
"Om." Tania melenguh. Perlakuan Nero di tubuhnya membuat dia merasa tak nyaman. Tubuhnya meronta, belum bisa menerima suaminya sepenuhnya.
"Sayang," bisik Nero. Dia memandang istrinya ini dengan penuh cinta. Dia menginginkannya sekarang. Saat ini juga. Apa dia salah?
Hiks!
Suara itu lagi. "Kok nangis?" Nero melepaskan rengkuhannya. Tidak tega juga kalau harus memaksa. Dia berbaring di samping istrinya, memandang wajah yang bersimbah air mata itu.
"Om jahat. Nakal," isaknya. Tani membalikkan tubuhnya, memunggungi lelaki itu.
Nero merengkuhnya dari belakang. "Belum di apa-apain, kok." Nero memeluknya lembut. Mengusap kepalanya. Sesekali mengecup pucuknya.
"Itu, cium-cium aku sama tangannya ...." Tania melepaskan rengkuhan suaminya. Dia hendak bergeser menjauh, tapi sebelum itu terjadi, Nero dengan sigap menariknya kembali. Kali ini posisi mereka berhadapan.
Gadis itu tertunduk, tak berani menatap wajah suaminya.
"Katanya mau ngasih papa cucu. Baru segitu aja udah nangis." Dia tertawa geli. Sungguh ini di luar perkiraannya. Tania yang selama ini mencoba merayunya, kini berbalik menjadi ketakutan saat dia bersikap agresif.
"Tapi aku sakit kalau digituin." Dia memukul dada Nero.
"Ya begitu dululah. Apa mau langsung aja?" jawab Nero santai.
Wajah Tania memerah, dia mengusap air mata untuk menghilangkan rasa malu.
__ADS_1
"Om ambil first kiss aku," katanya kesal. Tangannya memilin kaus yang dipakai Nero. Membuat lelaki itu semakin gemas.
"Bukan first kiss. Dari kecil dulu juga om sering begitu sama kamu."
"Tapi kan ga romantis," rajuknya.
Lelaki itu menghela napas panjang. "Mau romantis gimana? Candle light dinner dulu, baru kiss?"
Tania mengangguk. Nero membuang muka. Entah ini sudah yang ke berapa ratus kali, setiap berhubungan dengan gadis ini.
Ingat, Nero. Dia masih remaja. Yang dia inginkan sesuatu yang spesial, manis, dan romantis. Tidak bisakah kamu menahan hasratmu dulu saat ini? Kamu bisa pelan-pelan menaklukannya.
"Ya sudah, nanti kita nge-date." Nero berencana akan mem-booking sebuah restoran jika istrinya bersedia. Bahkan, dia akan menyiapkan makan malam ala selebritis jika perlu.
"Aku ga mau nge-date sama om." Suaranya melemah dan tidak bersemangat.
"Kenapa?" Nero mengankat dagunya. Mendekatkan wajah mereka. "Karena om udah tua? Malu jalan sama om-om walaupun udah suami sendiri?"
Mereka bertatapan lama. Dua jantung berdetak kencang. Tania menolehkan wajahnya. Nero ... ditolak.
"Om."
"Apa?" bisik Nero. Suaranya serak menahan gairah sedari tadi.
__ADS_1
"Itu." Tania menunjuk ke bawah. Sesuatu di diri Nero yang mengeras menekan perutnya dan membuatnya tak nyaman.
Nero tersenyum. Meraih tangannya, meminta gadis itu menyentuhnya. Tania menolak. Dia malu.
"Tau gak itu apa?" Nero mulai menggoda.
"Itu nanti yang akan merobek milik kamu sampai berdarah terus kamu bikin kamu kesakitan." Nero berbisik.
Tania ketakutan. Wajahnya pucat.
Nero tergelak. Puas dia mengerjai istrinya. Biar Tania tahu, betapa kesalnya dia sewaktu melihat mereka berpegangan tangan di bandara tadi.
"Kamu suka ya sama Rizal?" lanjutnya.
Gadis itu mengangguk. Nero menelan ludah. Menerima kenyataan pahit bahwa istrinya belum mencintainya. Sekalipun dia belum merasakan hal yang sama, tetap saja hatinya merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Dosa loh kalau udah nikah, terus naksir sama cowok lain. Mana suami belum dilayani pula."
"Tapi aku ..." Gadis itu tak dapat berkata.
Nero bukanlah tipikal lelaki yang banyak bicara. Tapi jika serius, berarti memang ada hal penting, yang harus disampaikan.
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve karena harus dihapus sebagian.
__ADS_1