Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Permintaan Terakhir


__ADS_3

Kedatangan Bram pagi-pagi di ruangannya sungguh mengagetkan Nero. Mereka biasanya suka berdiskusi tentang banyak hal, terutama tentang pekerjaan. Kadang bisa menghabiskan waktu seharian di ruangan ini, jika memang ada proyek penting yang harus diselesaikan. Kali ini tidak seperti biasanya, maksud kedatangan mas-nya itu berbeda.


"Mas mohon Nero, nikahi Tania. Mas lagi sekarat. Cuma sama kamu, mas bisa percayakan dia." Bram menggengam tangan Nero. Matanya berkaca-kaca.


Nero tak dapat menduga, apa maksud dari ucapan Bram tadi. Ada apa ini? Sungguh tidak menyangka setelah Bram menyampaikan semuanya, dan ini sangat sulit untuk dipahami.


"Mas, jangan kayak gini." Dia memegang Bram Bram. Bebrapa tahun terkahir ini, lelaki itu terlihat semakin menua dan nampak lelah. Padahal usia mereka tidak terpaut jauh. Hanya selisih beberapa tahun. Bram lebih tua darinya.


"Umur mas mungkin engga lama lagi Nero. Mas, ga bisa biarkan Tania sendirian. Nanti siapa yang bakal jagain dia? Ovi jauh." Bram menangis. Air mata lelaki itu tumpah ruah membasahi bajunya.


"Maksud mas, apa?" Nero tersentak. Dia tidak mengerti. Bram tidak pernah serapuh ini. Bahkan dulu ketika istrinya meninggal dia sempat terpukul namun bisa bangkit lagi.


"Tolong, Nero. Nikahi Tania." Bram memohon. Apa? Menikahi keponakannya? Impossible!


"Mas sadar bilang apa tadi?" tanya Nero.


Bram menggangguk pasti. Meyakinkan Nero bahwa apa yang dia ucapkan memang sungguh-sungguh, bukan main-main.


"Mas, aku baru kehilangan Saskia." Nero menolak. Sudah dua tahun ini, Saskia pergi meninggalkannya. Berpulang untuk selama-lamanya. Selama itu pula Nero masih saja berkabung atas kematian istrinya, hingga saat ini. Menutup rapat-rapat ruang hatinya untuk siapapun. Memilih hidup sendiri entah sampai kapan. Hatinya mati, terkubur bersama jasad istrinya di makam.


"Ini beda, Nero." Bram menyanggah ucapannya.


"Mas dulu pernah ngalamin kan waktu Andrea pergi? Mas pasti mengerti perasaaanku sekarang gimana." Nero menjelaskan. Wajahnya tertunduk. Tatapan matanya dalam, meminta pengertian.


"Mas ngerti Nero. Kehilangan istri itu sama aja kehilangan separuh nyawa kita. Apalagi kita sangat mencintainya." Matanya menerawang, mengingat almarhumah Andrea, istrinya.


"Aku belum bisa ngelupain Saskia. Aku masih mencintainya walaupun dia udah engga ada. Sorry, aku ga bisa." Kali ini Nero yang menitikkan airmata. Perasaan laki-laki memang halus jika berkaitan dengan wanita yang dicintainya.


Dua tahun ini dia harus bersusah payah menata hatinya. Berusaha dengan tertatih-tatih. Saskia pergi meninggalkannya, leukimia merenggut nyawanya.


Enam tahun pernikahan mereka sungguh berarti bagi Nero, walau pun mereka tidak dikarunia anak. Dia bahagia. Mendapatkan pendamping hidup yang bisa saling mendukung dalam segala hal.


Hatinya yang dulu pernah patah karena seorang wanita, kembali menghangat sejak Saskia masuk ke dalam hidupnya. Walaupun dia harus menerima bahwa istrinya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan.


Nero dengan sabar dan setia merawatnya. Tuhan berkehendak lain kepada pernikahan mereka, Dia mengambil Saskia dari sisinya.


Rasanya baru saja istrinya pergi. Sekarang Bram datang kepadanya meminta dia menikahi putrinya?Menikahi Tania? Menikahi gadis kecilnya?


Dia memang berhutang banyak kepada lelaki itu. Saat dia terpuruk Bram-lah yang berada disisinya. Menguatkannya. Mengajaknya bangkit. Bram menolongnya, untuk yang kedua kali.

__ADS_1


Pertama saat dia kehilangan orang tua. Bram memberikannya pekerjaan sehingga dia bisa menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda. Membantu dia bangkit kembali setelah dia terpuruk sejak kepergian istrinya.


Mereka tak sedarah, tapi sejak kepergian kedua orang tuanya, Bram mengangkatnya sebagai adik. Memberikannya pekerjaan yang layak. Malah sekarang Bram mempercayakan perusahaan yang dimilikinya untuk dia kelola, sampai kemudian nanti Tania siap untuk mengambil alih.


Bram hanya mengambil wewenang sebagai direksi. Bram sudah seperti saudara kandung. Sahabatnya tempat berbagi suka dan duka. Kini dia meminta tolong kepadanya, untuk sesuatu yang berat dia tolak, tapi tak sanggup juga dia penuhi.


"Mas sakit, Nero." Bram menunjukkan sebuah map berisi hasil laboratorium rumah sakit, yang sedari tadi dibawanya. Menyerahkan kepada Nero.


Dia membukanya. Membaca perlahan hasil diagnosa seorang dokter terkenal di kota ini. Kanker, positif. Melihat ini, dia teringat kembali kepada mendiang istrinya.


Kanker. Penyakit yang merenggut istri tercintanya. Haruskah kini merengut sahabatnya juga?


"Mas, sejak kapan ini?" Matanya terbelalak.


"Sudah lama. Memang selama ini dirahasiakan. Engga ada yang tau. Mas ga mau orang lain khawatir. Ini penyakit berbahaya, kemungkinan untuk bisa bertahan hidup juga kecil."


"Kenapa engga berobat? Kenapa dibiarkan saja? Mas ikhtiar dong, jangan di diamkan aja. "


"Sudah. Setiap kali keluar negeri, sebenarnya mas berobat, bukan meeting." Bram tertunduk lemas. Tangannya meremas rambut. Tampak beberapa helai rambut rontok di balik jemarinya. Nero terdiam saat melihat hal itu.


"Tania apa sudah tau?" Di matanya tersirat sejuta tanya.


Bram menggeleng. "Baru kamu saja yang mas kabari. Ovi pun belum. Mas bingung mau ngomong apa sama keluarga. Takut mereka sedih pas tau semuanya."


"Aku tidak pernah meminta apa pun darimu Nero. Aku mohon kali ini saja." Lelaki itu mengiba. Mencoba bernegosiasi. Memohon dengan merendahkan harga dirinya. Semua demi anaknya.


"Dia baru lulus sekolah, Mas. Masih kecil sekali. Apa dia bisa menerima? Anak usia segitu masih suka main, menikmati masa mudanya. Dia juga pasti ingin kuliah."


"Aku mengerti Nero. Aku juga pernah muda."


"Tapi, apa Tania mau? Mas sudah bicara padanya?"


"Mas nanti yang akan bicara sama dia setelah ini. Mas harus pastikan dulu sama kamu." Bram menatap Nero dengan penuh harap.


"Kalau Tania nolak gimana?"


"Harus mau. Dia ga boleh membantah papanya." Bram berkata tegas.


"Mas, jangan paksakan. Tania bisa benci sama kita."

__ADS_1


"Nanti dia pasti bakalan ngerti. Mas akan jelaskan secara pelan-pelan. Samaoai nanyi waktunya mas pergi, mudahan dia bisa nerima semuanya."


"Mas, aku berhutang banyak padamu. Aku rela mengabdikan diri. Tapi, untuk yang satu ini, aku ..."


"Nero!" Suara Bram mulai meninggi. Ada nada amarah dalam kata-katanya. Ada juga rasa kecewa jika permintaannya ditolak.


"Aku ga bisa nikahin Tania, Mas. Dia sudah kayak keponakan sendiri. Masih kecil, baru lulus sekolah." Nero meremas rambutnya. Pikirannya kacau. Menikahi Tania itu sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan.


Sejak kecil dialah yang mengasuh putri kecil Bram. Melihat gadis itu bertumbuh. Menemaninya kemana pun. Menjaganya dengan sepenuh hati.


Gadis itu kehilangan ibu sejak usia lima tahun. Kehilangan kasih sayang yang semestinya dia rasakan. Mereka berdua menjaganya, memberikan semua kasih sayang yang mereka punya.


Walaupun tidak sempurna, tapi gadis itu tumbuh dengan baik. Menjadi gadis ceria yang terbuka pada semua orang. Hanya saja mungkin mereka agak berlebihan, sehingga membuat gadis itu menjadi sedikit manja.


"Kamu dekat dengan Tania. Kamu bisa memberikan penjelasan kepadanya."


"Tapi, Mas. Ini beda. Ini ..."


"Nero! Nikahi Tania. Cuma itu satu-satunya cara buat jagain dia. Kamu nanti yang akan bimbing dia jadi istri yang baik. Juga jadi pewaris perusahaanku."


"Aku tidak ..."


"Mas percaya sama kamu. Selalu bisa diandalkan. Mas mohon. Ini permintaan terakhir sebelum mas pergi." Bram bersujud di kaki Nero.


Nero memejamkan mata. Kembali menarik napas panjang, kemudian mengangguk pelan.


"Baiklah. Kalau itu memang keinginan mas, aku bersedia. Mungkin ini memang yang terbaik buat kita semua."


"Makasih, Nero." Air mata Bram tumpah ruah.


"Anggap aja, aku balas budi atas kebaikan mas selama ini." Nero berbisik pelan.


Bram mengangguk. Mengucap syukur. Sekarang dia hanya memikirkan bagimana cara bicara kepada Tania, putri kesayangannya.


Mereka berdiskusi lama. Merancang semua rencana pernikahan. Terutama bagimana cara menyampaikan berita ini kepada Tania, agar gadis itu mau menerima semuanya.


Itu membuat kepala Nero semakin sakit. Sampai matahari terbenam mereka masih belum tau. Dengan lesu dia melangkahkan kaki keluar dari kantor. Sudah sepi, semua karyawan sudah pulang sejak sore. Hanya dia dan Bram yang masih bertahan sampai malam hari ini.


Memilih pulang setelah menyelesaikan semua laporan. Melajukan mobil dengan pelan menuju apartemennya. Dia butuh istirahat setelah hari yang panjang dan melelahkan. Dibenaknya hanyalah satu. Apapun alasannya, demi kebaikan atau apalah, sikap gadis itu pasti akan berubah kepadanya. Tania pasti akan membencinya.

__ADS_1


Nero harus menerima. Semua yang akan terjadi nanti harus dia hadapi. Bukankah yang lebih berat dari ini sebelumnya sudah pernah dia alami. Dia tau dia sanggup, dia mampu. Walau pun tidak akan mudah ke depannya.


Tania sayang. Gadis kecilku. Maafkan aku. Maafkan om.


__ADS_2