
Tania menggeliat di atas kasurnya, rasanya nyaman sekali tertidur. Sampai dia merasa sesuatu yang berat menindih tubuhnya dan diserang dengan berbagai cumbuan.
Siapa ini?
"Bangun anak manja. Sudah sore." Nero menangkup pipi istrinya dengan kuat, sehingga bibir Tania terlihat mengerucut ke depan. Lucu, membuatnya tertawa geli. Apalagi matanya masih terpejam, antar sadar dan tidak.
Nero kembali menghadiahkan sebuah kecupan lembut, membuat Tania akhirnya membuka mata. Dia tertunduk malu, saat mendapati wajah suaminya sedang menatap mesra.
"Aku nggak tau kalau kamu udah pulang?" Dia mengerjapkan mata berkali-kali.
"Kamu enak banget tidurnya. Kaya' kebo." Nero mencubit hidungnya gemas. Tangannya mengusap helaian rambut yang terjuntai di pelipis. Aroma harum tubuh istrinya membuatnya menginginkan kemesraan lagi.
"Tante mana?"
"Di rumah papa. Nginap di sana."
"Katanya mau jalan sama aku sore ini." Dia bergerak menyandarkan tubuhnya di head board ranjang. Kepalanya pusing, berdenyut sejak tadi. Perlakuan Nero kepadanya kemarin malam benar-benar membuatnya lelah.
"Besok pagi aja. Penerbangannya di undur malem."
"Bik Ijah?"
"Udah mas suruh pulang tadi. Mas pengen berduaan sama kamu." Lelaki itu mengedipkan mata.
"Mas ini." Tania itu tersipu malu, kemudian mencubit perut suaminya. Nero mengaduh kesakitan, kemudian balas menggelitik, dan tertawa terbahak-bahak melihat istrinya yang tersipu malu.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi," Tania hendak melepaskan diri, tapi malah ditahan dengan sebuah pelukan.
"Mandi bareng, ya?" bisik Nero.
"Aku mau pipis ini." Dia mengelak, bisa bahaya kalau sampai Nero mengulangi.
"Jangan lama-lama."
Nero terduduk di kasur, menjelajah isi kamar ini. Setelah kejadian tadi malam apa mereka masih akan pisah kamar? Dia berdoa dalam hati, semoga Tania mau pindah ke kamarnya. Dia ingin mencumbui istrinya sesering mungkin, sesuka hatinya.
Pintu kamar mandi terbuka. Tania muncul dengan wajah segar.
"Gimana kabar papa?"
"Sehat. Tadi ngobrol lama. Terus Ovi bilang dia mau nginep di sana. Jadi mas tinggal."
"Apanya yang aneh?"
"Kayaknya papa sakit, deh. Aku lihat banyak rambut rontok di kemejanya waktu pulang dari Singapura."
"Ah, masa' sih?" Nero mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Mas. Aku tanya papa katanya laki-laki emang gitu. Kalau makin tua rambut rontok."
"Ya nggak semua. Ada beberapa. Buktinya mas nggak rontok, padahal usia kita deketan." Tangan Nero mengusap bahu istrinya, sesekali mengecup pucuk kepalanya. Rasanya dia tidak ingin keluar kamar sampai besok pagi.
__ADS_1
"Jangan bohong!" ancam Tania. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan, entah apa. Bertanya kepada suaminya pun, tak mendapatkan jawaban yang pasti.
"Beneran!. Mungkin capek mikirin anak semata wayangnya yang manja," jawabnya asal.
"Biarin yang penting papa sayang." Tania membenamkan kepalanya ke dalam dekapan hangat suaminya. Harum aroma tubuh Nero membuatnya nyaman, juga memberikan rasa tenang.
Kalau sudah begini Nero semakin tidak tahan jadinya. Ingin mengubah posisi mereka, Tania berada di bawahnya, sehingga dia bisa leluasa melancarkan askinya.
"Padahal aku masih kangen sama tante."
"Habisnya kamu berisik sih, teriak-teriak."
"Mas!" Dia memukul dada suaminya karena malu digoda seperti itu.
Nero memeluknya, menggelitik pinggangnya. Mereka berdua berguling-guling di kasur.
"Mas mau lagi," bisiknya mesra.
"Apaan?"
"Yang tadi malem," bisik Nero sambil mengusap rambut Tania.
"Masa' diulang lagi? Tunggu hamil dulu baru coba lagi," jawabnya polos.
Aduh, belum mengerti juga, rutuk Nero dalam hati.
__ADS_1
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian partnya.