Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Tanteku Sayang


__ADS_3

Tania berteriak kegirangan saat membuka pintu. Wajah Ovi yang cantik muncul di depan rumah mereka. Ditangannya terdapat banyak oleh-oleh kesukaan gadis itu.


"Tante!" Tania mengambur ke dalam pelukan wanita itu.


"Sayang!" Ovi membalasnya dengan penuh kerinduan. Bibirnya mencium pipi kiri dan kanan Tania dengan gemas.


"Kok tante ga bilang mau datang? Kan bisa aku jemput," tanya Tania.


"Jangan sayang. Nanti kamu capek. Lagi program hamil ga usah banyak keluar," bisik Ovi.


Program hamil? Siapa?


"Ayo masuk, Tante. Bik Ijah habis masak. Makan dulu." Tania menarik Lengan Ovi.


Mereka masuk ke dalam rumah sambil bercerita. Segala macam barang bawaan Ovi diletakkan di ruang tamu. Dapur, menjadi tujuan utama.


"Wah udah lama ga makan masakan Bibik. Yuk, ah. Tante lapar." Ovi mengusap perutnya.


"Tante kapan berangkatnya dari sana?"


Tania menarik kursi dan mereka duduk berhadapan. Bibik membuka tutup sajian. Seketika terciumlah aroma masakan yang menggugah selera. Tania yang tadinya sudah makan, jadi berselera kembali.

__ADS_1


"Tadi pagi-pagi. Habis kamu telpon curhat minggu lalu sambil nangis itu, tante minta ijin sama Mike ke sini," jelasnya. Ovi mulai mengambil nasi dan lauk. Menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.


"Uncle ga marah?" Mata Tania mendelik. Setahunya, pamannya yang bule, itu sayang sekali kepada tantenya ini, sehingga sulit berpisah lama. Sewaktu acara pernikahannya dulu saja, Mike minta cepat pulang ke Malaysia.


"Ga apa-apa. Tante ga lama kok. Tiga hari aja."


"Gimana om sama Bryan sehat?" Tania menambah lauk. Sejak menikah, porsi makannya meningkat. Mungkin karena secara finansial juga lebih terjamin oleh Nero, maka dia bebas berbuat sesukanya.


"Sehat saja, sayang. Papa kamu gimana sehat?" tanya Ovi.


"Sehat. Cuma papa kok aneh. Habis pulang waktu itu kayaknya makin lemes. Jarang ke kantor banyak istirahat di rumah. Apa papa sakit?"


Ovi tersedak. Tania dengan cepat mengambilkan air minum.


"Ga bilang apa-apa. Cuma bilang papa udah tua. Papa minta aku belajar sama om. Terus minta ...." kata terakhirnya menggantung. Terasa berat bagi Tania untuk diucapkan. Dia malu membahas tentang itu.


"Cucu?" tebak Ovi.


Tania mengangguk.


Ovi meletakkan sendok dan garpu di piring. Sepertinya ini harus diluruskan. Dia menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahan ini.

__ADS_1


"Besok kita kerumah papa," katanya tegas. "Malam ini tante nginap sini aja dulu. Boleh?"


Tania mengangguk. Lagi.


"Eh, tapi tante bobok sama aku, ya," jawabnya cepat. Dia takut ketahuan.


"Loh kok sama kamu. Nero?" tanya Ovi bingung.


Gadis itu terdiam. Menunduk dan mengaduk nasi yang ada di dalam piringnya.


"Kalian pisah kamar?" tanya Ovi lagi.


"Iya," lirih suaranya. Nyaris tak terdengar.


"Kapan mau hamilnya kamu? Kata Mas Bram bilang kamu lagi program," cecar Ovi. Sungguh dia tak menyangka, ternyata rumit juga masalahnya.


"Kapan papa bilang gitu?"


"Habis kamu telepon waktu itu, tante langsung hubungi papa. Tanya keadaannya. Papa bilang kamu lagi program mau ngasih cucu."


"Oh." Tania kembali mengaduk nasinya. Tak berniat melanjutkan makan. Seleranya tiba-tiba saja hilang.

__ADS_1


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian.


__ADS_2