Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Kenangan


__ADS_3

"Rea, mas datang...." Bram bersimpuh di sebuah batu nisan di sebuah area pemakaman. Matanya menatap sendu nama yang tertera di situ. Andrea Maharani.


13 tahun berlalu sudah semenjak kepergian istrinya. Meninggalkan dirinya yang harus menduda di usia muda. Meninggalkan seorang anak perempuan cantik yang waktu itu berusia 5 tahun. Usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya.


Bram memutar kembali memorinya bersama Rea. Ada banyak kenangan indah baginya. Walaupun dia tau, mungkin Rea tidak merasakan hal yang sama.


Mereka dijodohkan. Bram yang waktu itu masih berkuliah, diminta ayahnya untuk menikah. Dia yang masih sibuk belajar merasa terkejut atas permintaan orangtuanya. Padahal saat itu dia tidak memiliki pacar sama sekali.


Bram anak baik-baik. Walaupun dia anak seorang pengusaha kaya, dia tidak suka berprilaku aneh-aneh seperti temannya. Dia sangat menjaga diri. Sadar bahwa dia anak pertama yang akan menjadi penerus ayahnya. Dia juga memiliki adik perempuan yang harus dilindungi, Ovi.


Rea. Gadis itu berusia 19 tahun saat dinikahinya. Sedangkan ia sendiri memasuki usia 23 tahun. Usia yang cukup untuk seorang pria membangun rumah tangga sebenarnya. Namun Bram menyangsikan kesiapan Rea di usianya yang masih sangat muda.


Adalah Bapak Susilo ayahnya Rea yang memperkenalkan mereka. Bram yang saat ini sudah mulai membantu ayahnya di perusahaan sengaja diperkenalkan dengan putrinya saat selesai meeting bersama membahas tender yang harus mereka menangkan tahun ini.


Rea yang baru pulang kuliah dijemput ayahnya. Dibawa ke kantor Bram dengan alasan ada berkas yang tertinggal yang harus diambil.

__ADS_1


Bram terpesona ketika tangannya menjabat tangan halus itu.


"Andrea," katanya malu-malu.


Dan seperti kata pepatah cinta pada pandangan pertama, hal itulah yang Bram rasakan saat bertemu Rea.


Cantik, lembut, anggun, dengan rambut panjang hitam terurai dan mata yang teduh. Persis seperti putri mereka, Tania.


Bram yang selama ini hanya fokus belajar dan membantu mengembangkan usaha papanya, mulai merasakan ada benih-benih cinta di hatinya.


Siang malam dia selalu terbayang wajah Rea. Gadis itu menghantui hari-harinya. Pagi sampai malam. Sampai mata Bram tidak bisa terpejam akibat menahan kerinduan.


"Gimana Mas Her. Kalau kita jodohkan Andrea sama Bram saja. Nampaknya mereka cocok."


"Iya dek Susilo. Kayaknya Bram jatuh cinta sama anakmu. Beberapa kali kulihat melamun, terus nyanyi-nyayi di kamar mandi."

__ADS_1


Hahaha tawa mereka meledak.


"Wah pas sekali kalau begitu mas. Kita adakan pertunangan saja dulu. Biar Bram dan Rea saling mengenal lebih dalam. Nah kalau sudah klik baru kita rencanakan pernikahan."


"Tapi dek. Apa Rea juga mau. Mas ga mau loh maksain anak-anak. Siapa tau Rea sudah punya pacar."


"Ah engga kok mas. Rea masih single, belum punya pacar dia. Anak pingitan, dijaga betul sama ibunya."


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak salah pilih calon menantu. Bram juga anak baik-baik. Tidak pernah neko-neko."


Mereka bersalaman. Sepakat untuk menyusun rencana selanjutnya. Rencana perjodohan dan rencana pemenangan tender selanjutnya.


* * *


Acara pernikahan mereka digelar besar-besaran. Dua pengusaha terkenal yang menyatukan hubungan keluarga dan bisnis, pestanya tentu saja tidak boleh biasa saja kan?

__ADS_1


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi 08115584815



__ADS_2