Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Malam Pertama


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Ketukan di pintu membuat Tania tersadar dari tidurnya. Dia menggeliat.


Tok ... tok ... tok ....


"Taniaaaa ... Ini tante." Ovi mengetuk pintu pelan. Sedari tadi dia menunggu di luar tapi belum ada jawaban. Padahal sudah ditunggu untuk dirias di acara resepsi.


Mendengar suara ketukan, Tania membuka mata. Dia terbangun. Eh, tapi tunggu dulu, tangan siapa ini yang memeluknya dari belakang? Rasanya tadi tidur sendiri. Dia berbalik dan terkejut setengah mati.


"Om Nero!!"


Nero tersentak. Dia yang masih terlelap, terbangun dengan kaget. Kepalanya terasa pusing.


"Ngapain om di kamarku?!" Teriaknya.


"Om numpang istirahat." Lelaki itu terduduk dipinggir tempat tidur. Nyawanya baru setengah terkumpul, kini harus menerima kemarahan dari istrinya.


"Bohong! Om sengaja ya cari kesempatan!" Wajahnya menunjukkan kemarahan.


"Om ga bohong, cuma ketiduran di sini." Nero membela diri. Kesal juga dia diperlakukan begini. Hey, dia juga menolak perjodohan ini. Siapa juga mau menikahi gadis kecil yang manja? Sekalipun dia sayang sebagai keponakannya, dia tidak pernah bermimpi mempunyai istri remaja yang masih labil.


"Terus, sengaja pake meluk-meluk aku!" Tangannya menunjuk wajah Nero. Di matanya hawa amarah berkilat, seperti hendak membakar lelaki yang ada di depannya.


"Semalaman om juga ga tidur. Apa salah?"


"Bohong. Om sengaja mau manfaatin aku!" geramnya.


"Tania! Om ini suami kamu. Lagian ini juga kamar kita. Om berhak tidur di sini." Nero balas membentak. Mungkin sesekali, gadis ini perlu ditegur. Terlalu manja membuatnya lupa menghormati orang yang lebih tua.


"Tapi aku ga mau tidur sama om." Dia melipat tangannya.


Nero hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tania, kenapa kamu jadi begini kepadaku?


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan terdengar lagi. Nero segera membuka pintu. Dia sudah tidak memperdulikan ocehan Tania.


"Maaf, tante ganggu kalian, ya?" Ovi tersenyum saat masuk dan mendapati bahwa suasana di kamar itu tidak nyaman.


"Tanteeee ..." Tania berlari memeluk Ovi. Dia menangis.


"Kenapa sayang?" Ovi mengelus rambutnya.


"Om Nero. Dia sengaja tidur di sini terus peluk-peluk aku." Gadis itu terisak.


Ovi menatap Nero. Ada rasa kasihan di dalam hatinya melihat Nero yang hanya terdiam. Dia melihat lelaki itu membuang muka dan meremas rambutnya. Menarik napas berkali-kali. Simalakama. Tania juga tidak bisa disalahkan. Gadis itu belum siap.

__ADS_1


"Sudah, jangan nangis. Ayo siap-siap. Kita mau make-up lagi buat acara nanti." Ovi menuntun Tania mengambil sendal.


"Nero sana ke kamar sebelah. Sudah ditunggu." Ovi memberi kode. Lelaki itu mengangguk, kemudian melangkah keluar kamar.


"Awas ya kalau om kalau ke sini lagi. Ini kamarku. Aku ga mau tidur bareng om," ancamnya.


"Nak, kamu engga boleh bilang gitu. Nero itu suamimu." Ovi menegurnya.


"Tania ga mau tante," tangisnya makin menjadi.


"Sudah-sudah. Nero ayo cepat ke sana." Ovi mebgusirnya halus. Semakin lama dia di sini, semakin panjang pula cerita.


Nero mengangguk patuh dan segera keluar kamar. Terserahlah mereka maunya apa, dia akan melakukan semuanya demi Bram, sahabatnya.


* * *


Pesta berlangsung meriah. Bram mengundang ribuan orang. Nero juga. Sedangkan Tania tak mengundang satu orang pun temannya. Dia malu. Lagi pula pernikahan ini berlangsung setelah kelulusan. Jadi, dia sudah tidak perduli dengan teman-temannya.


Tania terlihat cantik sekali dalam balutan gaun pengantin. Ovi mendampingi Bram di kursi pelaminan. Sesekali mendatangi Tania yang terlihat kelelahan. Memberikan semangat kepadanya.


Banyaknya tamu dan foto-foto membuat wajah gadis itu cemberut sepanjang acara. Belum mata yang bengkak karena menangis sepanjang malam. Untung saja make-up bisa menutupinya sedikit.


Dia membantu mengarahkan agar gadis itu selalu tersenyum. Membetulkan letak tangan Nero di pinggangnya saat pemotretan berlangsung, karena Tania tidak mau disentuh suaminya sama sekali.


Pukul sebelas malam semuanya selesai. Seperti tadi pagi, selesai acara Ovi langsung menuntun Tania ke kamar. Bahkan dia sendiri tak memperdulikan Mike dan anaknya. Untunglah mereka mengerti.


"Ayo Nero," ajaknya.


Mata Tania melotot. Nero jadi serba salah.


"Om Nero engga usah ikut!" bentaknya. Ovi hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Tania. Ga boleh gitu. Ini kan malam per ..."


"Ga ada malam pertama. Aku jijik." Dia berlalu pergi meninggalkan semua orang menuju kamarnya. Menghentak-hentakkan kaki melampiaskan kekesalannya. Pengantin macam apa ini?


"Sabar ya, Nero."


"Iya Vi. Engga apa-apa. Kamu temani saja sia di kamar. Aku masih mau bicara dengan Mas Bram." Nero memastikan kepada Ovi bahwa semuanya baik-baik saja.


Wanita itu segera menyusul Tania.


"Loh Nero? Kok kamu ga ke kamar?" Bram mendatanginya. Terlihat bingung melihat tampang Nero yang kusut.


"Anu, Mas ..."


"Kenapa? Mana Tania, kok ga bareng?"

__ADS_1


Duh, Mas Bram ini ga ngerti apa? Sudah jelas Tania membencinya. Masih saja menanyakan itu, batin Nero.


"Tania sudah ke kamar sama Ovi," jawab Nero sekedarnya.


"Yaudah kamu nyusul sana. Ga mau malam pertama?" bisiknya menggoda.


Kuping Nero menjadi panas. Dia menggeleng. "Tania ga mau sekamar sama aku, Mas. Dia marah."


Bram tercengang. "Oh ..." Bram mengangguk mengerti.


"Lagian aku juga engga bakal ngelakuin itu sama dia. Mas ngertilah." Nero menatap Bram.


"Hem ..." Bram termenung, berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Mas ini kayak ga tau aja. Tania benci sama aku." Nero tertunduk lesu.


"Kalau gitu kita cari kamar lain aja, ya. Mas sudah boking hotel ini. Mudahan masih ada yang kosong."


* * *


Tania termenung dikamar. Dia tidak bisa tidur sedari tadi. Pikirannya melayang entah kemana. Mengapa takdirnya seperti ini. Kenapa papa tega. Om Nero juga. Kenapa semua orang berpihak yang sama. Tidak ada yang mengerti perasaannya, keinginannya.


Selama ini dia sudah menuruti keinginan papanya. Mengapa masa depannya pun sudah diatur. Sekolah, les, jalan dengan temannya semua harus sepengetahuan papa. Mengapa kalai ini, jodohnya pun harus dipaksakan?


Jangankan menjadi istri Nero, membayangkan pernikahan saja dia jijik. Dia masih ingin menikmati masa mudanya. Traveling, kuliah, kampus, pacar.


Pacar? Dia bahkan belum sempat merasakan indahnya pacaran. Papa selalu melarang. Mengawasinya ketat. Ke sekolah pun diantar jemput supir. Pergi kemana-mana harus ijin. Sebenarnya ada cowok yang dia sukai, tapi semua pupus sejak dia menikah dengan Nero.


Dia sudah berencana setelah kelulusan akan tour ke Bali bersama sahabatnya. Mereka ingin jalan-jalan sebelum ikut ujian masuk perguruan tinggi.


Dia mengincar salah satu universitas terkenal di sini. Walaupun tidak juara umum, tapi nilainya diatas rata-rata. Dia ingin menjadi dokter, cita-citanya sejak kecil.


Sekarang semuanya kandas. Itu karena Om Nero. Entah apa yang dia bilang sama papa, sampai papa memaksanya menikah dengan laki-laki itu. Sedihnya, tante Ovi pun menyetujuinya. Semua keluarga juga. Tidak ada yang berpihak padanya. Saat melihat cara Nero memandangnya setelah akad nikah tadi, perutnya langsung mual.


Lelaki itu berkali-kali meliriknya dengan wajah memerah. Bahkan saat foto, Nero memeluk pinggangnya erat. Dia ingin menepis tangannya, tapi dilarang tante. Didepan tamu dia harus selalu tersenyum. Berpura-pura bahagia, padahal hatinya sakit. Hidup, apa memang harus begitu?


Bukannya sudah biasa ya, Tania? Kamu bersama dengan Nero? Itu dulu, saat hubungan mereka hanya sebatas paman dan keponakan saja. Sekarang dia tidak mau disentuh Nero.


Dia sudah dewasa walaupun usianya baru delapan belas tahun. Dia tau menikah itu apa. Apa yang suami istri lakukan untuk mendapat keturunan. Walaupun dia belum pernah melakukan, tapi dia tau sistem reproduksi manusia yang dipelajari di sekolah.


Dia tau malam pertama itu apa. Mengingatnya dia menjadi benci pada Nero. Pasti omnya mau melakukan itu padanya. Apalagi ketika dia terbangun dan mendapati Nero memeluknya tadi siang.


Dia tidak rela. Dia tidak mau Nero menyentuhnya. Lelaki itu pasti senang sudah mendapatkannya. Tania tau, Nero juga mengincar perusahaan papa. Dasar licik.


Dia ingin menikah dengan orang yang benar-benar dia cintai. Menjalani pernikahan yang normal seperti pasangan yang lain, bukan karena terpaksa seperti sekarang.


"Tunggu saja. Aku akan membuatmu menyesal menikahiku, Om," batinnya.

__ADS_1


Dia akan mencari cara, agar mereka bisa secepatnya berpisah.


__ADS_2