
Andrea itu pacar pertamaku. Bukan cinta pertama tapi yang paling berkesan."
Nero menatap wajah istrinya. Menghela napas kemudian melanjutkan cerita.
"Aku bertemu dia di kampus sewaktu orientasi mahasiswa baru. Gadis pemalu tapi pintar."
"Dia kesulitan mengerjakan beberapa tugas dan aku membantunya. Aku selalu mendapat nilai tertinggi di hampir semua mata kuliah. Mungkin itu sebabnya dia sering bertanya."
"Dia anak seorang pengusaha kaya. Rekanan kakekmu. Sedangkan aku hanya seorang yatim piatu. Ayahku dulu seorang penjahit. Ibu hanya berjualan sayur."
"Setiap subuh sebelum berangkat ke kampus aku membantu ibu berjualan di pasar. Sesekali nguli angkat-angkat barang kalau diminta. Uangnya aku tabung untuk membiayai kuliah."
"Suatu hari saat kami habis makan bakso di pinggir kampus, Rea menyatakan cinta. Aku tidak menyangka. Seorang gadis yang terlahir kaya menyukai pria sepertiku."
Tania mendengarkan dengan khidmat setiap kata yang terucap dari bibir Nero.
Dia menuangkan kopi ke gelas suaminya. Tidak menyela sedikitpun apa yang diceritakan.
"Jujur aku sangat bahagia waktu itu. Tapi aku malu. Jadi aku hanya mendiamkan. Tidak menjawab. Aku lihat dia sangat kecewa."
"Tak lama aku mendapat musibah. Bapak dan ibu meninggal dalam kecelakaan bis sewaktu mau pulang ke kampung. Aku sungguh terpukul. Rea yang selalu menguatkan."
"Akhirnya kami berpacaran. Backstreet. Ketemu cuma di kampus. Tidak berani di luar itu."
__ADS_1
"Mama cantik ya mas?" Tania bertanya.
"Dia mirip kamu. Persis sekali. Kan kamu sudah sering lihat fotonya." Nero mengelus rambut istrinya.
"Hanya Andrea lebih lemah. Fisiknya, mentalnya. Kamu lebih kuat."
Tenia tersenyum. Balas mengecup kening Nero.
"Takdirku sama dengan mama. Menikah karena dijodohkan di usia muda." Tania berbisik.
"Tapi Rea tidak manja sepertimu. Tidak suka marah-marah sama suaminya. Walaupun terpaksa, dia melayani suami dengan ikhlas."
Tania melotot. Nero tertawa. Teringat awal-awal pernikahan dengan Tania. Horor dan penuh drama.
"Pantas mas cinta bener sama mama."
Nero mengangguk.
"Hubungan kami diketahui oleh ayahnya. Kami tidak direstui. Aku ini tidak punya masa depan yang cerah. Bayar uang kuliah aja sering macet. Kalau makan di luar, keseringan Rea yang bayar."
"Dasar cowok matre." Tania menjulurkan lidah. Sifatnya masih saja kekanakan.
"Yah maklum aja. Jangankan mau traktir. Mau makan aja susah." Tania menjadi terharu mendengar cerita Nero.
__ADS_1
"Lalu datanglah hari itu. Rea menangis di pelukanku. Mengatakan bahwa dia dijodohkan orangtuanya."
"Hatiku sakit sungguh. Tapi aku bisa apa? Aku tidak punya apa-apa yang bisa kujanjikan untuk masa depannya."
"Mas pasrah aja. Tidak memperjuangkan?"
"Aku ingin melamarnya saat itu juga. Tapi Rea menolak. Dia bilang percuma karena bagaimanapun ayahnya tidak akan setuju."
"Terus kok bisa ketemu papa?"
"Oh waktu itu habis pulang kuliah aku mampir ke toko buku. Aku melihat ada seorang pria berlari-lari mengejar copet yang merampas tas ibunya. Aku ikut-ikutan membantu bersama beberapa orang lain."
"Oh. Tasnya nenek ya. Mas jago juga."
"Ga juga sih. Tapi itu copet langsung ambruk pas aku pukul. Tasnya aku rebut dan aku kasih ke mas Bram."
"Bisa mukul juga? Kukira mas ga pernah begitu."
"Kan keadaannya terdesak. Tapi papamu itu memang orang baik, dia melerai masa yang hendak mengeroyok si copet. Kemudian menelepon polisi untuk diamankan."
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 08115584815
__ADS_1