Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Misi Lanjutan


__ADS_3

Tania berjalan mondar-mandir sejak tadi. Entah apa yang dia bicarakan di telepon.


"Halo Clara. Suaramu ga jelas. Apaan?" bisiknya. Mengecilkan suara karena mendengar suara langkah Nero yang memasuki rumah.


"Tania, kamu gimana sama om Nero. Udah apa belum?" tanya suara di seberang sana.


"Belum. Katanya kalau mau ngelakuin itu harus karena cinta, bukan terpaksa," jawabnya polos.


Benarkan Nero bilang begitu?


"Hah! Emang kamu cinta sama dia?"


"Ya enggaklah. Masa aku cinta sama om-om."


"Ihhh, tapi ga apa-apa juga kali. Om Nero kan ganteng. Pasti enak di peluk sama dia." Clara meyakinkan.


"Yeee. Kalau itu sih aku udah biasa. Tapi kan ga ada rasa apa-apa. Beda kalau waktu deket sama Rizal."


Rizal? Siapa dia? Tanpa dia sadari ternyata Nero mencuri dengar pembicaraan mereka. Dia curiga rumah yang sepi sedari tadi. Biasanya Tania menyambutnya pulang, kali ini tidak.


Setelah menyimpan tasnya di kamar dan berganti pakaian, dia berjalan melewati kamar istrinya. Tapi kosong, tidak ada suara. Ternyata anak itu ada di sini. Sedang berbicara dengan seseorang. Dia jadi penasaran, kemudian diam-diam mengintip dan menguping.


"Iya. Kalau deket sama Rizal kan aku deg-deg'an gimana gitu." Wajahnya tersipu malu. Sementaar Clara yang mendengar jawaban polos sahabatnya hanya tertawa geli. Semua teman-teman sekolah juga tahu, bahwa mereka berdua saling menyukai, hanya tidak berjodoh.


Oh, begitu, ya? Kalau sama lelaki itu istrinya senang. Nero mengepalkan tangan. Eh, tapi siapa pula si Rizal ini?


"Terus papa kamu gimana?"


"Ya itu dia. Kan besok papa pulang. Kita mau jemput di bandara. Nanti aku sama om mau ngomong lagi." Tania mencoba menjelaskan semua rencana yang sudah di susun rapi.


"Kalau papa kamu masih tetap ga setuju?"


"Yaudah aku ya bakal minta om Nero ngelakuinnya."


"Kalau gitu amu usaha biar dia mau. Masa kamu ga bisa ngerayu suami sendiri?" Clara sangat mendukung, dan siap memberikan arahan untuk menjerat Nero, supaya segera takluk ke pelukan Tania.


Tidak usah dijerat juga. Tinggal bilang saja Nero sudah pasti amat sangat bersedia melakukannya. Ini mis komunikasi namanya.


"Iya, ini. Kayaknya ga mau. Aku bingung juga mau gimana." Gadis itu mengetukan jarinya di meja. Bingung dengan sikap omnya. Eh, suaminya.


Tidak mau? Siapa yang bilang begitu? Nero merapatkan tubuhnya ke dinding, lanjut menguping.


"Ya kamu usaha, dong. Bla bla bla ..." Suara Clara terdengar samar-samar.


"Oh, gitu, ya. Jadi aku harus ngerayu dia?" Dengan penuh khidmat gadis itu mendengarkan arahan sahabatnya. "Pake baju sexy? Apa?! Lingerie?" Tak sengaja dia keceplosan. Kemudian langsung menutup mulut. Jangan sampai Nero mendengarkan, bisa bahaya. Bisa gagal misinya. Matanya melirik ke arah pintu, tidak ada bayangan Nero di sana. Syukurlah, omnya tidak tahu dia sedang mencuri-curi menelepon Clara. Padahal ....


Ehem!


Nero berpura-pura batuk sambil melewati ruangan itu. Dia sengaja berjalan ke arah dapur untuk mengambil air.

__ADS_1


Tania yang mendengar itu, langsung menutup teleponnya. "Eh udah dulu ya Clara. Om Nero udah pulang."


"Oke. Kalau ada apa-apa, kabarin aku, ya."


"Iya, iya. Sip."


Klik.


Sambungan telepon terputus.


Tania segera berlari keluar, menyusul suaminya ke dapur. Biasanya Nero akan makan malam selarut apa pun dia pulang ke rumah.


"Om, mau makan?" Dia sudah siap sedia dengan masakan Ijah yang disimpan di freezer. Tugasnya hanya tinggal menghangatkan di microwave.


"Kamu ngapain di situ gelap-gelapan?" Nero menunjuk ruang keluarga. Hatinya mulai panas mendengar istrinya membicarakan lelaki lain.


"Enggg ... itu tadi aku nelepon Clara bentar." Gia gelagapan. Jangan sampai ketahuan. Maaf ya, om.


"Nelepon apa kok bisik-bisik? Ngomongin cowok?" Nero mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Engga kok, Om. Biasalah cewek-cewek. Om kepo, deh." Senyuman manis dia hadiahkan supaya suaminya tidak marah.


"Besok papamu pulang. Jadi ikut jemput ga?" Nero bertanya.


"Iya.. Aku ikut bareng oma saja." Dia mulai melancarkan serangan. Tubuhnya sudah mulai menempel lagi.


Sering-sering saja ya, Tania. Nero suka banget, loh.


"Om kenapa sih? Bukannya aku biasa ya kalau meluk. Kok pake tanya?" Pelukannya semakin erat. Sudah tidak ada celah di antara mereka. Tania bahkan membenakan wajahnya di dada hangat itu. Sebenarnya dia malu, tapi dia nekat. Wajahnya memerah sejak tadi.


"Ga. Biasanya kan kamu suka ngambek. Tumben aja, pasti ada maunya." Nero sepenuhnya sadar dengan perlakuan istrinya ini. Dia masih menahan diri. Tidak mungkin dia langsung menyerang, bisa syok Tania.


"Om kok gitu sih. Nuduh-nuduh aku." Alarm sudah mulai berbunyi, tanda-tanda mau ngambek.


"Bukan gitu maksudnya." Nero meraihnya, membawa Tania kedalam pelukan. Dia sayang. Dia sayang sekali.


"Dingin" Tania berbisik. Dia semakin merapatkan tubuhnya.


"Mau teh hangat? Om bikinkan?"


"Mau di peluk om aja." Mata mereka saling bertautan lama, saling menyelami pikiran masing-masing. Bagaimanapun juga dia harus selalu ingat kata-kata Clara. Dia harus merayu omnya. Sekarang.


"Ini udah dipeluk." Nero mengusap rambutnya. Sesekali mencium pucuk kepalanya. Kapan lagi? Mumpung ada kesempatan. Tania juga terlihat pasrah saja. Malah dia yang menggoda.


"Tapi sambil bobok."


Jedar!


Serasa ada petir menyambar. Jantung Nero berpacu cepat. Ini anak ngomong apa sih?

__ADS_1


Nero melepaskan pelukannya, mendorong lembut tubuh istrinya. "Sana! Balik ke kamar kamumu. Kalau dingin pake sweater. AC digedein. Pake selimut sekalian." Lalu dia berjalan menuju kamarnya sendiri.


Tania termenung lama di dapur. Tak menyangka akan mendapat perlakuan sperti itu.


Nero menolaknya. Dia sakit hati.


.


.


Nero mencuci wajahnya berkali-kali di kamar mandi. Cuaca malam ini memang lebih dingin dibanding biasanya. Sepertinya mau musim penghujan, setiap hari mendung.


"Mau di peluk, Om. Sambil bobok." Kata-kata Tania tadi terngiang kembali di telinganya.


Dipeluk? Sambil bobok?


Arrrrgghh!


Dia memang kesepian, dan menyadari hal itu. Dua tahun ini ranjangnya dingin, tidak ada yang menghangatkan. Tapi jika harus melakukannya dengan alasan seperti itu, tentu saja dia tidak mau. Dia ingin jika suatu saat mereka bersama, Tania menganggapnya sebagai suami, bukan omnya.


Namun jika melihat kondisi Bram yang mulai lemah, hatinya goyah. Apalagi seminggu ini gadis itu mulai mendekatinya. Menempel terus setiap dia pulang kerja. Menyiapkan sarapan setiap pagi. Walaupun dia tahu ada maksud terselubung dibaliknya.


Dia laki-laki normal. Tania istrinya, dan ia butuh itu.


Serba salah. Dia sudah berjanji pada Bram akan menjaga anaknya dengan sebaik-baiknya. Akhirnya Nero membuka bajunya, dan membenamkan diri kedalam bath-up.


Mau dibawa kemana pernikahan ini? Apakah akan bertahan selamanya atau hanya sampai gadis itu siap mengambil alih perusahaan.


Apapun yang akan terjadi besok, terjadilah.


.


.


Tania termenung di kamarnya. Usaha pertamanya gagal, tapi dia tidak akan menyerah. Impiannya untuk bisa kuliah sangatlah kuat.


Apalagi Rizal juga udah pasti masuk fakultas kedokteran tahun ini. Biarlah dia telat setahun asal bisa kuliah bareng. Dia ingin menghabiskan masa mudanya bersama lelaki yang dia cintai.


Sebenernya sih dia sama Rizal belum jadian, tapi lelaki itu udah mulai memberikan sinyal.


Kalau Rizal tahu dia sudah menikah terus nanti mau punya anak, apa dia masih suka dengannya?


Tania mengetukkan pulpen di kepalanya. Diam-diam dia mulai mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi. Belajar dengan tekun setiap malam, karena dia tahu masuk fakultas kedokteran tidak lah mudah. Untuk biaya papa dan Nero pasti siap menanggung. Tapi kemampuan dirinya juga harus di upgrade terus biar lolos.


Siapa tau suatu hari nanti papa berubah pikiran. Besok papa pulang dia mau bicara. Kalau perlu Nero yang maju duluan sebagai tameng.


Menyebut nama Nero, dia teringat kejadian di dapur tadi. Dia malu tapi harus berusaha demi cita-citanya.


Tania menutup wajahnya dengan buku menahan senyum. Entah apa yang dia pikirkan. Entah apa lagi yang dia rencanakan. Sepertinya, sebentar lagi Nero akan menyerah.

__ADS_1


__ADS_2