
Nero menggandeng Tania mesra. Mereka berdua memasuki kantor dengan senyum dan langkah pasti. Beberapa pegawai memberi salam dan hormat.
Beberapa yang lain berbisik-bisik membicarakan mereka yang tampak seperti adik kakak atau paman dengan ponakan.
Wajah Tania berubah. Dia tidak biasa di bicarakan begitu. Dia tidak suka.
"Ga usah dengerin. Kita ada rapat direksi hari ini. Kamu siap?" Nero mengeratkan gengamannya.
"Iya mas. Tapi aku gimana ya, apa aku bisa?"
"Pasti bisa. Sampaikan yang penting saja. Terutama tentang kesehatan papa" Nero tersenyum menatap istrinya.
Denting lift berbunyi. Nero dan Tania segera menuju ruangan. Sebelumnya mereka melewati ruangan Nisa, sekretarisnya.
"Nisa..." Nero mengetuk pintu.
"Ya pak" Nisa gelagapan. Apalagi di lihatnya Nero tidak datang sendirian.
"Kami akan meeting direksi hari ini. Kamu sudah siapkan bahannya?"
"Su-dah pak" Nisa canggung. Apalagi dia melihat Tania memandangnya tidak senang.
"Oke. Tolong antar berkasnya ya. Kamu tidak usah ikut. Nanti hasil meeting saya emailkan untuk kamu simpan berkasnya" Jawab Nero.
"Baik pak" Nisa tertunduk.
"Oh ya. Kenalkan ini Tania. Putri Bapak Bram" Tania mengulurkan tangan.
"Tania. Saya istri Nero" Nisa menyambutnya dengan ragu.
__ADS_1
"Nisa" jawabnya pelan.
"Oke. Kami sudah di tunggu. Segera kamu menyusul" Nero menarik tangan Tania.
Nisa bergerak mengambil berkas-berkas di mejanya. Meeting ini memang mendadak. Untung agendanya tidak terlalu penting. Hanya perkenalan antara direksi dengan pengganti Bapak Bram.
"O iya Nisa satu lagi. Tolong minta pak Mamat mengganti sofa di ruanganku. Setelah selesai meeting nanti ada yang mau ku bicarakan dengan istriku"
"Baik pak"
"Good. Aku mau nanti selesai meeting sudah ada sofa yang baru. Aku mau yang bersih"
Nero menekankan kata-kata itu. Pandangannya menatap mata Nisa tajam.
Gadis itu hanya mengangguk. Ketika Nero dan istrinya keluar ruangan, air matanya mengalir. Dia tak dapat menahan lagi. Perasaannya hancur.
Apalagi mendengar kata-kata terakhir dari Nero. Aku mau yang bersih. Seolah-olah yang mereka lakukan itu kotor. Tapi yah memang itu kotor. Mau bilang apa lagi?
Nisa memencet sebuah nomor.
"Pak Mamat?"
"Yang Neng Nisa yang cantik jelita?" Nisa tersenyum.
"Pak Nero minta sofa di ruangannya diganti dengan yang baru sekarang"
"Loh kok buru-buru neng"
"Ga tau pak. Bapak segera beli ya. Dia minta setelah selesai meeting, di ruangannya sudah yang baru"
__ADS_1
"Baik Neng. Terus sofa yang lama mau di kemanakan?"
"Pindahkan di ruangan saya aja"
"Lah penuh dong ruangannya"
"Sofa di ruangan saya buat pak Mamat aja. Bawa pulang kerumah" jawabnya.
"Beneran?"
"Iya. Bawa aja buat istri di rumah"
"Alhamdulillah. Makasih neng"
"Ya udah bapak sekarang survey dulu. Nanti saya transfer biayanya"
Klik. Telepon terputus. Nisa menghela nafasnya. Kemudian di keluar ruangan. Sepertinya dia butuh kopi panas di kantin.
* * *
"Mas. Sekretarismu itu cantik ya" Tania mengambil snack dan minuman sambil duduk santai di sofa.
Tiga jam mereka meeting dan akhirnya Tania resmi menjadi pengganti papanya.
Para pemegang saham dan direksi juga tidak mempermasalah kan sepanjang semua di bawah pengawasan Nero. Selama ini perusahaan juga berlaku adil. Jadi tidak merugikan siapapun.
Hanya mungkin Nero akan kembali mengambil staf khusus untuk membantunya memudahkan pekerjaan. Karena sepertinya Tania memang belum siap dan harus banyak belajar.
"Nisa?" Tanya Nero.
__ADS_1
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 08115584815