
Tok tok tok.
"Om. Om Neroooo." Tania mengetuk-ngetuk, antara takut dan ragu-ragu. Lama tak ada jawaban. Tania mengetuk lagi, berharap dibukakan pintu untuknya.
Tok tok tok.
Nero membuka pintu. Seraut wajah yang selalu membuatnya berdebar-debar muncul dengan senyum manis.
"Apa?"
"Lagi ngapain?"
"Bikin laporan. Ada yang mau direvisi." Tangan Nero menghalangi pintu.
"Oh…." Rasa ragu muncul lagi.
"Apa?"
"Ngggg boleh aku masuk?"
Nero mengernyitkan dahi. Hmmm ada apa ini. Tumben Tania mau masuk ke kamarnya. Biasanya takut malah.
"Mau apa?"
"Mau bobko sini boleh?" Katanya ragu.
Bobok di sini? Di kamarku? Wah boleh dong. Boleh banget.
"Tumben." Jual mahal dikitlah, biasanya juga Tania yang nolak.
__ADS_1
"Di kamarku ada Tante Ovi. Dia nginep di sini malem ini."
"Loh kok ga bilang Ovi datang." Nero terkejut.
"Aku juga ga tau. Tiba-tiba muncul tadi pagi. Seharian curhat-curhat lupa mau ngabarin. Ini udah tidur kecapean. Om sih pulangnya malem banget."
"Lagi banyak kerjaan di kantor. Kan sekarang om yang handle semua."
"Iya, tadi tante bilangnya sih cuma bentar. Besok mau ke rumah papa."
"Ya udah gak apa-apa boleh kok nginap di sini."
"Jadi aku boleh masuk ga ni?" Tania berharap.
"Masuk aja tuan putri." Nero menjawil hidungnya. Gemes. Dia mempersilahkan gadis itu masuk ke kamarnya.
Klek. Pintu dikunci.
Tania berkeliling memandang kamar Nero. Luasnya lebih besar sedikit dari kamarnya. Ada meja kerja di pojokan seperti ruang kerja yang menyatu. Sofa kecil untuk bersantai.
Simple, tidak banyak warna. Didominasi hitam putih.
Dia pernah sekali masuk dan tidur di situ. Malam itu waktu Nero menggendongnya. Mereka hampir saja melakukannya, tapi tidak jadi. Waktu itu dia sangat takut.
Malam ini semoga saja dia bisa melewati semuanya. Tania mengepalkan tangan. Menguatkan diri. Harus bisa ya Tania, demi papa.
"Kalau ngantuk tidur aja dulu. Aku masih ada yang mau diselesaikan." Nero berjalan menuju sofa, sedangkan Tania langsung naik ke ranjang. Menarik selimut dan memejamkan mata. Berkali-kali dia coba tidur. Sulit sekali. Nero yang melihat Tania gelisah segera mematikan lampu.
Nero berusaha fokus pada laporan di depannya. Berkali-kali dia mencoba malah semakin ga bisa. Apalagi melihat Tania yang gelisah di tempat tidur, pikirannya entah kemana.
__ADS_1
Nero menutup laptopnya. Blank. Satu jam sudah berlalu. Semua ide di kepalanya hilang sudah. Dia masuk ke kamar mandi dan mencuci muka.
Perlahan dia mendekati Tania. Gadis itu bergerak-gerak. Entah mimpi apa. Dia memeluknya. Mengusap kepalanya. Mengecup keningnya. Rasa sayang dan cinta kasih itu sudah ada sejak lama. Semakin bertambah setelah mereka menikah.
"Maafkan aku sayang." Dia mengecup kening Tania berkali-kali. Membelai pipinya, memandangnya dengan penuh hasrat. Salahkan Aku?
Aku menginginkannya. Aku menginginkan istriku.
"Om?" Tania terbangun.
"Kamu gelisah tidurnya. Mimpi apa?"
"Papa."
"Kenapa papa?"
"Aku ngeliat papa pergi jauh. Aku panggil papa ga denger." Tania membenamkan wajahnya di tubuh Nero. Merasakan hangat di pelukan suaminya.
"Udah ga usah dipikirkan, itu cuma bunga tidur." Serba salah kalau sudah begini. Kenapa juga mas Bram sembunyi-sembunyi. Kayak mau main petak umpet aja. Kasihan juga Tania, berkali-kali bertanya dan Nero harus membohonginya pula. Bersikap solah-olah tidak tahu.
"Om."
"Hmm."
"Om ga bobok?"
"Bentar lagi."
"Om mikirin apa?"
__ADS_1
"Kamu." Nero menatap wajah Tania. Gadis itu tertunduk.
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian partnya.