
Ovi melanjutkan kisahnya. Harusnya Tania mendengar semua ini langsung dari mulut suaminya. Hanya saja, ada banyak hal yang akhirnya dia campuri karena salah paham di antara dua orang itu. Bukan maksudnya mendahului Nero. Hanya saja, sikap Tania yang menurutnya sudah keterlaluan, membuatnya harus turun tangan.
Dia tidak ingin, rumah tangga yang baru seumur jagung ini retak. Perbedaan usia yang terpaut cukup jauh, memang kadang menimbulkan banyak prasangka. Apalagi Nero tipe lelaki pengalah, yang memilih untuk menerima semua tuduhan daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Nero mengikhlaskan Andrea menikah. Dia merasa berhutang budi sama papa kamu karena udah ngasih kerjaan. Apalagi setelah dia lulus kuliah, Mas Bram ngangkat dia jadi staf khusus."
Beberapa kali Ovi menarik napas sebelum melanjutkan cerita.
"Nero orangnya jujur. Dia cerdas dan pintar. Cuma nasibnya yang kurang beruntung."
"Mas nggak pernah cerita apa-apa. Aku nggak tau masa lalunya, cuma tau dia rekan kerja papa," kata Tania.
"Kalian kan baru menikah. Itu juga bukan keinginan sendiri. Mungkin nanti Nero bakal ceritain. Semuanya peroses, Sayang. Pelan-pelan." Dia menasehati. Memberikan pemahaman kepada anak ini memang gampang-gampang susah. Secara faktor usia memang masih labil.
"Tapi aku sakit hati." Dia membuang muka. Mengingat ada banyak kebohongan Nero--atau mungkin prasangkanya sendiri-- yang membuat dia kecewa.
__ADS_1
"Sayang. Tante ngerti banget. Kamu masih muda. Belum seharusnya menerima semua ini."
Tania mengangguk.
"Kalau kamu tanya siapa yang paling banyak berkorban untuk kita. Nero lah orangnya. Dia mengorbankan hidupnya, cintanya. Semua kekecewaannya dia telan sendiri. Nggak pernah dia umbar."
"Sejak kapan tante tau ini semua?"
"Sejak kematian Andrea. Nggak sengaja Tante sama papa kamu ngeliat dia nangis di makam waktu kami mau ziarah. Sejak hari itulah semuanya terungkap."
Ada banyak hal yang memang mereka rahasiakan. Mungkin nanti berjalan dengan seiringnya waktu, perlahan satu persatu tabir akan terkuak.
Tinggal menunggu, apakah Tania akan siap mendengarnya. Semoga bila saat itu tiba, dia siap menerimanya.
"Waktu itu, kamu masih kecil. Baru lima tahun. Andrea sakit. Batinnya tertekan karena dipaksa menikah sama papamu. Sedangkan dia harus menerima kenyataan bahwa Nero adalah salah satu staf di kantor. Jadi, sesekali mereka masih ketemu."
__ADS_1
Ovi melanjutkan ceritanya.
"Tante udah minta kamu. Tapi karena Nero janji mau bantu Mas Bram buat ngerawat kamu, jadinya tante ngalah."
Isak tangis Tania terdengar lagi. Perasaannya bercampur aduk, semua rasa jadi satu. Antara senang karena sudah mengetahui banyak hal, sekaligus juga sedih, mendapatkan bahwa kenyataan tak semanis harapannya.
"Nero udah berkali-kali kehilangan wanita yang dia cintai. Ibunya, Anderea, juga Saskia. Hatinya pasti terluka. Kamu janji sama Tante, ya. Bakal bantu sembuhkan lukanya." Ovi menggengam erat jemari Tania.
"Kenapa tante bilang gitu?"
"Karena ..." Kata-katanya terhenti. Ini yang paling berat untuk disampaikan. Dia bertaruh banyak hal, bahkan seandainya Tania akan membencinya karena pengakuan ini. "Tante pernah suka sama dia, tapi ditolak. Waktu itu dia benar-benar cinta sama mama kamu."
Lega. Sudah tak ada lagi perasaan yang mengganjal di hatinya. Ovi memandang lekat keponakannya.
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi nomor 08115584815
__ADS_1