Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Tak Terduga


__ADS_3

"Apa ini Nisa?" Tanya Nero bingung.


"Surat pengunduran diri Saya pak." Nisa menatap wajah Nero. Wajah seseorang yang selalu di rindukannya.


"Kenapa? Apa gaji di kantor ini kurang buat kamu?"


"Tidak pak. Cukup buat Saya. Tapi saya rasa memang sudah waktunya. Saya juga sudah lama disini hampir 6 tahun."


"Tapi harus-nya kamu betah karena sudah bekerja selama itu?"


Pak, apa kamu lupa? Hatiku sakit Pak.


"Tapi saya sudah mantap dengan pilihan Saya. Mungkin Saya butuh suasana baru." Untuk melupakan semuanya. Melupakan kamu Nero.


"Kalau ini ada hubungannya dengan kejadian waktu itu, Saya minta maaf." Tatapan mata Nero menyimpan rasa sesal.


Nisa mengangguk.


"Saya yang salah Pak. Harusnya tidak menggoda Ba-pak" Tertunduk menahan malu saat mengatakan ini secara langsung kepada Nero.


"Sa-yaa...." Nero tak dapat berkata-kata.


"Saya mohon persetujuannya ya Pak."


"Tapi ini terlalu mendadak. Kamu kan tau saya benar-benar keteteran semenjak Pak Bram sakit. Kamu adalah salah satu staf yang Saya andalkan."


Nero mengakui, kerja Nisa cukup bagus. Gadis ini tidak banyak bicara tapi selalu tepat waktu. Laporan semua beres tanpa dia perlu banyak mengajarkan.


Gadis ya cerdas. Hanya saja sayang, aku tidak tertarik sama sekali walaupun dia cantik.

__ADS_1


Kalaupun waktu itu aku menyambut godaanmu, itu karena aku khilaf.


"Saya minta pengertiannya Pak." Nisa memohon.


"Baiklah. Ini akan saya pertimbangkan. Tapi kamu tidak boleh resign dulu sebelum saya dapat pengganti. Beri saya waktu 1 bulan."


Nero mencoba bernegosiasi. Bagaimanapun dia belum bisa melepas Nisa secepat ini.


"Baik pak. Saya pamit." Nisa hendak melangkah.


Nero memegang tangannya.


"Kamu cantik. Cerdas. Ada banyak laki-laki baik di luar sana yang lebih pantas untukmu." Nero menatapnya dalam.


"Tapi saya mencintai Bapak" Nisa balas memandang.


"Permisi pak" Nisa melangkah keluar.


* * *


Tania, Nero, Ovi dan Mike berjalan beriringan menuju rumah Bram. Sementara Bram terduduk lemah di kursi roda.


Setelah satu bulan di rawat di rumah sakit akhirnya Bram di perbolehkan pulang hari ini.


Kondisinya membaik. Walaupun rambutnya semakin tipis dan hampir botak tapi fisiknya sungguh kuat untuk bertahan.


Seorang perawat khusus yang di minta untuk mendampingi Bram mendorong kursi roda itu dengan pelan.


"Papa kita udah sampai" Tania berbisik.

__ADS_1


Ketika masuk rumah Bram mendapat kejutan sampai meneteskan air mata. Beberapa rekan dan relasi juga karyawan berkumpul di ruang tamu menunggu kepulangannya.


Hari ini kantor di liburkan setengah hari. Karyawan diwajibkan datang untuk menyambut kepulangan pemimpin mereka.


Nero sengaja membuat acara syukuran sederhana untuk menyambut kepulangan Bram.


Bik Ijah di bantu beberapa asisten sibuk mempersiapkan segala sesuatu, walaupun sebagian makanan di sediakan oleh katering.


"Wah rame ya. Terima kasih" Bram bersalaman. Bahkan ada yang memeluk dan mendoakannya.


Mereka asyik berbincang sambil makan-makan.


"Ayo sayang kita makan" Nero mengajak istrinya.


Mereka berjalan menuju meja prasmanan. Ada berbagai jenis makanan terutama bakso kesukaan Tania.


Tania mengambil mangkok dan mengisi dengan mie yang banyak. Dia benar-benar lapar karena sejak pagi perutnya tidak terisi cukup makanan. Terlalu senang papanya akan pulang membuatnya kehilangan selera makan.


Mulutnya sudah ngiler membayangkan bakso yang kenyal dan kuah yang panas. Di tambah jeruk dan sambal, pasti sedap.


"Hueeek" Tania menahan mual ketika Nero membuka prasmanan set tempat kuah bakso.


"Kenapa sayang?"


"Baksonya bau..." Tania menutup hidung.


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon dapat di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi nomor 081184815


__ADS_1


__ADS_2