


Entah ada berapa banyak. Bram sepertinya ingin memberitahukan kepada dunia bahwa cucunya sebentar lagi akan hadir ke muka bumi ini.


Tapi dia sungguh kuat. Nero melihat Tania tak banyak mengeluh walaupun dia tau kondisi fisik istrinya pasti tidak nyaman.


Awal kehamilan Tania muntah-muntah sepanjang hari. Sampai Nero tidak tega melihatnya.


Lagi-lagi dia bersyukur karena ada bik Ijah yang selalu siaga menjaga istrinya. Dari kecil merawat Tania seperti anak sendiri. Bahkan sekarang sampai Tania akan melahirkan.

__ADS_1


"Pegel" dia menunjuk kakinya. "Pijetin aku mas" Tania memasang tampang memelas.


"Iya sini mana..." Nero mulai memijit kaki istrinya. Tania memejamkan mata. Walaupun Nero tidak terlalu pandai memijit tapi rasanya lebih enak daripada sama tukang pijit yang di panggil bik Ijah kerumah.


"Aduh. Aduh" Dia meringis memegang perutnya.


"Kenapa?" Tanya Nero.


"Nendang lagi. Anak papa Nero nih" Tania menunjuk perutnya. Bulat sekali. Ada yang bilang perempuan ada yang bilang lelaki. Tania hanya tertawa jika di komentari begitu.


Beberapa kali dia memeriksakan kehamilan juga, dia masih tidak mau melihat jenis kelamin anaknya.


Biarlah menjadi kejutan nanti bila saatnya tiba.


"Sini mana?" Nero meletakkan telinganya di perut Tania. Bersamaan dengan itu tendangan di dalam perut menjadi-jadi.


"Aduh papa di tendang ya" Nero tertawa. Sungguh ini luar biasa. Dia belum pernah merasakan ini sebelumnya.


"Tuh makanya papa jangan nakal" Tania tertawa melihat tingkah suaminya. Kalau sudah begini, balik Nero yang kelakuannya menjadi seperti anak-anak.

__ADS_1


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dapat dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 08115584815



__ADS_2