Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Galau


__ADS_3

Bram masuk ke ruangan Nero tanpa mengetuk pintu. "Manten baru apa kabarnya, nih?" sapanya.


Sudah biasa. Dia bahkan bisa berada seharian di ruangan itu membahas masalah perkerjaan.


"Eh, Mas Bram. Mau minum apa?" Nero meletakkan mouse. Berhenti mengerjakan laporan dan berjalan ke arah sofa tempat Bram duduk.


"Santai aja. Nanti kalau mas haus bisa ke pantry bikin kopi," jawabnya tenang. Pandangan mata lelaki itu menyapu seluruh ruang kerja ini. Lama dia tidak ke sini. Akhir-akhir ini mereka lebih banyak bertemu di ruang meeting. Tidak banyak yamg berubah, hanya ada satu tambahan hiasan di belakang meja kerja lelaki itu, foto pernikahan Nero dengan putrinya, Tania.


Keduanya nampak tersenyum manis. Melihat itu, hati Bram diliputi aura kebahagiaan. Rasanya dia sudah tenang, jika suatu saat harus meninggalkan. Anaknya kini sudah berada di tangan orang yang tepat. Semoga Nero bisa menjaga amanah, melindungi Tania seumur hidupnya.


Mendengar kata-kata Bram tadi, Nero sungguh salut dengan sahabatnya ini. Padahal dia yang punya perusahaan tapi sikapnya sederhana dan bersahaja.


Bram tidak seperti para owner perusahaan lain yang sering Nero temui. Tenang, kalem. Setiap ada masalah pun kepalanya tetap dingin. Karena itulah perusahaan peninggalan orang tuanya masih bertahan sampai sekarang.


"Gimana kabar anakku?" Bram membuka pembicaraan.


"Tania sehat. Yah masih suka ngambek gitu lah. Mas mainlah ke rumah." Dia tersenyum.


"Nantilah. Mas ga mau gangguin kalian."


"Ah, engga kok. Malah seneng kalau mas datang."


"Kamu kok sibuk bener. Engga ambil cuti gitu? Habis nikahan langsung masuk kerja."


"Kita kan mau buka cabang baru, jadi aku harus mempersiapkan semuanya secara detail. Kalau salah sedikit perusahaan bisa rugi banyak. Aku masih menimbang-nimbang."


"Sudah. Biarkan saja dulu. Ga usah buru-buru. Santai. Kerjaan itu ga ada habis-habisnya kalau diturutin. Sekali-kali kamu cuti sana, honeymoon sama istrimu." Nada suaranya mulai menggoda.


Istri? Ah, Nero teringat kembali dengan Tania di rumah.


"Nanti saja, Mas" tolaknya.


"Tania kan ngambek tu, habis kelulusan batal tour ke Bali sama temen-temennya. Kamu ajak aja dia ke sana. Jalan-jalan." Bram memberikan alternatif.


"Belum tentu dia mau pergi sama aku." Melihatku saja dia benci, Nero membatin.


"Yah, kamu cobalah dulu. Bujuk dia. Siapa tau dia mau."


"Nantilah. Aku masih belum kepikiran soal honeymoon. Kerjaan aja dulu ini," tolaknya halus.


"Kalau kamu sibuk terus, kapan mas dapat cucu?" Bram mulai menggoda lagi. Memancing-mancing lelaki itu untuk membongkar rahasianya.


Nero menarik napas panjang. Cucu? Mas Bram ini gila apa. Jangankan mau itu, mereka bahkan tidak akur sama sekali walaupun tinggal serumah.


Setiap hari mereka ribut terus. Tania bahkan sengaja menghindarinya. Gadis itu hanya mau bicara kecuali benar-benar membutuhkannya. Tidur pun mereka di kamar masing-masing.


Honeymoon? Disentuh tangan saja sudah bakal melotot matanya. Walapun Nero sebenarnya tidak sengaja.


"Mas tolong ngertilah. Tania masih marah sama aku. Dia masih belum bisa menerima pernikahan ini. Biarlah mas, aku ga mau maksa."


"Kalau kamu ga usaha, dia juga engga bakal mengerti, Nero."

__ADS_1


"Mas ..." Nero menatap lekat mata Bram memohon pengertiannya.


Dia yang sejak tadi berkonsentrasi menyelesaikan beberapa proposal jadi teralihkan. Dia pikir Bram datang keruangannya untuk membahas tender yang sedang mereka kerjakan saat ini.


"Mas Bram, aku tidak mungkin melakukannya. Tidak bisa kubayangkan aku begituan dengan keponakanku." Nero melamun sambil menggelengkan kepalanya.


Keponakan?


Ups!


Dia istrimu sekarang, Nero.


"Jadi kamu belum?" tanya Bram penasaran. Jika memang benar mereka belum melakukannya, sungguh kasihan sekali sahabatnya ini.


Nero menggeleng lemas.


"Sebulan ini kamu puasa?" Bram tercengang.


"Iya. Mas."


"Kamu tahan?" Bram ingin tertawa melihat ekspresi sahabatnya ini. Nero terlihat pasrah sekali. Biasanya kalau menyangkut urusan wanita, si ganteng inilah yang paling bersemangat. Mengapa ketika dihadapkan dengan Tania, dia malah jadi takut begini?


"Mas, sudahlah. Bicara yang lain saja." Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Dia juga masih marah sama mas. Telepon ga diangkat. Mas chatting juga ga dibalas. Entah apa maunya." Dua pria ini sedang galau rupanya.


"Biarlah, Mas. Semua butuh waktu."


"Tapi kamu usaha ya. Bujuk-bujuk dia. Kan dari dulu kamu paling jago kalau Tania ngambek."


"Siapa tau sebelum mas pergi, mas masih bisa gendong cucu." Bram masih berusaha.


"Mas kok ngomong begitu sih?"


"Kita kan engga tau umur ya, Nero." Lelaki itu nampak pasrah dengan keadaannya.


"Tapi kan berusaha terus untuk kesembuhanmu. Jangan menyerah ya, Mas."


"Aku sudah berusaha melawannya, tapi lama-lama aku lelah."


"Eh, mas engga jadi berangkat lagi? Aku mau kok dampingin mas pergi terapi." Dia mengalihkan pembicaraan. Lebih baik membahas hal lain dari pada membahas tentang malam pertamanya dengan Tania, yang sampai sekarang belum terjadi.


"Bulan depan mas berangkat. Kamu bantu doa ya, semoga mas panjang umur jadi bisa liat cucu." Bram mengerling nakal.


Ya Tuhan!


Nero menarik napas dalam. Haruskah dia memaksa Tania untuk melakukan hal itu? Sah saja sebenarnya, itu haknya sebagai seorang suami. Tania tidak boleh menolak, berdosa kalau sampai itu terjadi. Toh selama ini kewajiban sudah dia lakukan, menafkahi istrinya dan memberikan perlindungan yang layak.


Atau, apa dia harus merayunya? Tapi ... bagaimana caranya?


Apa dia sanggup mencumbu gadis itu? Mencumbu seorang anak kecil, yang emosinya sendiri belum bisa dia kendalikan. Yang bahkan beberapa hal penting dalam hidupnya masih mereka tentukan.

__ADS_1


Biarlah semua mengalir adanya tanpa paksaan. Jika pernikahan ini gagal sekalipun, dia tidak akan menyesalinya. Setidaknya dia sudah memenuhi janji kepada sahabatnya.


.


.


Nero memasuki rumahnya dengan langkah perlahan. Sudah malam, jarum jam menunjukkan angka sebelas. Banyak sekali proposal yang masuk ke emailnya untuk pemenangan tender tahun ini. Sehingga Nero benar-benar harus teliti menyeleksi satu-persatu, mana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.


Lagipula, untuk apa juga dia ada di rumah, kalau setiap hari hanya mendengar teriakan dan kemarahan Tania kepadanya. Lebih baik seharian dia di kantor. Kalau perlu tidak usah pulang sekalian.


Ceklek!


Dia membuka pintu. Tak mau mengganggu seandainya gadis itu sudah tertidur duluan. Dia berjalan ke lantai atas memasuki kamarnya. Menyimpan tas, mandi dan mengganti pakaian. Turun ke bawah menuju dapur. Dia haus, mungkin segelas orange juice bisa melegakan tenggorokannya.


Saat melewati dapur terdengar suara berisik di ruang keluarga. Dia mengintip. Ternyata Tania belum tidur. Gadis itu sedang menonton. Film apa itu? Kenapa Tania terisak-isak menangis? Bahasanya aneh, seperti bahasa Mandarin dengan subtittle di bagian bawahnya.


Oh, film Korea. Dasar anak-anak. Lelaki itu menepuk keningnya. Dia tersenyum geli membayangkan aktor korea yang jadi favorit remaja zaman sekarang. Rambutnya di cat warna-warni. Pakaiannya aneh, bajunya bertumpuk dengan model unik. Belum gerakan tarian yang sangat atraktif. Melihatnya saja sudah lelah, apalagi melakukannya.


Nero menarik napas dalam. Mengusap dadanya beberapa kali, kemudian lanjut mengintip. Tapi dia tak berani juga mendatangi Tania, bisa kena marah lagi. Bakalan diusir juga. Dia menggelengka kepalanya, jika mengingat kejadian itu. Menyeramkan sama seperti film horor.


Saat dia hendak melangkah keluar menuju ke dapur ...


"Om! Ngapain ngintip aku nonton?" Tania bertanya dengan wajah galak. Tangannya terlipat di dada. Tak menyangka kalau diam-diam ada orang lain di ruangan itu selain dirinya. Mengintip pula, tidak sopan!


Nero gelagapan mendengar namanya disebut. Yah, dia ketahuan. Kena lagi deh.


Sabar Nero!


"Eh, engga. Ini mau ke dapur ambil minum. Haus." Dia mengelak. Memang benar kan?


"Dapur ada di sana. Ngapain om lewat sini?" Tania berkacak pinggang. Tatapannya tajam, memandang lelaki itu dengan penuh tuduhan.


Duh, salah bicara lagi. Ini rumahnya juga. Kenapa juga dia yang kena semprot.


"Tadi om lewat denger suara kamu nangis. Om pikir kamu kenapa-kenapa." Nero berbalik memandang Tania.


Matanya terbelalak. Gadis itu hanya mengunakan tanktop dan hotpants. Lekuk tubunya terlihat jelas. Dia menelan ludah. Pemandangan di depannya sungguh menggoda imannya sebagai seorang laki-laki. Seumur hidup kenal, dia belum pernah melihat gadis itu memakai pakaian seperti ini.


"Om ngapain liat aku begitu?" Mata Tania melotot. Galak juga anak ini.


"Eng ... engga. Om cuma ..." katanya terbata.


Tuhan, mengapa Kau tampakkan kepadaku pemandangan indah begini. Nero bergumam dalam hati. Jantungnya berdebar kencang. Belum pernah dia merasakan begini pada wanita manapun setelah kematian Saskia. Walaupun di sekelilingnya banyak wanita cantik. Mengapa respon tubuhnya berbeda saat melihat Tania?


"Sana pergi. Jangan ganggu aku." usirnya. Tangannya melambai menyuruh Nero keluar. Dia tidak mau diganggu sama sekali. Apalagi pengganggunya itu orang yang dia benci.


"Iya, Nyonya ..." Lelaki itu segera beranjak menuju dapur.


Dia mengambil segelas orange juice. Masih haus. Kemudian mengambil lagi dan meminumnya banyak-banyak. Masih terbayang yang tadi. Ternyata gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa. Tubuhnya sudah berubah. Pantas beberapa tahun ini Tania tidak mau memeluknya. Dia pasti malu.


Tangannya bergerak mengambil air lagi. Hausnya semakin menjadi. Perutnya panas. Biar saja jadi kembung. Bayang-bayang itu masih belum hilang dari kepalanya. Malah berfantasi dan menjalar ke mana-mana.

__ADS_1


Lekuk tubuh Tania. Dadanya yang bulat. Pinggulnya yang ramping. Paha putih mulus.


Ah. Nero segera kembali kamar. Lama-lama dia bisa gila kalau begini.


__ADS_2